Sabtu, 19 September 2026, 10:40 WIB
Warta Ekonomi, Jakarta -
Pemerintah mendorong industri manufaktur Indonesia memperkuat daya saing melalui penguasaan teknologi, inovasi, pengembangan sumber daya manusia (SDM), serta penguatan rantai pasok dan orientasi ekspor.
Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso mengatakan pengembangan kapabilitas industri menjadi penting di tengah perubahan teknologi dan kebutuhan pasar global.
Menurut Susiwijono, perjalanan Toyota dalam membangun industri dari sektor tekstil hingga otomotif dapat menjadi gambaran mengenai pentingnya inovasi dan kemampuan beradaptasi terhadap perkembangan teknologi.
“Toyota merupakan salah satu contoh terbaik bagaimana inovasi, penguasaan teknologi, pengembangan SDM, dan penguatan rantai pasok dapat membangun industri yang berdaya saing global. Pengalaman tersebut relevan bagi Indonesia dalam terus memperkuat industri manufaktur dan meningkatkan nilai tambah di dalam negeri,” ujar Susiwijono saat melakukan kunjungan kerja ke Toyota Commemorative Museum of Industry and Technology (TCMIT) di Nagoya, Jepang, Jumat (18/9/2026).
Susiwijono menilai pengalaman Toyota di Indonesia menunjukkan bahwa pengembangan industri tidak hanya bergantung pada investasi, tetapi juga keterhubungan antara industri komponen, SDM, teknologi, hingga pasar ekspor.
Selama lebih dari lima dekade beroperasi di Indonesia, Toyota telah memproduksi sekitar 10 juta unit kendaraan. Dari jumlah tersebut, lebih dari 3 juta unit telah diekspor ke lebih dari 100 negara.
Investasi Toyota Group di Indonesia juga telah mencapai sekitar Rp100 triliun. Ekosistem tersebut melibatkan lebih dari 360.000 tenaga kerja dengan tingkat kandungan lokal lebih dari 80%.
Toyota Indonesia juga didukung lebih dari 240 pemasok Tier-1 serta 520 pemasok Tier-2 dan Tier-3. Pemerintah melihat keterhubungan tersebut sebagai bagian dari penguatan ekosistem manufaktur dan rantai pasok nasional.
Kinerja tersebut juga menunjukkan posisi Indonesia yang berkembang dari sekadar pasar menjadi salah satu basis produksi dan ekspor Toyota ke pasar global.
Penguatan manufaktur juga diarahkan untuk menghadapi perubahan industri otomotif menuju kendaraan elektrifikasi. Toyota Indonesia mulai memperluas kemampuan produksi kendaraan elektrifikasi sekaligus mengembangkan rantai pasok domestik.
Pada April 2026, Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) mengumumkan kemitraan strategis dengan Contemporary Amperex Technology Co. Ltd. (CATL) untuk mengembangkan produksi baterai kendaraan elektrifikasi di Indonesia dengan investasi Rp1,3 triliun.
Produksi tersebut mencakup pengembangan sel dan modul baterai. Indonesia juga diproyeksikan menjadi basis ekspor baterai Toyota ke pasar global mulai semester II 2026.
Menurut Susiwijono, perkembangan kendaraan elektrifikasi membuka peluang bagi Indonesia untuk meningkatkan nilai tambah industri dalam negeri sekaligus mengembangkan kemampuan SDM dalam teknologi baru.
Baca Juga: Purbaya Koreksi Hitungan Airlangga, Anggaran Buka Rekening 200 Juta Warga Tak Sampai Rp11 Triliun?
Baca Juga: Pemerintah Targetkan 200 Juta Penduduk Buka Rekening Bank Pakai NIK, Ini Penjelasan Airlangga
“Transformasi menuju kendaraan elektrifikasi membuka peluang untuk memperkuat rantai pasok dari hulu hingga hilir, termasuk pengembangan baterai, komponen, daur ulang, dan sumber daya manusia. Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi bagian penting dari rantai nilai kendaraan elektrifikasi global,” lanjutnya.
Pemerintah akan terus mendorong kolaborasi dengan pelaku industri untuk memperkuat daya saing manufaktur, memperluas pasar ekspor, serta meningkatkan kemampuan industri dalam menghadapi perubahan teknologi.
Kunjungan ke TCMIT menjadi bagian dari upaya memperkuat dialog Indonesia dan Jepang mengenai pengembangan manufaktur, inovasi teknologi, rantai pasok, elektrifikasi kendaraan, pengembangan SDM, dan ekspor.