Yang paling dasar, fasilitas rantai dingin bagi nelayan bisa berupa boks pendingin (cold box) yang bisa dibawa nelayan ketika melaut.
Jakarta (ANTARA) - Ketua Umum Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Dani Setiawan mendorong pengembangan sistem rantai dingin (cold chain) yang terintegrasi dari laut hingga pasar untuk meningkatkan nilai ekonomi hasil tangkapan sekaligus memperluas manfaatnya bagi nelayan kecil.
“Yang paling dasar, fasilitas rantai dingin bagi nelayan bisa berupa boks pendingin (cold box) yang bisa dibawa nelayan ketika melaut. Termasuk penyediaan pasokan es di wilayah-wilayah dekat tempat sandar nelayan kecil,” kata Dani kepada ANTARA di Jakarta, Senin.
Dani mengatakan KNTI mendorong agar pembangunan rantai dingin dirancang dengan memastikan akses dan manfaatnya sampai kepada nelayan kecil.
Ia mengatakan sistem rantai dingin yang terintegrasi bisa mulai dari nelayan saat melaut, penyediaan es di tempat pendaratan ikan nelayan kecil atau TPI, dan juga mobil pendingin agar ikan bisa langsung didistribusikan ke pasar ikan atau industri pengolahan.
Sebagian hasil tangkapan juga dapat diarahkan untuk memenuhi kebutuhan bahan baku industri pengolahan ikan milik masyarakat, khususnya usaha mikro dan kecil. Dengan demikian, rantai dingin tidak hanya mendukung distribusi ikan, tetapi juga membuka peluang peningkatan nilai tambah di tingkat lokal.
“Dengan model seperti ini, cold chain tidak hanya menjadi infrastruktur untuk memperlancar distribusi ikan bagi industri besar, tetapi juga menjadi instrumen untuk memperkuat posisi tawar dan meningkatkan nilai ekonomi hasil tangkapan nelayan kecil,” ujar Dani.
Dia juga merekomendasikan pembangunan cold chain perlu menggunakan pendekatan berbasis sentra produksi dan kebutuhan nelayan.
Menurutnya, fasilitas tersebut harus ditempatkan di lokasi yang dekat dengan aktivitas pendaratan dan terhubung dengan jalur distribusi serta pasar, sehingga kapasitas yang dibangun benar-benar terpakai.
Pada saat yang sama, nelayan kecil perlu menjadi pengguna sekaligus bagian dari tata kelola sistem tersebut, agar manfaat ekonomi dari rantai dingin tidak berhenti pada penyedia jasa logistik atau industri besar, tetapi ikut meningkatkan pendapatan dan daya tawar nelayan.
Dani menilai penguatan rantai pasok perikanan dapat memberikan dampak ekonomi yang nyata. Studi Bank Dunia pada 2025 mengenai perikanan Indonesia menunjukkan investasi pada cold storage, fasilitas pengolahan, dan pasar ikan berpotensi meningkatkan pendapatan nelayan sekitar 23-47 persen.
Dani menekankan angka tersebut merupakan dampak investasi rantai pasok secara lebih luas, bukan peningkatan pendapatan yang secara otomatis diperoleh nelayan dari fasilitas cold chain.
Namun, dengan temuan tersebut dapat menjadi indikasi besarnya manfaat ekonomi yang dapat diperoleh dari pembenahan rantai pasok perikanan.
Dengan sistem yang terintegrasi, Dani menilai manfaat ekonomi dari penguatan rantai dingin dapat menjangkau lebih banyak pelaku di sepanjang rantai pasok. Nelayan memperoleh akses fasilitas dan pasar yang lebih baik, sementara hasil tangkapan memiliki peluang untuk mendapatkan nilai tambah lebih tinggi melalui distribusi dan pengolahan yang lebih terjaga.
Baca juga: Rokhmin: KNMP perlu gunakan rantai dingin jaga daya saing ekspor ikan
Baca juga: KNTI sebut cold chain bisa bantu stabilkan harga ikan nelayan
Pewarta: Fitra Ashari
Editor: Budisantoso Budiman
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.