Karaci (ANTARA) - Korea Selatan akan melanjutkan kembali pembangunan jalur kereta api, yang menghubungkan Seoul dengan Kota Wonsan di bagian timur Korea Utara, untuk menghidupkan kembali proyek yang terhenti selama satu dekade akibat hubungan yang membeku dengan Pyongyang.
Kementerian Unifikasi Korea Selatan mengatakan dalam sebuah rapat kepada Presiden Lee Jae Myung, Rabu, bahwa pekerjaan konstruksi itu dijadwalkan mulai 2027 dan selesai pada 2029, menurut laporan Yonhap.
Proyek tersebut telah diluncurkan pada 2015, tetapi ditangguhkan pada 2016 setelah hubungan lintas batas itu memburuk.
Pada 2024, Korea Utara menghancurkan jalur jalan raya dan kereta api di sepanjang perbatasan yang dijaga ketat sebagai bagian dari upayanya untuk mendefinisikan ulang Korea Selatan sebagai negara musuh.
Dalam pemaparan tersebut, kementerian juga menyampaikan rencana kebijakan utama yang berfokus pada penyelesaian konflik secara damai, pengelolaan krisis, serta dorongan jangka panjang menuju Semenanjung Korea yang bebas senjata nuklir dan terciptanya perdamaian di Asia Timur Laut.
Baca juga: Adik Kim Jong Un sebut AS buat Asia Pasifik kawasan paling bahaya
Kementerian itu juga mengemukakan perlunya menghentikan penyebutan Korea Utara sebagai "musuh utama" tidak lagi digunakan untuk sebagai bagian dari langkah membangun hidup berdampingan secara damai dengan Pyongyang dan menghidupkan kembali hubungan Semenanjung Korea yang telah lama membeku.
Saat ini, Korea Selatan menggunakan sebutan "Korea Utara" alih-alih nama resminya, karena Seoul tidak mengakui ada dua Korea sebagai dua negara yang terpisah berdasarkan Perjanjian Dasar Antar-Korea 1991.
Selain itu, kementerian ingin menghidupkan kembali perjanjian pengurangan ketegangan militer antar-Korea yang disepakati pada 2018 serta memanfaatkan Zona Demiliterisasi (DMZ) yang memisahkan "dua Korea" secara lebih damai.
Kementerian tersebut akan merevisi aturan Dana Kerja Sama Antar-Korea agar memungkinkan penggunaan anggaran untuk pembangunan zona ekonomi perdamaian, proyek unifikasi yang diprakarsai sektor swasta, serta penelitian mengenai Korea Utara.
Sumber: Anadolu
Baca juga: Seoul tetapkan peringatan gelombang panas tingkat tertinggi
Baca juga: Korut tuding AS ciptakan "krisis keamanan baru" di Asia-Pasifik
Penerjemah: Kuntum Khaira Riswan
Editor: Fransiska Ninditya
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.