AMBON (ANTARA) - Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Ambon menyiapkan program rehabilitasi bagi warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus narkotika dengan memadukan pemulihan ketergantungan dan pembekalan keterampilan berbasis ketahanan pangan.
Kepala Seksi Bimbingan Narapidana dan Anak Didik (Kasi Binadik) Lapas Ambon Meky Patty di Ambon, Kamis, mengatakan program tersebut dirancang untuk memberikan bekal produktif kepada WBP agar memiliki kemampuan yang dapat dimanfaatkan setelah kembali ke tengah masyarakat dan akan dimulai pada pertengahan Oktober 2026.
"Pendekatan ini kami rancang selaras dengan kebutuhan warga binaan. Selain memulihkan mereka dari ketergantungan narkotika, kami ingin membekali mereka keahlian nyata di bidang ketahanan pangan supaya memiliki bekal kemandirian yang produktif," kata dia.
Sebagai tahap awal, Lapas Ambon melakukan asesmen terhadap tiga WBP kasus narkotika untuk menentukan peserta yang dinilai siap mengikuti program rehabilitasi tersebut.
Dirinya menjelaskan asesmen diperlukan untuk melihat kesiapan mental, motivasi perubahan, perilaku, serta kemampuan WBP dalam mengikuti seluruh tahapan rehabilitasi dan pembinaan.
Menurut dia, program rehabilitasi nantinya diarahkan pada kegiatan produktif melalui pemanfaatan lahan pertanian di lingkungan Lapas Ambon, termasuk budidaya berbagai komoditas hortikultura.
Komoditas yang dikembangkan antara lain kacang panjang, pakcoy, kangkung, cabai rawit, sawi, wortel, hingga selada dengan sistem hidroponik.
"Jadi mereka tidak hanya mendapatkan pendampingan untuk pemulihan, tetapi juga belajar bagaimana mengelola kegiatan pertanian secara langsung, mulai dari proses budi daya sampai menghasilkan komoditas yang bernilai guna," ujarnya.
Hasil pertanian yang dikembangkan tidak hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan internal Lapas Ambon, tetapi juga menjadi bagian dari pembekalan keterampilan bagi WBP.
Keterampilan tersebut diharapkan dapat menjadi modal bagi WBP untuk mengembangkan kegiatan produktif setelah menyelesaikan masa pidana dan kembali ke keluarga maupun lingkungan masyarakat.
"Harapannya mereka tidak hanya pulih, tetapi juga memiliki keterampilan yang bisa dikembangkan menjadi kegiatan produktif setelah bebas. Jadi ada bekal nyata yang bisa mereka manfaatkan untuk hidup mandiri," katanya.
Asesmen dilakukan oleh tim asesor Lapas Ambon melalui observasi perilaku, wawancara mendalam, dan evaluasi psikologis. Tahapan tersebut untuk memetakan kondisi, potensi, serta kesiapan masing-masing WBP sebelum ditetapkan sebagai peserta program.
Kepala Lapas Ambon S. Hendra Budiman mengatakan pembinaan terhadap WBP kasus narkotika perlu diarahkan pada pemulihan sekaligus penguatan kemampuan untuk kembali menjalani kehidupan secara mandiri.
"Lapas bukan sekadar tempat menjalani hukuman, tetapi juga ruang pemulihan dan pembinaan. Karena itu, program rehabilitasi harus memberikan bekal yang bisa membantu warga binaan ketika kembali ke masyarakat," kata Hendra.
Ia mengatakan keterampilan di bidang ketahanan pangan menjadi salah satu pilihan pembinaan yang relevan karena memberikan aktivitas produktif sekaligus membuka peluang bagi WBP untuk mengembangkan kemampuan setelah menyelesaikan masa pidana.
Dengan demikian, kegiatan pertanian di lingkungan Lapas tidak hanya menjadi aktivitas pembinaan selama WBP menjalani masa pidana, tetapi juga diarahkan sebagai sarana menyiapkan keterampilan yang dapat diterapkan setelah mereka kembali ke tengah keluarga dan masyarakat.
Pewarta: Ode Dedy Lion Abdul Azis
Editor : Daniel
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.