Kamu Masih Percaya 10 Mitos Makanan Legendaris Ini? Saatnya Move On!

2026/10/06

Mitos bukanlah hal baru di lingkungan sosial kita, hanya saja kini penyebarannya jauh lebih cepat berkat adanya sarana seperti internet. Nah, yang lebih unik lagi, banyak di antara mitos-mitos itu yang terdengar masuk akal sehingga kita mudah percaya, Beauties.

Beberapa di antara mitos yang ada adalah mitos seputar makanan, termasuk keberadaan makanan super yang bisa menyembuhnya segalanya. Padahal, kenyataannya, mitos-mitos makanan itu biasanya tidak sesederhana yang kita harapkan. Oleh karena itu, mari kita kupas dan luruskan beberapa mitos populer tentang makanan yang sering beredar berdasarkan ulasan yang dilansir dari Tasting Table berikut ini!

Minyak Kelapa adalah Superfood yang Menakjubkan

Ilustrasi/Foto: Freepik
Ilustrasi/Foto: Freepik

Minyak kelapa sering disebut sebagai superfood ajaib yang mampu memberikan segudang manfaat, mulai dari mempercepat metabolisme, menjaga kesehatan jantung, hingga meningkatkan fungsi otak. Klaim-klaim ini terdengar luar biasa, tetapi sayangnya tidak semuanya sesuai fakta.

Penelitian menunjukkan bahwa tidak ada bukti kuat bahwa minyak kelapa mampu mempercepat metabolisme. Bahkan, kandungan lemak jenuhnya yang tinggi justru berpotensi meningkatkan kadar kolesterol yang dapat membahayakan kesehatan jantung.

Reputasi minyak kelapa sebagai “superfood” banyak dipengaruhi oleh informasi setengah benar, termasuk hasil penelitian pada jenis minyak kelapa yang berbeda dengan yang biasa kita temui di pasaran. Selain itu, studi pada masyarakat yang sering mengonsumsi minyak kelapa juga dipengaruhi oleh gaya hidup dan lingkungan lain yang turut memengaruhi kesehatan.

Jadi, meskipun kelapa tetap bisa menjadi bagian dari pola makan sehat, mengandalkannya sebagai kunci umur panjang dan kesehatan optimal adalah pandangan yang terlalu sederhana.

Makanan Pasti Aman Dimakan Jika Tidak Berbau atau Terlihat Aneh

Ilustrasi/Foto: Freepik

Jangan tertipu oleh penampilan atau aroma makanan. Meskipun tampak segar dan tidak berbau aneh, makanan yang disimpan atau dimasak dengan cara yang salah bisa saja menjadi sarang bakteri berbahaya.

Beberapa jenis bakteri seperti Clostridium botulinum, Salmonella, Listeria, dan E. coli bahkan tidak memiliki bau, rasa, atau tanda fisik yang jelas. Lebih rumitnya, bakteri penyebab penyakit berbeda dengan bakteri yang membuat makanan membusuk sehingga sulit mengandalkan indra penciuman atau penglihatan saja

Sebaliknya, ada pula makanan tertentu yang masih aman dimakan meskipun sudah berjamur. Intinya, keamanan makanan tidak mengenal jalan pintas seperti bebauan dan penampilan. Oleh karena itu, pastikan makanan dimasak dengan benar dan selalu beri label pada sisa makanan agar tidak keliru.

MSG Tidak Sehat dan Sangat Buruk bagi Tubuh

Ilustrasi/Foto: Freepik/azerbaijan_stockers

MSG atau monosodium glutamat selama ini sering mendapat reputasi buruk, dituding sebagai penyebab sakit kepala, kelelahan, dan berbagai masalah kesehatan lain, padahal semua tuduhan itu tidak memiliki dasar ilmiah. Bahkan sebenarnya, kita sudah sering mengonsumsi MSG tanpa sadar, misalnya dari tomat dan jamur.

