Karya desainer muda PDIP Jogja Sarah Azzahra lolos final Fatmawati Trophy
Sabtu, 15 Agustus 2026 16:50 WIB
Karya desainer muda binaan DPC PDI Perjuangan Kota Yogyakarta Sarah Azzahra, berhasil melangkah ke babak final tingkat nasional kompetisi desain busana Fatmawati Trophy. (ANTARA/Ist)
Yogyakarta (ANTARA) - Karya desainer muda binaan DPC PDI Perjuangan Kota Yogyakarta Sarah Azzahra, berhasil melangkah ke babak final tingkat nasional kompetisi desain busana Fatmawati Trophy.
Keberhasilan ini dicapai setelah busana berkonsep "Sumbu Kartika" karya Sarah meraih posisi tiga besar pada Kurasi Region 7 di Semarang.
Bersama kontingen dari Kabupaten Sleman dan Wonosobo, Sarah resmi mengantongi tiket untuk berlaga di puncak kompetisi nasional yang bakal digelar di Bali pada Oktober mendatang.
Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Yogyakartac Eko Suwanto menyebut capaian tersebut menunjukkan anak muda mampu berada di garda terdepan jika diberikan kesempatan yang tepat.
"Ini sebuah soft campaign dan inspirasi yang luar biasa di luar ekspektasi saya. Mereka, yang rata-rata usianya masih di bawah 25 tahun, menunjukkan yang muda bisa berada di depan dan menghasilkan sebuah karya berkualitas," tegasnya, di sela diskusi "Anak Muda dan Dunia Digital", Sabtu (15/8/26).
Lebih lanjut, Ketua Komisi A DPRD DIY ini menekankan ajang Fatmawati Trophy bukan sekadar kompetisi peragaan busana atau kebaya tradisi semata, melainkan, wadah untuk meresapi nilai sejarah dan spirit perjuangan Ibu Negara Fatmawati Soekarno saat menjahit Bendera Pusaka Merah Putih.
"Saya selalu berpesan kepada teman-teman muda, hikmati bagaimana Ibu Fatmawati menjahit Merah Putih. Setiap langkah di panggung harus membawa spirit Ibu Fatmawati, Bung Karno, dan Bung Hatta dalam memerdekakan Republik ini," tuturnya.
Eko berharap keberhasilan di sektor fesyen ini dapat didorong lebih jauh menjadi ekosistem industri kreatif yang terintegrasi di Kota Yogyakarta, mulai dari tata busana, perias pengantin, hingga event organizer.
Sebagai bentuk dukungan konkret mematangkan persiapan menuju Bali, pihaknya berencana menggelar peragaan busana ruang terbuka di kawasan bersejarah di Kota Yogyakarta.
"Sebelum berangkat ke Bali bulan Oktober, kita ingin buat pameran atau eksibisi outdoor di tempat bersejarah di Yogya. Ini jadi wadah latihan sekaligus berekspresi bagi anak-anak muda kita," cetusnya.
Adapun rancangan "Sumbu Kartika" karya Sarah Azzahra memadukan tiga elemen filosofi yang sarat kearifan lokal, meliputi Akar, Nyala, dan Cahaya
Kemudian, konsep tersebut, dipadukan secara khusus dengan motif Batik Nitik, sebuah warisan budaya sejak abad ke-18, sekaligus indikasi geografis khas DI Yogyakarta.
"Persiapannya cukup singkat, sekitar satu bulan. Motif saya buat seperti pantulan cahaya, merepresentasikan sosok Ibu Fatmawati. Dipadukan dengan Batik Nitik, menggunakan teknik titik-titik khas Yogya," ujarnya.
Karya tersebut diperagakan oleh deretan model belia, salah satunya Desvi Erinda, yang mengaku bangga dapat membawakan pesan perjuangan tersebut di atas panggung.
Melalui sinergi antara potensi anak muda, kearifan budaya lokal, dan komitmen pendampingan berkelanjutan, Kota Yogyakarta optimistis mampu menorehkan prestasi terbaik di tingkat nasional sekaligus menggerakkan roda ekonomi kreatif daerah.
"Semoga di waktu yang ada menjelang Oktober nanti, Mbak Sarah bisa merevisi dan menyempurnakan detail desainnya agar kita bisa memberikan hasil terbaik dan menang di tingkat nasional," ungkap Desvi
Pewarta : N008
Editor:
Nur Istibsaroh
COPYRIGHT © ANTARA 2026