Jakarta -
Penjualan mobil hybrid mengalami kenaikan di Indonesia. Tapi faktanya, pertumbuhan mobil hybrid tidak sebesar mobil listrik.
Benar kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, penjualan mobil hybrid pada semester satu naik sekitar 40 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
"Dengan harga BBM nonsubsidi ikut fluktuasi harga, maka masyarakat juga melihat bahwa penggunaan electric vehicle (EV) itu akan menghemat biaya. Maka di semester satu ini peningkatan pertumbuhan daripada kendaraan yang berbasis pada hybrid itu 40 persen dibandingkan tahun lalu. Jadi ini sebuah angka yang sangat baik, berarti masyarakat sudah ada kesadaran untuk menggunakan tenaga listrik," kata Airlangga dikutip dari siaran persnya, Kamis (27/8/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berdasarkan data wholesales (distribusi pabrik ke dealer) Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan mobil hybrid sepanjang Januari-Juli 2026 mencapai 50.138 unit. Ada kenaikan 42,9 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.
Bagaimana dengan mobil teknologi elektrifikasi lainnya? Mobil listrik atau battery electric vehicles (BEV) sepanjang tahun ini sudah terdistribusi sebanyak 83.758 unit atau naik 88,6 persen dibanding Januari-Juli tahun lalu.
Mobil listrik memang terasa spesial. Pembebasan aturan ganjil-genap, pajak (PKB/BBNKB) gratis, serta insentif PPN menjadi daya tarik tambahan yang mendorong konsumen beralih lebih cepat.
Sementara itu, mobil Plug in Hybrid Electric Vehicles (PHEV) sudah terdistribusi 6.988 unit, padahal tahun lalu cuma dikirim sebanyak 2.088 unit.
Data mobil elektrifikasi memang naik, tapi penjualan mobil internal combustion engine (ICE) malah turun. Mobil low cost green car (LCGC) anjlok 16,5 persen sepanjang Januari-Juli 2026. Totalnya sudah terdistribusi 64.633 unit, tahun lalu itu tembus 77.402 unit.
Pasar mobil ICE di luar segmen LCGC terus mengalami tren penurunan signifikan dari tahun ke tahun. Berdasarkan data periode 2022 hingga 2025, volume mobil ICE merosot hingga 41,8%.
Rinciannya pada 2022, angkanya masih berada di level 869.153 unit, lalu tergerus menjadi 729.739 unit pada 2023. Tren penyusutan berlanjut pada 2024 menjadi 585.729 unit, hingga akhirnya menyentuh angka 505.857 unit pada 2025.
Peta kekuatan pasar otomotif di Tanah Air tampak mengalami pergeseran. Kepopuleran mobil bermesin konvensional yang cuma mengandalkan BBM murni makin tergerus, tercermin dari porsi penjualannya yang terus menyusut.
Di sisi lain, masyarakat mulai mantap berpaling ke kendaraan elektrifikasi. Tak heran jika data penjualan mobil hybrid (HEV) hingga kendaraan listrik murni berbasis baterai (BEV) mencatatkan tren pertumbuhan positif secara konsisten dari tahun ke tahun.
(riar/rgr)