Kemenag siapkan dialog pemimpin lintas agama setelah gelaran IGIC

2026/10/01

Kemenag siapkan dialog pemimpin lintas agama setelah gelaran IGIC

Kamis, 1 Oktober 2026 20:44 WIB

Image Print

Menteri Agama Nasaruddin Umar beserta jajaran saat berkunjung ke Kantor Berita ANTARA di Jakarta, Kamis (1/10/2026). ANTARA/Asep Firmansyah

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Agama (Kemenag) sedang menyiapkan pertemuan dialog imam dan pemimpin lintas agama sebagai tindak lanjut gelaran International Grand Imams Conference (IGIC) 2026 yang menjadi langkah awal Indonesia untuk memperluas pendekatan religious diplomacy dalam percakapan global.

“Nanti setelah ini, kita akan mengadakan pertemuan lanjutan dengan para pemimpin rumah ibadah dan tokoh-tokoh agama lainnya,” kata Menag, Nasaruddin Umar saat berkunjung ke Kantor Berita ANTARA di Jakarta, Kamis.

Pertemuan tersebut akan diarahkan untuk memperkuat penggunaan bahasa agama dalam merespons persoalan kemanusiaan.

Menag menyebut pendekatan ini sebagai diplomasi hati nurani, yakni upaya menyentuh dimensi batin dan moral manusia dalam membangun perdamaian.

Menurutnya, pendekatan tersebut dapat menjadi pelengkap bagi jalur diplomasi formal yang selama ini dilakukan dalam merespons berbagai konflik dunia.

“Jika kita menggunakan bahasa agama dalam mengembangkan diplomasi, yaitu diplomasi hati nurani, jangan-jangan itulah yang ditunggu oleh masyarakat kita. Diplomasi formal seperti sekarang ini ternyata belum berhasil menghentikan peperangan,” ujarnya.

Menag menggambarkan dampak peperangan dengan ungkapan, “kalah jadi abu, menang jadi arang”. Karena itu, tokoh agama dinilai memiliki ruang untuk menghadirkan pesan yang menyentuh hati nurani para pihak yang berkonflik.

Menurut Imam Besar Masjid Istiqlal itu, pelibatan tokoh agama menjadi penting, karena kedekatan mereka dengan masyarakat. Imam, misalnya, tidak hanya memimpin ibadah, tetapi di banyak negara juga menjadi pemimpin komunitas yang berinteraksi langsung dengan umat.

“Imam itu ternyata adalah figur yang paling efisien dan efektif dalam berjumpa dengan masyarakat. Mereka itu tokoh masyarakat. Kalau di luar negeri, imam itu bukan hanya memimpin shalat, tapi juga menjadi pemimpin umat,” ujar Menag.

Pengalaman IGIC 2026, kata Menag, menunjukkan adanya kepercayaan dari para imam dunia terhadap gagasan yang ditawarkan Indonesia.

Salah satunya terlihat dari dukungan terhadap pembentukan jejaring para imam serta apresiasi delegasi terhadap praktik kerukunan yang mereka saksikan selama berada di Jakarta.

Menag secara khusus menyebut Terowongan Silaturahim yang menghubungkan Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral Jakarta sebagai salah satu praktik yang mendapat perhatian para peserta IGIC.

“Mereka memuji Terowongan Silaturahim antara Katedral dan Istiqlal. Mereka juga sangat memuji gagasan-gagasan untuk menghimpun para imam,” kata dia.

Menag juga dipercaya secara aklamasi untuk memimpin forum imam yang terbentuk dari konferensi tersebut.

Menurutnya, kepercayaan itu menjadi ruang bagi Indonesia untuk terus mengembangkan gagasan yang lahir dari IGIC.

Pewarta : Asep Firmansyah
Editor: Victorianus Sat Pranyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2026