Jumat, 18 September 2026 - 03:02 WIB
VIVA – Kasus ponsel terbakar atau bahkan mengalami ledakan memang jarang terjadi, tetapi bukan berarti mustahil. Salah satu komponen yang paling berkaitan dengan risiko tersebut adalah baterai lithium-ion, teknologi yang kini digunakan secara luas pada smartphone, laptop, tablet, hingga kendaraan listrik.
Baca Juga
Menurut National Renewable Energy Laboratory (NREL), dikutip VIVA Jum'at, 18 September 2026, baterai lithium-ion pada dasarnya dapat digunakan dengan aman dan dipakai setiap hari oleh jutaan perangkat. Namun, dalam kondisi tertentu, baterai dapat mengalami thermal runaway, yaitu kondisi ketika suhu di dalam sel meningkat secara tidak terkendali dan memicu reaksi berantai.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Apa yang Terjadi di Dalam Baterai?
Baca Juga
Baterai lithium-ion menyimpan energi dalam jumlah cukup besar dalam ruang yang relatif kecil. Di dalam sel terdapat elektroda dan lapisan pemisah atau separator yang berfungsi mencegah kontak langsung antara bagian positif dan negatif.
Masalah dapat muncul ketika separator mengalami kerusakan sehingga terjadi korsleting internal. Menurut UL Solutions, kerusakan tersebut bisa dipicu benturan, tekanan, cacat produksi, suhu ekstrem, maupun kerusakan yang berkembang akibat penggunaan atau pengisian yang tidak sesuai.
Baca Juga
Korsleting kemudian menghasilkan panas. Jika panas terus meningkat, baterai dapat masuk ke fase thermal runaway. Dalam kondisi ini, suhu dan tekanan meningkat dengan cepat, sementara material elektrolit yang mudah terbakar dapat menghasilkan gas.
NREL menjelaskan bahwa dalam kondisi thermal runaway, suhu di dalam baterai dapat mencapai lebih dari 800 derajat Celsius. Panas yang sangat tinggi juga dapat memicu sel baterai di sekitarnya mengalami kondisi serupa.
Mengapa HP Bisa Terbakar atau Meledak?
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko. Pertama adalah kerusakan fisik, misalnya ponsel mengalami benturan keras, tertekan, atau baterainya tertusuk.
Kedua adalah panas berlebihan. Suhu tinggi dapat mempercepat reaksi kimia di dalam baterai dan meningkatkan risiko thermal runaway. Ketiga adalah masalah pengisian daya, terutama ketika baterai mengalami kondisi pengisian yang tidak sesuai dengan batas desainnya. UL Solutions menyebut pengisian atau pengosongan di luar batas yang ditentukan dapat menyebabkan kerusakan internal dan overheating.
Halaman Selanjutnya
Faktor lainnya adalah cacat pada baterai atau masalah pada proses manufaktur. NREL menyebut sebagian kegagalan baterai dapat berawal dari cacat kecil di dalam sel yang kemudian berkembang menjadi korsleting internal.