Kota kuno Fencheng bangun jembatan budaya dengan Indonesia

2026/10/14

Taiyuan (ANTARA) - Kota Kuno Fencheng di wilayah Xiangfen, Provinsi Shanxi, China utara, yang sebelumnya kurang dikenal, kini tidak hanya menarik perhatian masyarakat China berkat keunikan arsitektur kunonya, tetapi juga mulai dikenal oleh kalangan muda Indonesia melalui pertukaran budaya lintas negara.

Kota kuno tersebut pun menjadi salah satu sarana penting untuk mempererat pertukaran budaya antarmasyarakat China dan Indonesia.

Kota Kuno Fencheng merupakan salah satu contoh langka kota kuno di China yang masih mempertahankan tata ruang dan kehidupan historisnya. Kota ini memiliki kompleks bangunan kuno dari empat dinasti, yakni Jin, Yuan, Ming, dan Qing, serta 23 situs bersejarah yang berharga, termasuk Kuil Konfusius, Kuil Dewa Pelindung Kota, Kuil Dewa Tanah dan Hasil Bumi, serta Jembatan Hongji. Peninggalan tersebut menyimpan warisan budaya ribuan tahun dari bagian selatan Provinsi Shanxi sekaligus mencerminkan kearifan arsitektur masyarakat pada masa lampau.

Sebelumnya, demi melindungi dan memugar peninggalan budaya, sebagian besar bangunan kuno tersebut ditutup untuk umum selama bertahun-tahun, sehingga pesona sejarahnya tersembunyi di tengah kehidupan masyarakat setempat.

Pada 2024, kota kuno ini mulai dikenal luas setelah gim populer "Black Myth: Wukong" menjadi fenomena.

ANTARA/Xinhua

Berkat upaya revitalisasi dan pemanfaatan warisan budaya, Kota Kuno Fencheng resmi dibuka untuk pengunjung pada Oktober 2024.

Pemerintah setempat menyesuaikan layanan dengan kondisi lokal, memanfaatkan ruang-ruang yang sebelumnya tidak terpakai untuk mendukung mobilitas wisatawan, serta secara rutin menyelenggarakan pertunjukan warisan budaya takbenda dan pasar rakyat yang khas.

Selama kegiatan tersebut, berbagai karya seni tradisional Shanxi juga diperkenalkan, termasuk roti kukus hias berbentuk beragam, gambar Tahun Baru cetak cukil kayu, seni gunting kertas, serta kerajinan kertas lipat fanhua.

Berfokus pada pengetahuan akademis dan berbagi budaya, kegiatan ini menampilkan keterampilan tinggi di balik arsitektur kuno China sekaligus hasil nyata upaya pelestarian yang tetap menghidupkan warisan budaya tersebut. Melalui kegiatan ini, budaya tradisional unggulan China semakin dikenal di Indonesia, sementara masyarakat di luar negeri memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang kota kuno berusia lebih dari seribu tahun yang masih hidup.

Berbagai kegiatan tersebut memadukan bangunan kuno berusia ratusan tahun dengan kehidupan dan budaya lokal yang masih lestari. Kini, kota kuno tersebut telah memperoleh pengakuan sebagai objek wisata tingkat 3A di China dan menerima total 271.000 kunjungan wisatawan pada paruh pertama 2026.

Seiring dengan meningkatnya popularitas wisata budaya, Kota Kuno Fencheng juga aktif membangun jembatan pertukaran budaya antara China dan Indonesia. Pada 2 Desember 2025, pihak pengelola pariwisata dan kebudayaan setempat menggelar kuliah umum secara daring bersama Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin (Unhas) di Makassar, yang secara khusus memperkenalkan warisan arsitektur kuno Fencheng kepada mahasiswa Indonesia.

Dengan Kuil Konfusius Fencheng sebagai fokus utama, pemaparan tersebut mengulas beragam detail arsitektur, mulai dari ukiran kayu di Aula Dacheng dan batu alas tiang yang indah hingga kolam setengah lingkaran (panchi), patung singa batu di Jembatan Zhuangyuan, Gerbang Lingxing, dan Menara Kuixing. Penjelasan yang menarik itu mendapat sambutan meriah dari para dosen dan mahasiswa Universitas Hasanuddin, sehingga kaum muda Indonesia dapat mengenal keunikan arsitektur kuno di bagian selatan Provinsi Shanxi secara daring.

ANTARA/Xinhua

Mahasiswa internasional dari Vietnam dan negara-negara Asia Tenggara lainnya juga memasukkan Kota Kuno Fencheng sebagai salah satu tujuan penting dalam kegiatan pembelajaran lapangan. Mereka membuat sendiri roti kukus Tahun Baru khas Shanxi yang merupakan bagian dari warisan budaya takbenda dan mencicipi hidangan khas setempat. Melalui beragam kegiatan tersebut, mereka memperdalam pemahaman tentang sejarah China dan merasakan kekayaan budaya arsitektur kunonya.

Pengembangan wisata budaya juga secara nyata meningkatkan pendapatan masyarakat setempat. Sejumlah warga yang selama bertahun-tahun bekerja di luar daerah kini kembali ke kota kuno tersebut untuk mengembangkan produk kreatif dan budaya lokal serta berpartisipasi dalam industri budaya.

Penerjemah: Xinhua
Editor: Alviansyah Pasaribu
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.