Kelahiran harimau Sumatera bukti komitmen kerja sama konservasi RI-AS

2026/10/05

Kelahiran harimau Sumatera bukti komitmen kerja sama konservasi RI-AS

Senin, 5 Oktober 2026 17:01 WIB

Image Print

Dua anak harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae), Barani dan Malu, lahir di Kebun Binatang Fort Worth, Texas, Amerika Serikat, pada 1 Juli 2026. /ANTARA/HO-KBRI Washington.

Jakarta (ANTARA) - Duta Besar Republik Indonesia untuk Amerika Serikat (AS) Indroyono Soesilo menyatakan bahwa kelahiran dua anak harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) di Kebun Binatang Fort Worth, Texas, merupakan wujud komitmen bersama kedua negara terhadap kelestarian alam.

Dalam keterangan resmi Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Washington yang diterima di Jakarta, Senin, kedua anak harimau itu lahir pada 1 Juli 2026 dan diumumkan kepada publik pada 2 Oktober 2026 setelah tim perawat memastikan kondisi kedua anak dan induk harimau dalam kondisi stabil.

Dua bayi satwa tersebut diberi nama Barani dan Malu. Barani, yang berakar dari kata “berani”, digambarkan lebih aktif dan penuh rasa ingin tahu, sedangkan Malu cenderung lebih tenang dan berhati-hati.

Kehadiran Barani dan Malu menjadi kelahiran harimau Sumatera pertama dalam sejarah kebun binatang tersebut. Keduanya merupakan anak dari Ndari, yang baru pertama kali melahirkan, dan Rakan. Saat diumumkan, kedua bayi harimau tersebut telah berusia sekitar 13 minggu dengan berat masing-masing sekitar 8-9 kilogram.

Dubes Indroyono menuturkan, kelahiran kedua satwa yang terancam punah tersebut memiliki makna yang lebih luas karena Fort Worth merupakan kota pertama di AS yang menjalin hubungan sister city dengan kota di Indonesia.

Ia mengungkapkan, kota tersebut memiliki kerja sama sister city dengan Bandung, Jawa Barat sejak 2 April 1990. Kedua kota memperingati 35 tahun persahabatan pada tahun lalu dan kembali menegaskan komitmen untuk memperluas kolaborasi di berbagai bidang.

Pada area Predators of Asia & Africa di Kebun Binatang Fort Worth, dua anak harimau tersebut kini menjadi pengingat bahwa warisan alam Indonesia dapat menjadi jembatan persahabatan dengan masyarakat dunia.

“Barani dan Malu lahir di Amerika Serikat, tetapi membawa nama, asal-usul, dan pesan dari Indonesia. Keduanya menunjukkan bahwa kedekatan Bandung dan Fort Worth, serta Indonesia dan Amerika Serikat, dapat tumbuh melalui pendidikan, budaya, persahabatan warga, dan kepedulian bersama terhadap konservasi kehidupan,” ujar Indroyono.

Pewarta : Uyu Septiyati Liman
Editor: Hery Sidik
COPYRIGHT © ANTARA 2026