Depok (ANTARA) - Kepala Badan Pengendalian Pembangunan dan Investigasi Khusus (BAPPISUS) Aris Marsudiyanto meraih gelar Doktor dari Program Studi Kajian Stratejik dan Global, Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan Universitas Indonesia (SPPB UI), usai berhasil mempertahankan disertasinya dalam Sidang Terbuka Promosi Doktor di Balai Sidang Kampus UI Depok, pada Kamis (1/10).
Di hadapan dewan penguji, Aris memaparkan penelitian doktoralnya yang berjudul “Celah Fiskal dan Pembiayaan Alternatif Pertahanan Indonesia Pascaperang Rusia–Ukraina”.
“Persoalan pembiayaan pertahanan kita bukan sekadar akibat kecilnya anggaran, melainkan hasil ketidakselarasan persisten antara kebutuhan strategis dan kemampuan aktual negara. Karena itu, Indonesia harus bertransisi dari pendekatan berbasis anggaran menuju kombinasi pembiayaan berbasis industri dan investasi yang lebih adaptif tanpa mengabaikan prinsip kehati-hatian fiskal,” jelas Aris dalam keterangannya, Jumat.
Penelitian tersebut menyoroti bagaimana dinamika konflik global—khususnya Perang Rusia–Ukraina sejak Februari 2022—persaingan strategis di kawasan Indo-Pasifik, serta perkembangan ancaman lintasdomain memicu reorientasi belanja militer global sekaligus memperlebar fiscal gap atau celah fiskal pertahanan Indonesia akibat keterbatasan alokasi APBN yang masih berkisar 0,7–0,8 persen dari PDB.
Guna membedah persoalan tersebut, penelitian ini membangun sintesis kerangka pemikiran yang menghubungkan neorealisme defensif, teori kebijakan fiskal, dan fiscal gap theory.
Neorealisme defensif menjelaskan urgensi penguatan pertahanan di tengah ancaman global, sedangkan teori kebijakan fiskal dan fiscal gap theory memperlihatkan bagaimana negara dibatasi oleh struktur penerimaan, pilihan anggaran, serta jurang pembiayaan yang bersifat struktural.
Pengujian hipotesis dan perumusan model pembiayaan dilakukan melalui Explanatory Sequential Mixed Methods yang mengombinasikan Difference-in-Differences, pemodelan statistik ARIMA, wawancara mendalam, dan analisis dokumen.
Hasil analisis data membuktikan bahwa masalah pembiayaan pertahanan Indonesia merupakan persoalan interaksi antara tekanan sistem internasional dan keterbatasan fiskal domestik.
Sebagai solusi konkret atas fiscal gap tersebut, penelitian ini merekomendasikan model empat skema pembiayaan alternatif pelengkap APBN yang mencakup optimalisasi Public-Private Partnership (PPP/KPBU) secara selektif pada fungsi pendukung, investasi korporasi pada sektor dual-use, penerapan kebijakan offset dan transfer teknologi, serta penguatan integrasi rantai pasok industri pertahanan melalui holding BUMN DEFEND ID.
Seluruh instrumen pembiayaanalternatif ini wajib memenuhi prinsip akuntabilitas, value for money, dan pengendalian risiko fiskal tanpa mengurangi kontrol penuh negara atas fungsi inti pertahanan.
Kebaruan (novelty) dari riset doktoral ini terletak pada formulasi model integratif yang menghubungkan secara komprehensif antara dinamika ancaman strategis, doktrin militer,
kapasitas fiskal domestik, hingga pilihan instrumen pembiayaan alternatif.
Model integratif tersebut dinilai krusial oleh Ketua Sidang, Prof. Dr. Drs. Supriatna, M.T., dan jajaran dewan penguji karena menyajikan pijakan ilmiah yang realistis, berkelanjutan, dan adaptif bagi pengambil kebijakan nasional dalam merespons ketidakpastian geopolitik global tanpa mengabaikan ketahanan fiskal negara.
Melalui hasil penelitian ini, Aris berharap model empat skema pembiayaan alternatif yang ia kemukakan dapat menjadi masukan strategis bagi pemerintah dan pemangku kepentingan terkait dalam merumuskan kerangka kebijakan pertahanan nasional yang lebih adaptif, mandiri, dan berkesinambungan tanpa membebani APBN.
Sumbangsih ini mempertegas posisi UI sebagai center of excellence yang konsisten melahirkan pemikiran strategis dan kepemimpinan intelektual berkaliber nasional. Sinergi antara kepakaran akademis UI dan pengambil kebijakan publik ini diharapkan mampu mempercepat transformasi pengelolaan pertahanan negara yang lebih mandiri, efisien, dan berdampak nyata bagi kedaulatan bangsa.
Aris Marsudiyanto merupakan lulusan Akademi Militer tahun 1992 dan pernah bertugas sebagai Kasiops SAT 81 Kopassus (2003). Pada 2024, Presiden Prabowo Subianto melantiknya sebagai Kepala BAPPISUS. Keberhasilan Aris mempertahankan disertasinya membuatnya memperolehvgelar Doktor ke-66 dari Program Studi Kajian Stratejik dan Global, serta Doktor ke-38 dari SPPB UI.
Pewarta: Feru Lantara
Uploader : Naryo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.