Senin, 27 Juli 2026 - 11:37 WIB
Jakarta, VIVA – Terbongkarnya skandal korupsi dana pakan dan perawatan satwa di Kebun Binatang Surabaya (KBS) memicu kemarahan publik.
Baca Juga
Anggota Komisi IV DPR RI, Daniel Johan juga mengaku geram terhadap mantan Direktur Utama KBS, Choirul Anwar, yang kini berstatus tersangka usai diduga menilap anggaran negara senilai Rp 10,2 miliar.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Korupsi yang diduga berlangsung sejak 2013 hingga 2024 ini menjadi biang keladi kelaparan, penderitaan, hingga kematian sejumlah satwa ikonik di KBS, seperti gajah Dumbo, harimau Sumatera Melani, hingga orang utan Bety.
Baca Juga
“Siapa yang tidak geram mengetahui ternyata beberapa kejadian ada hewan di KBS yang mati ternyata karena uang pakan dan pemeliharannya dikorupsi. Tindakan pelaku sangat keji dan sadis,” kata Daniel Johan, Senin, 27 Juli 2026.
Daniel lantas menyoroti sisi moral yang sangat kelam dari kejahatan ini. Menurutnya, merampas hak satwa yang tak berdaya adalah bentuk hilangnya rasa kemanusiaan.
Baca Juga
“Bayangkan betapa jahat perbuatan pelaku. Hak hewan saja diambil, betapa pelaku tidak punya hati nurani. Walaupun hewan, mereka adalah makhluk hidup yang punya hak untuk diperlakukan dengan baik,” ungkap Daniel.
Ia menambahkan, hal yang membedakan kasus ini dengan korupsi di sektor pembangunan fisik adalah korbannya yang tidak bisa membela diri.
“Yang paling membuat miris adalah, korupsi dilakukan terhadap hewan, makhluk hidup yang tidak bisa protes saat diperlakukan tidak adil,” tukasnya.
Merespons penetapan tersangka oleh Kejati Jawa Timur, Daniel mendesak agar aparat tidak berhenti pada satu nama. Seluruh jaringan dan pihak yang menikmati aliran dana haram tersebut harus diseret ke meja hijau.
“Pelaku harus mendapat hukuman tegas, dan penegak hukum harus bisa menemukan semua pihak yang bertanggung jawab dalam kasus tersebut,” desak Daniel.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
“Perkara ini harus diusut secara tuntas karena menyangkut bukan hanya kerugian keuangan negara, tetapi juga menyentuh mandat negara dalam melindungi satwa dan menjaga keanekaragaman hayati Indonesia,” tuturnya menambahkan.
Lebih jauh, Daniel menjabarkan bahwa satwa-satwa di lembaga konservasi sangat bergantung pada tata kelola manusia. Keserakahan oknum pengelola secara langsung merusak sistem perlindungan satwa nasional.
Halaman Selanjutnya
“Korupsi dana konservasi bukan sekadar merugikan negara saja tetapi mengancam kelestarian satwa yang dipercayakan kepada negara,” tegasnya.