Jakarta (ANTARA) - Dokter spesialis anak subspesialis respirologi Dr. dr. Nastiti Kaswandani, Sp.A, Subsp.Resp membagikan kiat yang bisa dilakukan dalam mengurangi risiko infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) terutama yang muncul di musim kemarau.
Kepada ANTARA di Jakarta, Jumat, Nastiti mengatakan bahwa udara panas dan kering yang terjadi ketika musim kemarau dapat berdampak pada kesehatan saluran pernapasan, terlebih jika asupan cairan dalam tubuh kurang mencukupi hingga mengalami dehidrasi. Akibatnya, mukosa atau selaput lendir di dalam saluran napas ikut menjadi kering.
“Saluran selaput lendir di saluran napas anak itu berfungsi untuk memfilter atau menyaring bahan-bahan yang masuk ke dalam saluran napas, termasuk bakteri, virus, kemudian juga polutan. Sehingga kalau fungsi dari selaput lendir ini berkurang, maka tentu akan risiko terjadinya ISPA,” kata Nastiti.
Baca juga: Waspadai risiko penyakit pernapasan selama musim kemarau
Dokter yang praktik di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo itu menyampaikan rendahnya curah hujan pada musim kemarau itu juga membuat debu dan polutan-polutan lebih mudah beterbangan di udara sehingga berisiko lebih banyak terhirup paparan tersebut dapat meningkatkan risiko ISPA.
“Seringkali di awal-awal musim kemarau itu kan terjadi perbedaan suhu yang besar ya. Perbedaan panas di siang hari dan dingin di malam hari yang ekstrem ini juga bisa memengaruhi daya tahan tubuh anak sehingga mudah terkena ISPA,” tutur dia.
Nastiti mengatakan meski kondisi lingkungan di luar rumah yang tidak bisa dikontrol, risiko terpapar polutan yang memicu gangguan pernapasan termasuk ISPA bisa dikurangi dengan membatasi aktivitas di luar, terutama ketika udara sedang kering, berdebu, atau dipenuhi polutan.
Baca juga: Pakar paru ingatkan cuaca panas berlebihan tingkat risiko ISPA
“Bisa melihat dari indeks kualitas udara ya atau air quality index-nya buruk itu sekarang banyak aplikasinya untuk melihat, kalau kita lihat kualitas udaranya memburuk sebaiknya batasi. Kalau harus keluar rumah saat udara di luar kurang ideal, kita sebisa mungkin untuk menggunakan masker jika keluar rumah,” ujar dokter yang tergabung Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) itu.
Perlindungan diri mengurangi risiko gangguan pernapasan seperti ISPA, kata Nastiti, juga bisa dengan menerapkan perilaku hidup bersih sehat seperti mencuci tangan dengan sabun, menerapkan etiket batuk agar penularan penyakit dapat dicegah.
Selain itu, penting dalam aspek pencegahan adalah meningkatkan daya tahan tubuh dengan mengonsumsi makanan yang bergizi, istirahat yang cukup sehingga ketika ada serangan ISPA maka imunitas tubuh cukup baik dalam menghadapinya.
Baca juga: DKI diminta siapkan pelayanan kesehatan untuk antisipasi ISPA
“Yang paling penting memang minum yang cukup. Hidrasi yang cukup, jangan sampai tubuh dalam kondisi dehidrasi. Karena dengan menjaga hidrasi yang baik, maka selain kita terhindar dari dehidrasi, selaput lendir yang melindungi saluran napas kita menjadi tetap lembab dan tetap berfungsi baik dalam melawan partikel-partikel yang masuk ke dalam saluran napas,” tutur dia.
Nastiti mengatakan menjaga daya tahan tubuh saat musim kemarau dapat dilakukan dengan mengonsumsi makanan bergizi seimbang yang terdiri atas protein, karbohidrat, sayuran, dan buah-buahan, seperti yang mengandung vitamin C dan A yang bermanfaat untuk memperbaiki selaput atau sel-sel di saluran napas.
“Kita tetap harus menjaga udara yang ideal di dalam rumah, hindari asap rokok dan polusi udara di dalam rumah yang utamanya datangnya dari asap rokok atau dari asap mungkin masakan, atau bakaran sampah di rumah, dan hal-hal lain yang sebetulnya kita bisa mengendalikan,” imbuh dia.
Baca juga: Rekomendasi IAKMI untuk menjaga kesehatan selama fenomena El Nino
Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat dan pemangku kepentingan untuk mewaspadai ancaman kesehatan masyarakat, seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), selama berlangsungnya musim kemarau tahun ini.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (30/7) menyampaikan minimnya tutupan awan selama musim kemarau memicu peningkatan suhu udara secara terik di berbagai wilayah. Penurunan kualitas udara akibat debu dan potensi asap kebakaran selama kemarau turut meningkatkan paparan penyakit pernapasan.
Baca juga: Kiat mengurangi gejala infeksi saluran pernapasan
Pewarta: Sri Dewi Larasati
Editor: Siti Zulaikha
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.