Kiat membantu orang dengan masalah kesehatan mental
Sabtu, 10 Oktober 2026 14:15 WIB
Psikolog memberikan layanan konsultasi kepada pasien di Puskesmas Ibrahim Adjie, Bandung, Jawa Barat, Rabu (13/5/2026). (ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi/agr)
Jakarta (ANTARA) - Psikolog anak, remaja, dan keluarga Efnie Indrianie, S.Psi, M.Psi, Psikolog menyampaikan hal-hal yang sebaiknya dilakukan dan dihindari dalam upaya untuk membantu orang yang sedang menghadapi masalah kesehatan mental.
Kepada ANTARA di Jakarta, Sabtu, ia mengatakan bahwa ketika seseorang mulai membuka diri mengenai masalah kesehatan mentalnya, sesungguhnya ia sedang menunjukkan sebuah bentuk kepercayaan yang sangat besar.
"Respons pertama kita akan sangat menentukan apakah ia merasa aman untuk melanjutkan ceritanya atau justru kembali menutup diri," kata Efnie, yang tergabung dalam Asosiasi Neuropsikologi Indonesia - Himpunan Psikologi Indonesia.
Ketika seseorang menceritakan masalah kesehatan mentalnya, ia mengatakan, pihak yang diajak berbicara sebaiknya mendengarkan dengan baik, memberikan perhatian penuh, tidak memotong pembicaraan, dan tidak bersegera menawarkan solusi.
Menurut Efnie, pihak yang diajak berbicara perlu memberikan validasi emosional kepada orang yang menceritakan masalahnya.
Memberikan validasi bukan berarti menyetujui menyetujui semua pemikiran atau perilaku pihak yang menyampaikan masalah, tetapi mengakui bahwa pengalaman emosionalnya nyata dan layak dipahami.
Efnie mencontohkan beberapa kalimat yang bisa disampaikan untuk menyampaikan validasi emosi, seperti "Terima kasih sudah percaya dan mau cerita", "Aku bisa membayangkan ini bukan situasi yang mudah buat kamu", "Kamu tidak harus menghadapi semuanya sendirian", "Aku ada di sini kalau kamu membutuhkan teman", atau "Menurut kamu, apa yang paling bisa aku bantu sekarang?"
Selain itu, menurut Efnie, perlu pula menawarkan dukungan sesuai kebutuhan dengan menanyakan apakah orang yang sedang menghadapi masalah ingin didengarkan, membutuhkan bantuan untuk mencari solusi, atau memerlukan pendamping untuk mendapatkan pertolongan profesional.
"Tidak semua orang membutuhkan jawaban ketika sedang bercerita. Terkadang, yang paling mereka butuhkan adalah seseorang yang mampu mendengarkan tanpa menghakimi, memahami tanpa membandingkan, dan menemani tanpa memaksa," katanya.
Baca juga: Psikolog: Keluarga berperan penting dalam pemulihan kesehatan mental
Efnie mengatakan bahwa ada ucapan-ucapan yang sebaiknya tidak disampaikan kepada orang menceritakan masalah kesehatan mentalnya.
Ucapan-ucapan yang perlu dihindari antara lain "terlalu berlebihan", "jangan terlalu dipikirkan", "orang lain masalahnya lebih berat", "kurang bersyukur", "harus kuat, jangan lemah", "sudahlah, berpikir positif saja", atau "Itu cuma ada di pikiran kamu."
Penyampaian ucapan-ucapan semacam itu, menurut Efnie, bisa membuat orang yang sedang menghadapi masalah merasa pengalaman emosionalnya tidak diakui atau dianggap tidak pantas.
"Kalimat-kalimat tersebut mungkin disampaikan dengan maksud baik, tetapi dapat membuat seseorang merasa emosinya disepelekan dan pengalamannya tidak dipahami," katanya.
Akibatnya, dosen di Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha itu melanjutkan, individu yang sedang mengalami masalah kesehatan mental bisa semakin enggan bercerita, merasa sendirian, atau memilih menyembunyikan kondisi.
Efnie juga menekankan pentingnya menjaga kerahasiaan cerita orang yang sedang mengalami masalah kesehatan mental, kecuali jika mendapati risiko serius terhadap keselamatan dirinya atau orang lain.
Kalau ada orang yang mengungkapkan keinginan untuk mengakhiri hidup, ia melanjutkan, maka pihak yang diajak berbicara perlu menanyakan langsung apakah orang yang bersangkutan punya pikiran untuk bunuh diri dan kemudian membantu menghubungkannya dengan tenaga profesional atau layanan darurat.
Apabila mendapati tanda-tanda bahaya, maka orang yang sedang menghadapi masalah kesehatan mental sebaiknya tidak dibiarkan sendirian.
Baca juga: Kenali tanda-tanda masalah kesehatan mental
Bertepatan dengan Hari Kesehatan Mental Sedunia tanggal 10 Oktober, Efnie menyampaikan bahwa kesehatan mental bukan hanya tentang bagaimana seseorang mampu bertahan menghadapi tekanan hidup, tetapi juga bagaimana lingkungan di sekitarnya memberikan ruang aman untuk bertumbuh dan pulih.
Dia mengajak semua orang untuk belajar menjadi keluarga, sahabat, dan teman yang tidak hanya hadir ketika seseorang sedang bahagia, tetapi tetap bersamanya ketika dia sedang kehilangan kekuatan.
"Karena, terkadang satu orang yang benar-benar mau mendengarkan dapat menjadi awal dari perjalanan panjang seseorang menuju pemulihan," katanya.
"Dan ingat, kita tidak harus selalu menjadi penyelesai masalah dalam kehidupan orang lain. Terkadang, cukup menjadi tempat yang aman bagi mereka untuk merasa, didengar, dan diterima," demikian Efnie Indrianie.
Baca juga: Hal-hal yang perlu dilakukan untuk jaga kesehatan mental
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Kiat membantu orang dengan masalah kesehatan mental
Pewarta : Sri Dewi Larasati
Editor:
Wening Caya Ing Tyas
COPYRIGHT © ANTARA 2026