Laporan FHI: AI tingkatkan kapasitas layanan kesehatan di Indonesia
Senin, 14 September 2026 16:44 WIB
Pemaparan penggunaan kecerdasan buatan (AI) terbukti meningkatkan kapasitas layanan kesehatan serta efisiensi alur kerja tenaga medis di Indonesia. ANTARA/Ist
Yogyakarta (ANTARA) - Royal Philips meluncurkan Future Health Index (FHI) 2026 edisi ke-11 yang menunjukkan bahwa penggunaan kecerdasan buatan (AI) terbukti meningkatkan kapasitas layanan kesehatan serta efisiensi alur kerja tenaga medis di Indonesia
Laporan tersebut mencatat sebanyak 9 dari 10 tenaga kesehatan (88 persen) tenaga kesehatan di Indonesia merasakan peningkatan efisiensi alur kerja dan dua pertiga tenaga kesehatan Indonesia 69 persen di antaranya melaporkan peningkatan kapasitas pelayanan hingga rata-rata empat pasien tambahan per minggu.
Sebanyak 87 persen tenaga kesehatan melaporkan akses yang lebih cepat terhadap hasil diagnosis, sementara 82 persen mengonfirmasi bahwa AI telah mempercepat proses pengambilan keputusan klinis.
Selain itu, 6 dari 10 tenaga kesehatan (59 persen) tenaga kesehatan mengaku berhasil menghemat waktu kerja minimal 88 jam per tahun atau setara lebih dari dua minggu kerja penuh, yang memberikan ruang lebih untuk menelaah kasus secara cermat.
Dari sisi kesejahteraan, dua pertiga tenaga kesehatan Indonesia (67 persen) tenaga kesehatan melaporkan adanya peningkatan keseimbangan kehidupan dan kerja (work-life balance) serta penurunan tingkat stres akibat pemanfaatan teknologi tersebut.
“Diskusi mengenai AI dalam layanan kesehatan di Indonesia kini memasuki babak baru. Pertanyaannya bukan lagi sekadar apakah AI dapat meningkatkan kualitas layanan kesehatan melainkan bagaimana AI telah membantu tenaga kesehatan memiliki lebih banyak waktu, memperkuat pengambilan keputusan, dan membantu mereka memberikan pelayanan kepada lebih banyak pasien,” kata Presiden Direktur Philips Indonesia Astri Ramayanti Dharmawan.
Menurutnya AI perlu terintegrasi dengan alur kerja klinis dan data kesehatan yang tepercaya, didukung oleh peningkatan kapabilitas tenaga kesehatan, serta tetap menempatkan penilaian dan akuntabilitas manusia sebagai inti dari setiap pelayanan kesehatan.
Di sisi lain, sektor swasta juga merasakan dampak positif integrasi teknologi ini dalam transformasi pelayanan kesehatan modern.
“Bagi Siloam, peluangnya bukan sekadar menerapkan lebih banyak teknologi, tetapi mempercepat transformasi Siloam menuju Hospital of the Future yang selalu berfokus pada hasil klinis dan outcome terbaik bagi pasien," kata Presiden Direktur Siloam International Hospitals David Utama.
AI, lanjut dia, membantu tenaga kesehatan mengambil keputusan yang lebih cepat dan tepat, sekaligus menghadirkan lebih banyak waktu untuk interaksi yang bermakna dengan pasien dan dalam visi tersebut, teknologi berperan sebagai enabler yang memperkuat kapabilitas klinis, sementara dokter maupun tenaga kesehatan tetap menjadi pusat pengambilan keputusan serta pemberian layanan bagi pasien.
Menurut David untuk memperluas penerapan AI secara luas dan bertanggung jawab, dibutuhkan kepemimpinan klinis yang kuat, data yang tepercaya dan saling terhubung, tata kelola yang jelas, serta kolaborasi erat di seluruh ekosistem kesehatan.
Meski laju adopsi AI terbilang pesat, laporan tersebut mengingatkan lebih dari separuh (55 persen) tenaga kesehatan masih mengeluhkan terbatasnya pelatihan, sementara 62 persen mencatat belum tersedianya proses pemantauan alat AI yang jelas di fasilitas kesehatan mereka.
Pewarta : N008
Editor:
Nur Istibsaroh
COPYRIGHT © ANTARA 2026