Keraton Surakarta bersiap gelar Haul ke-18 PB XII

2026/10/02

Keraton Surakarta bersiap gelar Haul ke-18 PB XII

Jumat, 2 Oktober 2026 17:24 WIB

Image Print

Kegiatan Keraton Surakarta Hadiningrat di Solo, Jawa Tengah, beberapa waktu lalu. ANTARA/Aris Wasita

Solo (ANTARA) - Keraton Surakarta Hadiningrat bersiap menggelar peringatan Haul ke-18 Sinuhun Pakubuwono XII (PB XII) di Solo, Jawa Tengah, Minggu (4/10).

Berbeda dari pelaksanaan di kawasan utama keraton, tahlilan tahun ini dipusatkan di Siti Hinggil sebelum dilanjutkan dengan tradisi nyekar ke Kompleks Pemakaman Raja-Raja Pajimatan Imogiri, Bantul, Senin (5/10).

Pengageng Sasana Wilapa sekaligus Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) Karaton Surakarta GKR Koes Moertiyah Wandansari (Gusti Moeng) menjelaskan perpindahan lokasi ke Siti Hinggil dilakukan karena area inti keraton tengah menjalani penataan skala besar.

“Di Siti Hinggil tahlilan dimulai jam 11 siang setelah azan Zuhur," tutur Gusti Moeng, Jumat.

Ia menambahkan penataan tersebut mencakup inventarisasi serta penyatuan benda-benda bersejarah, termasuk gamelan dan koleksi museum, sebagai bagian dari program revitalisasi kawasan keraton. Penggunaan Siti Hinggil sendiri bukan hal baru dan kerap menjadi alternatif saat akses area dalam keraton terbatas.

Rangkaian acara diawali pada Minggu pagi dengan paparingan ganjaran pangkat sesepuhan (pemberian dan kenaikan pangkat) bagi para abdi dalem yang telah berkontribusi dalam berbagai agenda keraton, termasuk pada prosesi Jumenengan Sinuhun Pakubuwono XIV. Acara kemudian dilanjutkan tahlil bersama para sentono dan abdi dalem.

Keesokan harinya, rombongan keluarga besar keraton dijadwalkan bertolak ke Imogiri sekitar pukul 11.00 WIB untuk melakukan ziarah kubur. Tradisi saban tahun ini digelar untuk mendoakan almarhum PB XII yang wafat pada tahun 2004 silam.

Sementara itu, dikatakannya, peringatan haul kali ini tidak sekadar menjadi ritual doa dan penghormatan leluhur, tetapi juga momentum untuk menyuarakan kembali amanat sejarah PB XII.

Gusti Moeng mengungkapkan salah satu pesan mendalam dari sang ayah hingga akhir hayatnya adalah keinginan agar Daerah Istimewa Surakarta (DIS) memiliki legalitas resmi dan diundangkan oleh pemerintah pusat.

“Beliau waktu mau wafat memberikan pesan supaya Daerah Istimewa Surakarta itu bisa diundangkan. Sampai beliau wafat, surat (payung hukum) itu belum terwujud,” kenang Gusti Moeng.

Di tengah proses revitalisasi fisik keraton yang sedang berlangsung, peringatan Haul ke-18 PB XII menjadi pengingat penting bahwa warisan keraton tidak semata-mata berupa artefak dan bangunan fisik, melainkan juga memuat amanah pemikiran, gagasan sejarah, serta nilai-nilai perjuangan yang terus dijaga oleh para generasi penerusnya.

Pewarta: Aris Wasita
Editor: Edhy Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.