Liputan6.com, Tokyo - Korea Utara kembali menembakkan rudal balistik ke arah laut pada Sabtu (3/10/2026). Demikian menurut militer Korea Selatan.
Peluncuran itu menambah rangkaian uji coba senjata Pyongyang dalam beberapa pekan terakhir, di tengah meningkatnya ketegangan antara kedua Korea setelah ledakan ranjau di perbatasan melukai tiga tentara Korea Selatan.
Kepala Staf Gabungan Korea Selatan mengatakan rudal tersebut diluncurkan dari wilayah Wonsan di pesisir timur Korea Utara dan meluncur sejauh lebih dari 700 kilometer. Militer Korea Selatan dan Amerika Serikat (AS) masih menganalisis rincian peluncuran tersebut.
Kementerian Pertahanan Jepang mengatakan rudal itu jatuh di luar zona ekonomi eksklusif Jepang.
Mengutip laporan Associated Press, militer Korea Selatan meningkatkan pengawasan dan kesiapsiagaan untuk mengantisipasi kemungkinan peluncuran berikutnya dari Korea Utara.
Kantor Keamanan Nasional Kepresidenan Korea Selatan mendesak Korea Utara segera menghentikan peluncuran rudal balistik yang berulang. Seoul menyebut tindakan tersebut melanggar sanksi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) dan merupakan "tindakan serius yang sama sekali tidak membantu dalam menangani situasi saat ini".
Komando Pasifik AS menyatakan peluncuran tersebut "tidak menimbulkan ancaman langsung terhadap personel atau wilayah AS maupun sekutu-sekutunya".
Peluncuran rudal ini dilakukan sehari setelah Kim Yo Jong, adik perempuan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un, mengejek tuntutan Korea Selatan agar Pyongyang meminta maaf atas ledakan ranjau pada 21 September.
Ledakan terjadi sekitar 10 meter di sebelah selatan garis demarkasi militer yang memisahkan kedua Korea.
Korea Selatan mengatakan pemeriksaan bersama di lokasi kejadian dengan Komando PBB yang dipimpin AS menemukan bahwa ledakan tersebut berasal dari ranjau yang dipasang Korea Utara.
Komando itu kemudian menyatakan Korea Utara telah melanggar perjanjian gencatan senjata yang menghentikan pertempuran dalam Perang Korea 1950-1953.
Korea Selatan juga meminta Korea Utara menghentikan upaya memperkuat kawasan perbatasan, termasuk pemasangan ranjau dan penghalang antitank.
Pembangunan pertahanan di perbatasan itu semakin gencar setelah Kim Jong Un pada 2024 meninggalkan kebijakan lama pemerintahannya yang mengarah pada rekonsiliasi dengan Korea Selatan dan menyatakan Seoul sebagai musuh permanen.
Kim Yo Jong, adik Kim Jong Un yang dipandang sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh di Pyongyang, pada Jumat (2/10) menyebut tuntutan Seoul terkait ledakan ranjau tersebut sebagai sesuatu yang "sangat menyedihkan".
Ia mengatakan Korea Utara berniat memutus hubungan dengan Korea Selatan untuk selamanya.
Dalam pernyataan sebelumnya, Kim Yo Jong membantah Korea Utara bertanggung jawab atas ledakan tersebut. Ia juga mengancam akan membalas jika Korea Selatan menembaki pasukan Korea Utara yang sedang memperkuat kawasan perbatasan.