Karhutla di Berau Kaltim Diklaim Tak Ancam Habitat Orangutan

2026/08/26

Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni mengklaim kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di Berau, Kalimantan Timur (Kaltim) tidak mengancam habitat orangutan.

"Hari ini saya datang ke Berau untuk memastikan bahwa Karhutla tidak hanya berdampak negatif kepada masyarakat, tapi juga jangan sampai berdampak negatif terhadap satwa liar kita, terutama orangutan yang menjadi kebanggaan Kalimantan Timur, Berau, bahkan dunia," kata Juli dalam keterangannya, Rabu (26/8).

Raja Juli mengatakan pemerintah saat ini terus berupaya mengantisipasi, mencegah, dan melakukan pemadaman Karhutla.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia menyebut kondisi cuaca tahun ini menjadi perhatian serius karena El Nino datang lebih cepat dengan skala yang sangat kuat menurut BMKG.

"Kita tahu bahwa Karhutla yang terjadi pada tahun ini karena perubahan iklim yang luar biasa. Biasanya El Nino itu datangnya 4 tahun sekali, yang paling kita catat itu 2015, lompat 4 tahun 2019, lalu 2023. Mestinya baru tahun depan El Nino ini datang, tapi perubahan iklim itu riil," tutur dia.

Raja Juli turut menegaskan perlindungan masyarakat dan satwa liar menjadi bagian penting dalam penanganan Karhutla. Karenanya, ia meminta kawasan habitat orangutan dikawal dari ancaman Karhutla.

"Kita juga harus kawal area ini dari Karhutla dengan patroli rutin," ucap dia.

Raja Juli juga diketahui menyiapkan area preservasi koridor orangutan lanskap keraitan untuk menyelamatkan habitat orangutan. Hal ini dilakukan bersama dengan Pusat Rehabilitasi Satwa (PRS) Long Sam yang dikelola oleh Conservation Action Netwok (CAN) dan mitra konservasi lainnya.

Diketahui, karhutla di Kalimantan tidak hanya mengancam manusia, tetapi juga satwa liar termasuk hewan endemik Indonesia, orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus).

Kalimantan menjadi rumah bagi sekitar 57.350 individu orangutan Kalimantan atau orangutan borneo. Data ini diambil dari hasil Population and Habitat Viability Assessment (PHVA) 2016 yang dijalankan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI bersama sejumlah lembaga dan praktisi-pemerhati konservasi orangutan.

Jumlah ini mengalami penurunan sebanyak 80 persen dalam waktu kurang dari 50 tahun. Mengutip dari laman Borneo Orangutan Survival (BOS) Foundation, populasi orangutan diestimasi berjumlah 288.500 pada tahun 1973.

CEO Borneo Orangutan Survival (BOS) Foundation, Jamartin Sihite mengatakan persebaran titik api karhutla ini dilaporkan sudah mulai mendekat ke habitat orangutan, yang umumnya berada di dataran rendah.

"Di Kalimantan Barat sudah, di Kalimantan Tengah juga sudah mulai mendekat ke pusat-pusat populasi seperti dekat ke Taman Nasional Sebangau, di daerah Pulang Pisau, ini daerah-daerah yang juga ada orangutannya, dan cukup besar," kata dia kepada CNNIndonesia.com, Jumat (21/8).

Namun, tak hanya api karhutla yang menjadi permasalahan, melainkan juga asapnya. Bagi manusia, paparan asap karhutla mungkin bisa dikurangi dengan menggunakan masker, namun hal yang sama tak berlaku bagi orangutan dan habitat tempat mereka hidup.

Jamartin menjelaskan asap karhutla berpengaruh terhadap fungsi polinasi lebah dan tanaman di hutan. Fenomena ini dapat berujung pada semakin hilangnya sumber makanan orangutan.

"Data kami menunjukkan, di pusat penelitian kita di Tuanan, semakin panjang masa asap, semakin kecil peluang tanaman di hutan berbunga dan berbuah. Artinya ketika asap besar, maka peluang orangutan nanti kehilangan makanan, itu cukup besar juga," jelasnya.

(dis/dal)

placeholder