Kenapa Data Center AI Disebut Haus Air? Ini Faktanya - Varia Katadata.co.id

2026/10/06

Isu mengenai konsumsi sumber daya air pada data center AI mengemuka usai Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menghentikan sementara proyek pusat data (data center) berbasis kecerdasan buatan pada 28 September 2026.

Proyek tersebut rencananya digarap BDx Data Centers di Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat. Seperti dilansir Katadata, Proyek bernama AI Campus 2 atau CGK4 bernilai investasi Rp3,5 triliun tersebut dirancang berkapasitas hingga 640 megawatt (MW). 

Penghentian sementara dilakukan akibat belum rampungnya dokumen Izin Mendirikan Bangunan (IMB) dan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal), sekaligus untuk memastikan pasokan air bersih bagi masyarakat Purwakarta tidak terganggu akibat tingginya kebutuhan pasokan air untuk cooling system server AI.

Pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan di tingkat global mendorong peningkatan kebutuhan infrastruktur komputasi skala raksasa (hyperscale). Di balik kecanggihan pemrosesan data tingkat tinggi, terdapat pusat data berkapasitas masif yang beroperasi nonstop selama 24 jam. 

Meskipun memfasilitasi efisiensi digital, pengoperasian mesin pemroses data tersebut menghasilkan beban panas ekstrem, sehingga membutuhkan pasokan air dan listrik dalam jumlah sangat besar untuk menjaga stabilitas suhu operasional perangkat keras.

Alasan Pusat Data AI Menghabiskan Banyak Air

Pusat data kecerdasan buatan membutuhkan pasokan daya listrik masif dalam ukuran MW yang berdampak pada peningkatan suhu komponen internal secara signifikan. Unit pemroses grafis yang bekerja keras mengolah beban komputasi tingkat tinggi akan mengalami overheating jika tidak didinginkan secara konstan, yang dapat mengganggu kinerja maupun keandalan server.

Untuk menjaga suhu operasional server tetap stabil dan mencegah kerusakan perangkat keras, pengelola menggunakan sistem pendinginan yang bekerja secara terus-menerus. Berikut beberapa alasan data center AI haus air yang menjadi faktor utama dibalik tingginya konsumsi sumber daya air, di antaranya:

Dampak Lingkungan dan Ekologis di Sekitar Data Center AI

Di sejumlah wilayah yang mengalami krisis air atau kekeringan musiman, keberadaan pusat data skala besar dapat memicu persaingan penggunaan air antara kebutuhan industri teknologi dan kebutuhan domestik masyarakat.

Berdasarkan kajian analisis industri, fasilitas komputasi berkapasitas 1 MW diperkirakan dapat menyerap volume air yang setara dengan kebutuhan harian ribuan warga di satu kawasan pemukiman. Kondisi ini membawa dampak lingkungan yang perlu diantisipasi, antara lain:

Lantas, Apa Solusinya?

Menanggapi sorotan publik dan regulasi lingkungan yang semakin ketat, para pengembang teknologi serta pengelola pusat data global mulai mengimplementasikan terobosan sistem pendinginan yang lebih ramah lingkungan. Inovasi ini bertujuan mengurangi ketergantungan pada air bersih segar tanpa menurunkan efisiensi kinerja server.

Beberapa solusi teknologi pendinginan modern yang mulai diterapkan secara bertahap meliputi:

Daftar 8 Fasilitas Pusat Data AI di Indonesia

Akselerasi adopsi teknologi kecerdasan buatan turut mendorong pembangunan infrastruktur pusat data siap AI (AI-ready data center) berskala hyperscale di pasar domestik. Selain proyek CGK4 BDx di Jatiluhur yang didukung daya listrik hingga 845 megavolt ampere (MVA) dari PLN, berbagai pemain industri juga membangun jaringan pusat data di sejumlah wilayah.

Berikut adalah delapan fasilitas pusat data AI terbesar yang beroperasi dan tengah dikembangkan di Indonesia: