Jakarta -
Pertanyaan mengenai kapan diperbolehkan berhubungan setelah haid agar tidak hamil sering kali menjadi perhatian utama bagi pasangan yang ingin menunda momongan secara alami. Memahami kalender biologis dan masa subur tubuh adalah kunci utama dalam merencanakan hubungan intim yang aman.
Sebagian orang menganggap bahwa berhubungan seksual segera setelah menstruasi selesai merupakan waktu yang aman karena ovulasi belum terjadi. Padahal, tidak ada waktu setelah haid yang dapat dijamin 100 persen aman dari kehamilan hanya berdasarkan kalender, terutama jika siklus menstruasi tidak teratur.
Lantas, kapan diperbolehkan berhubungan setelah haid agar tidak hamil dan bagaimana cara kerja sistem reproduksi tubuh terkait kehamilan? Simak ulasan lengkapnya di bawah ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mengutip laman Healthline, sperma dapat bertahan hidup di dalam rahim hingga 5 hari setelah melakukan hubungan seksual penetrasi (penis ke dalam vagina). Kehamilan hanya dapat terjadi jika terdapat sperma di dalam rahim atau saluran tuba (tuba fallopi) saat Bunda mengalami ovulasi.
Ovulasi biasanya terjadi sekitar hari ke-14 dari siklus haid. Namun, jika siklus haid tidak teratur atau perhitungan keliru maka melakukan hubungan seksual penentrasi tanpa metode kontrasepsi penghalang pada waktu lain dalam sebulan tetap dapat menyebabkan kehamilan.
Bagaimana cara kerja ovulasi dan kehamilan?
Ovulasi terjadi ketika indung telur (ovarium) melepaskan sel telur ke dalam saluran tuba untuk diproses menuju pembuahan. Sel telur harus mengalami pembuahan dalam waktu 24 jam, jika tidak, sel telur tersebut dapat mulai hancur dan memicu terjadinya menstruasi atau pendarahan menyerupai menstruasi.
1. Proses pembuahan
Sperma harus masuk ke dalam saluran vagina, berjalan melewati leher rahim (serviks), menuju rongga rahim, lalu masuk ke saluran tuba untuk membuahi sel telur.
Sperma dapat bertahan hidup di dalam saluran reproduksi hingga 5 hari sambil menunggu bertemunya dengan sel telur.
2. Implantasi & kehamilan
Jika pembuahan terjadi, sel telur yang telah dibuahi harus berjalan dari saluran tuba menuju rahim dan menempel pada dinding rahim. Proses ini umumnya berlangsung 6 hingga 10 hari setelah ovulasi.
Kehamilan hanya mungkin terjadi jika sel telur yang telah dibuahi berhasil menempel (implantasi) di dalam rahim. Jika tidak, lapisan dinding rahim akan meluruh, dan menstruasi atau pendarahan meluruhkan dinding rahim akan dimulai.
Bisakah hamil sebelum, selama, atau sesaat setelah menstruasi?
Ovulasi dan menstruasi biasanya berjarak 2 minggu, sehingga kemungkinan untuk hamil tepat sebelum menstruasi tergolong rendah.
Namun, jika Bunda memiliki siklus yang lebih pendek (rata-rata siklus adalah 28 hari), kehamilan bisa saja terjadi jika Bunda melakukan hubungan seksual penetrasi tanpa metode kontrasepsi penghalang saat sedang menstruasi atau sesaat setelahnya.
Contoh kasus:
Jika Bunda melakukan hubungan seksual mendekati akhir masa menstruasi dan mengalami ovulasi lebih awal, pembuahan bisa terjadi. Oleh karena itu, menggunakan kontrasepsi konvensional biasanya merupakan cara terbaik untuk mencegah kehamilan.
Semakin dekat siklus dengan masa ovulasi, semakin besar kemungkinan Bunda untuk hamil jika melakukan hubungan seksual penetrasi tanpa alat kontrasepsi. 4 hingga 5 hari menjelang ovulasi, hari saat ovulasi, dan sehari setelah ovulasi sering disebut sebagai "masa subur" (fertile window).
Kapan masa paling subur?
Pada siklus menstruasi yang berlangsung 26–32 hari, American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) menyebut hari ke-8 hingga hari ke-19 sebagai periode yang dianggap paling subur dalam metode Standard Days.
Jika tujuan pasangan adalah mencegah kehamilan, hubungan seksual tanpa kontrasepsi sebaiknya dihindari pada rentang tersebut.
