Jakarta (ANTARA) - Kreativitas dari buah pikiran manusia dinilai tetap menjadi unsur penting dalam membuat film menggunakan teknologi kecerdasan artifisial (AI).
Pencerita AI sekaligus juri ajang film pendek AI CineFest Immanuel Manurung mengatakan meski pembuatan film menggunakan AI terlihat mudah dari aspek teknis, unsur kreativitas tetap dibutuhkan untuk menghadirkan emosi dan alur cerita yang kuat dalam sebuah film.
"Teknis bukan masalah lagi. Sekarang kakek-nenek kita di rumah juga bisa bikin konten AI dengan teknologi. Tapi yang bisa kasih emosi ke dalam setiap frame, yang bisa atur pace-nya, bahkan sampai editing-nya, itu yang membedakan," kata Immanuel dalam sesi diskusi AI Cinefest di Jakarta, Jumat.
Menurutnya, proses kreatif tidak berhenti pada saat AI menghasilkan gambar atau video. Pembuat film tetap harus melalui tahapan memilih bagian terbaik dari hasil konten buatan AI, menyusun ritme cerita, menyesuaikan musik latar, efek suara, hingga menentukan dialog agar sesuai dengan emosi yang ingin disampaikan.
Ia menilai kemampuan menghubungkan seluruh elemen tersebut menjadi satu kesatuan cerita merupakan nilai tambah yang tidak dapat digantikan oleh AI.
"Proses kurasi seluruh output itu yang kemudian menjadi satu hasil akhir. Ada proses berpikir apakah emosinya sudah masuk, apakah pace ceritanya sesuai dengan backsound atau sound effect, dan menyesuaikan dialognya. Itu yang membuat hasilnya berbeda dari konten AI yang generik," ujarnya.
Baca juga: Bantu promosi, film "Esok Tanpa Ibu" gunakan AI

Hal senada disampaikan Founder Marketplace AI Rifqy Yusuf yang menilai keterampilan paling penting bagi kreator konten AI, termasuk pembuat film, adalah kreativitas.
"Skill yang paling pertama dan paling utama itu skill kreatif. Melihat angle, memasukkan emosi, karena itu yang membedakan dari mesin. Ada nyawa di dalam video itu," kata Rifqy.
Selain kreativitas, ia menilai kemampuan mengurasi juga penting. Menurut dia, kreator perlu berani menyeleksi puluhan hasil gambar atau video yang dibuat AI untuk mendapatkan kualitas terbaik.
"Proses kurasinya itu yang berbeda antara satu kreator dan kreator lain. Banyak yang sudah menghasilkan banyak video, tapi takut memilih atau membuang hasil yang kurang bagus karena merasa sudah mengeluarkan biaya," ujarnya.
Rifqy menambahkan kreator juga perlu memahami karakteristik setiap model AI agar dapat memilih alat yang paling sesuai dengan kebutuhan produksi sekaligus mempertimbangkan biaya yang dikeluarkan.
"Setiap model punya keunggulannya masing-masing. Kreator harus tahu kapan menggunakan model tertentu dan bagaimana menyeimbangkan biaya dengan hasil yang ingin dicapai," katanya.
Baca juga: LSF kaji penggunaan teknologi AI untuk proses penyensoran
Baca juga: Diponegoro Hero, film tema pahlawan yang gunakan teknologi AI
Baca juga: Menbud ajak santri manfaatkan teknologi AI untuk membuat film
Pewarta: Farhan Arda Nugraha
Editor: Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.