Komika John Yewen Wujudkan Mimpi Mendiang Ibunda lewat Film Suanggi: Ilmu Kutukan

2026/09/03

Liputan6.com, Jakarta - Komika asal Papua, John Yewen, tampil berbeda dalam film horor berjudul Suanggi: Ilmu Kutukan. Di film besutan sutradara Dom Dharmo ini, Yewen memerankan karakter Bapa John, seorang pastor.

Yewen mengaku langsung menerima tawaran karakter itu bahkan sebelum membaca skenario secara lengkap. Ia menjelaskan bahwa keputusan tersebut didasari kecintaannya terhadap budaya Suanggi yang menjadi latar utama cerita film.

“Saya sebelum membaca skrip, saya udah tanda tangan kontrak. Saking saya merasa i love Suanggi. Saya tidak tahu akan jadi seorang Bapa John. Di film inilah kalian bisa lihat saya sangat dekat dengan Tuhan. Ketika saya lihat skrip saya jadi Bapa John, wow, saya harus keluar dari dunia saya,” ujar John Yewen di XXI Epicentrum, Jakarta Selatan, Senin (31/8/2026).

Bagi Yewen, peran Bapa John bukan sekadar pekerjaan profesional di depan kamera. Karakter tersebut juga menjadi salah satu bentuk tercapainya cita-cita yang pernah diharapkan oleh mendiang ibunya.

“Sebenarnya menjadi pastor adalah cita-cita yang diinginkan mama untuk Yewen dan akhirnya tercapai walau hanya akting. Namun, Yewen yakin Mama bangga jika ia masih ada dan bisa melihat Yewen di film ini,” ungkapnya.

Riset Menjadi Bapa John

Komika John Yewen Wujudkan Mimpi Mendiang Sang Ibu Lewat Film Suanggi: Ilmu Kutukan

Perbesar

Komika John Yewen. (M Altaf Jauhar/ Liputan6.com)

Untuk mendalami karakter tersebut, Yewen melakukan berbagai riset dan rutin mengunjungi tempat ibadah. Ia juga bertemu dengan sejumlah pemuka agama untuk memahami sosok pastor yang diperankannya.

“Di sini saya emang benar benar saya harus jadi Bapa John, yang harus keluar dari komika. Ketika baca saya harus yakin, harus rajin ke gereja, berjumpa dengan beberapa uskup. Menurut saya jadi Bapa John itu bukan pilihan, tapi tujuan,” jelasnya.

Sutradara Dom Dharmo juga memberikan kebebasan kepada para pemain untuk mengeksplorasi karakter masing-masing berdasarkan riset budaya yang dilakukan. Menurutnya, keterlibatan pemain asli Indonesia Timur memberikan warna sekaligus jiwa tersendiri bagi film horor yang mengangkat kisah Suanggi tersebut.

"Indonesia memiliki kekayaan cerita rakyat yang luar biasa dan layak mendapat ruang lebih luas di industri kreatif. Kami menelusuri tentang Suanggi dan mencoba memadukan bagaimana budaya Indonesia Timur ini punya nilai universal yang dapat dinikmati siapa saja se-Nusantara karena film ini juga bicara tentang keluarga, kepercayaan, ketakutan, dan perjuangan manusia," tutur Dom Dharmo.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6