Namun, angka tersebut tidak bisa diterapkan begitu saja kepada semua perempuan. Siklus menstruasi yang lebih pendek, lebih panjang, atau tidak teratur dapat membuat perkiraan masa subur menjadi kurang akurat.
Cara metode aman berhubungan setelah haid agar tidak hamil
Mengutip laman Vinmec, bagi mereka yang ingin menghindari kehamilan, hubungan seksual dapat direncanakan pada "hari aman" untuk mengurangi risiko terjadinya pembuahan. Lantas, bagaimana cara menghitung hari aman untuk berhubungan seksual?
1. Tentukan hari pertama menstruasi
Hari pertama keluarnya darah menstruasi dihitung sebagai hari ke-1 siklus. Selanjutnya, catat berapa hari siklus berlangsung hingga menstruasi berikutnya.
2. Cari siklus terpendek
Jika siklus menstruasi terpendek Bunda adalah 26 hari, kurangi 18 sehingga hasilnya 8. Hitung 8 hari mulai dari Hari ke-1 menstruasi. Jika Hari ke-1 jatuh pada tanggal 4, tandai X pada tanggal 11. Artinya, tanggal 11 merupakan hari pertama masa subur dan Bunda sebaiknya menghindari hubungan seksual tanpa perlindungan mulai hari tersebut.
3. Cari siklus terpanjang
Jika siklus menstruasi terpanjang Bunda adalah 30 hari, kurangi 11 sehingga hasilnya 19. Hitung 19 hari mulai dari Hari ke-1. Jika Hari ke-1 jatuh pada tanggal 4, tandai X pada tanggal 22. Artinya, tanggal 22 merupakan hari terakhir masa subur dan hubungan seksual tanpa perlindungan dapat dilakukan kembali setelah hari tersebut.
Meski cara menghitung hari aman untuk berhubungan seksual dapat memperkirakan hari-hari yang dianggap aman dan tidak aman, tetapi tidak dapat menjamin secara pasti kapan ovulasi atau pembuahan terjadi.
Selain metode aman, kapan diperbolehkan berhubungan setelah haid agar tidak hamil bisa dengan metode ritme. Mengutip laman Mayoclinic, ada beberapa langkah yang Bunda lakukan untuk menggunakan metode ritme kalender atau metode Standard Days.
Metode ini tak jauh berbeda dengan metode aman yang sudah dijelaskan di atas. Namun metode ini mungkin paling efektif jika siklus menstruasi Bunda biasanya berlangsung antara 26 hingga 32 hari. Untuk menggunakan metode Standard Days:
1. Hitung hari-hari dalam siklus menstruasi Bunda, dengan menjadikan hari pertama menstruasi sebagai hari ke-1. Lanjutkan menghitung setiap hari dalam siklus hingga siklus berikutnya dimulai.
2. Pada hari ke-1 hingga ke-7, Bunda dianggap belum memasuki masa subur dan dapat melakukan hubungan seksual tanpa pengaman, meskipun mungkin masih mengalami perdarahan menstruasi pada hari-hari tersebut.
3. Pada hari ke-8 hingga ke-19, Bunda dianggap berada dalam masa subur. Hindari hubungan seksual tanpa pengaman atau tidak melakukan hubungan seksual untuk mencegah kehamilan. Sebaliknya, jika Bunda sedang berusaha untuk hamil, hari-hari tersebut merupakan waktu yang tepat untuk melakukan hubungan seksual tanpa pengaman.
4. Mulai hari ke-20 hingga akhir siklus, Bunda dianggap tidak lagi berada dalam masa subur dan dapat melakukan hubungan seksual tanpa pengaman. Ketika menstruasi berikutnya dimulai, ulangi perhitungan dari hari ke-1.
Kesimpulannya dari penjelasan di atas tentang kapan diperbolehkan berhubungan setelah haid agar tidak hamil tidak memiliki satu jawaban yang berlaku untuk semua perempuan ya, Bunda. Waktu menstruasi selesai tidak dapat dijadikan patokan tunggal untuk menentukan hari aman.
Perhitungan masa subur dapat membantu mengenali hari ketika peluang kehamilan lebih tinggi, tetapi tidak dapat memastikan bahwa hari tertentu benar-benar bebas dari risiko kehamilan. Hal ini terutama penting bagi perempuan dengan siklus menstruasi pendek atau tidak teratur.
Jika sedang berusaha mencegah kehamilan, jangan hanya mengandalkan perhitungan kalender. Gunakan metode kontrasepsi yang sesuai dan konsultasikan dengan tenaga kesehatan untuk memilih pilihan yang paling tepat.
Semoga informasinya bermanfaat ya, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)