Karhutla Menggerogoti Destinasi Wisata, Ini Saran Para Pakar

2026/09/06

Jakarta -

Karhutla tak hanya meninggalkan lahan hangus dan kepulan asap. Di sejumlah destinasi, kebakaran mulai mengusik aktivitas wisata, mengancam ekosistem, hingga memukul kehidupan masyarakat yang menggantungkan nasib pada sektor pariwisata.

Salah satu yang paling terasa adalah kebakaran di Desa Adat Sade, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. Kebakaran pada 22 Agustus 2026 lalu yang diduga akibat korsleting listrik ini menghanguskan ratusan bangunan di kawasan tersebut, termasuk rumah adat dan tempat usaha warga yang selama ini jadi bagian dari aktivitas wisata.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Belum selesai cerita dari Sade, karhutla juga menggerogoti destinasi lain, seperti di kawasan Cagar Alam Merapi Ungup-Ungup. Kondisi itu membuat aktivitas wisata di Taman Wisata Alam Kawah Ijen ditutup total sejak 4 September 2026 hingga batas yang belum ditentukan.

Dampaknya meluas hingga menyentuh satwa. Orang utan jantan dewasa bernama Sempurna ditemukan dalam kondisi lemah dan mengalami gangguan pernapasan di Ketapang, Kalimantan Barat, sebelum akhirnya mati.

Rentetan kejadian itu membuat persoalan karhutla tak lagi bisa dilihat sebatas urusan api dan pemadaman. Pakar lingkungan yang juga dosen Universitas Indonesia, Mahawan Karuniasa, menilai karthula sebagai risiko langsung bagi sistem pariwisata karena banyak destinasi Indonesia bergantung pada hutan, gunung, taman nasional, dan lanskap alam.

"Yang utama adalah keselamatan lebih penting daripada jumlah kunjungan," kata Mahawan kepada detikTravel.

Menurutnya, pengelola wisata alam perlu memiliki peta risiko kebakaran, sistem peringatan dini, jalur evakuasi, batas kapasitas pengunjung berbasis risiko, serta SOP penutupan dan pembukaan kembali.

Dosen Vokasi Universitas Indonesia, Deni Danial Kesa, melihat persoalan ini lebih luas. Menurutnya, kebakaran di sejumlah destinasi berkaitan dengan ketahanan destinasi, keselamatan, wisatawan, keberlanjutan mata pencaharian hingga tata kelola pariwisata.

Ia mencontohkan Sade. Rumah adat di sana bukan sekadar bangunan, tetapi juga menjadi tempat tinggal, menenun, menjual cendera mata, dan menerima wisatawan. "Ketika rumah terbakar, yang hilang bukan hanya aset tetapi juga rantai nilai pariwisata lokal," kata Deni.

Karena itu, Deni menyarankan agar konsep destinasi tidak berhenti pada 4A, yakni attraction, accessibility, amenities dan ancillary. Ia mendorong tambahan dua unsur, yaitu safety dan resilience atau 5A+R, sehingga destinasi bukan hanya menarik untuk dikunjungi tetapi juga mampu melindungi wisatawan dan masyarakat saat krisis. Deni juga mengusulkan adanya Destination Fire Risk Index untuk memetakan tingkat risiko kebakaran di destinasi.

Menurutnya, pemerintah dapat melibatkan BNPB, pemadam kebakaran, KLHK, pemerintah daerah dan akademisi dalam pemetaan tersebut, sekaligus menjadikan mitigasi kebakaran sebagai bagian dari standar destinasi wisata.

Tak berhenti pada pencegahan, ia menilai pemulihan juga harus dipikirkan sejak awal. Ia merekomendasikan Kementerian Pariwisata untuk melakukan audit keselamatan nasional berbasis risiko dalam 100 hari.

Sementara itu, pakar pariwisata Indonesia, Prof. Azril Azahari mengingatkan agar pembangunan pariwisata sejak awal memahami ekosistem kepariwisataan. Menurutnya, destinasi bukan hanya soal tempat yang dikunjungi, tetapi juga mencakup flora, fauna, lingkungan fisik, manusia dan budaya yang saling berkaitan.

Azril juga menekankan pentingnya manajemen risiko kecelakaan pariwisata sebelum destinasi dibuka. Ia mencontohkan perlunya kesiapan alat pemadam, perlengkapan keselamatan dan pemanfaatan teknologi seperti drone untuk mendukung keselamatan dan penanganan keadaan darurat.

Menurut Azril, kapasitas fisik destinasi juga perlu dihitung. Berapa banyak wisatawan yang mampu ditampung dan berapa orang yang bisa berada di kawasan tersebut harus disesuaikan dengan kondisi destinasi, yang dikenal sebagai physical carrying capacity. Destinasi wisata tak cukup hanya ramai dan menarik. Di tengah risiko karhutla yang mengintai, destinasi juga harus punya kemampuan untuk mencegah, merespons, menyelamatkan wisatawan dan masyarakat, lalu bangkit setelah bencana berlalu.