Munculnya stigma negatif terhadap MSG berawal pada tahun 1968 karena dipicu oleh sebuah surat tunggal yang kemudian dibesar-besarkan. Sayangnya, isu ini ikut terwarnai pandangan rasis terhadap masyarakat Asia yang sudah lama menjadi sasaran diskriminasi sejak abad ke-19.

Mitos tentang MSG kian menguat karena penelitian yang keliru dan istilah “Chinese Restaurant Syndrome”, meskipun sains modern membuktikan bahwa hanya sedikit orang yang benar-benar sensitif terhadap MSG, mirip dengan kondisi alergi pada umumnya. Menariknya, banyak orang yang merasa tidak enak badan setelah mengonsumsi MSG sebenarnya mengalami “efek nocebo”, yaitu kondisi ketika tubuh merespons negatif hanya karena kita sudah meyakini sebelumnya bahwa sesuatu akan membuat kita merasa sakit.

Buah dan Sayur Kalengan Maupun Beku Kurang Bergizi Dibandingkan yang Segar

Ilustrasi/Foto: Freepik

Banyak orang masih menganggap buah dan sayuran kalengan atau beku tidak seasli atau sebergizi versi segarnya. Padahal, beberapa produk ini justru menawarkan kepraktisan, daya simpan panjang, dan kandungan gizi yang tetap terjaga. Bahkan, ada kemungkinan kandungan vitamin, mineral, dan nutrisinya lebih tinggi dibandingkan bahan segar yang sudah lama dipajang di rak toko.

Setelah dipanen, buah dan sayur langsung mulai kehilangan nutrisi karena tak lagi mendapat asupan dari sumber alaminya. Penelitian dari University of California, Davis, menunjukkan bahwa seminggu setelah bayam dipetik, vitamin C-nya hilang sepenuhnya.

Nah, proses pembekuan atau pengalengan bisa memperlambat atau bahkan menghentikan kerusakan gizi seperti yang dicontohkan oleh penelitian itu. Meskipun begitu, kamu tetap perlu memeriksa label kemasan untuk memastikan kadar gula dan garamnya tidak berlebihan.

Lobster Tidak Dapat Merasakan Sakit

Ilustrasi/Foto: Freepik

Banyak orang percaya bahwa merebus lobster hidup-hidup bukanlah masalah karena hewan ini dianggap tidak bisa merasakan sakit. Padahal, penelitian menunjukkan sebaliknya.

Memang, mengukur rasa sakit pada makhluk hidup tidaklah mudah karena setiap individu mengalaminya secara berbeda. Pada manusia, rasa sakit dapat disampaikan melalui komunikasi, tetapi lobster tentu tidak bisa berbicara. 

Meskipun begitu, para ilmuwan menemukan bahwa lobster memiliki sistem biologis yang dirancang untuk mengirimkan sinyal rasa sakit. Tanda-tanda perilaku mereka juga menguatkan temuan ini. Saat dimasukkan ke dalam air mendidih, lobster akan berusaha keras untuk melarikan diri dan bergerak begitu liar hingga pemandangannya sulit disaksikan.

Penelitian besar di Inggris pada 2021, yang melibatkan data dari 300 studi, meneliti bagaimana hewan seperti lobster, cumi-cumi, dan kepiting merasakan sakit. Hasilnya, profesor Jonathan Birch menjelaskan bahwa lobster bisa hidup selama 2 hingga 3 menit setelah dimasukkan ke dalam air mendidih dengan respons saraf yang tetap sangat intens, mirip dengan reaksi manusia, kucing, anjing, atau hewan lainnya dalam situasi yang sama.

Kerang Hijau yang Tetap Tertutup Setelah Dimasak Itu Tidak Boleh Dimakan

Ilustrasi/Foto: Freepik

Banyak orang mengira bahwa kerang yang tidak terbuka setelah dimasak berarti sudah mati dan berbahaya untuk dimakan. Pemahaman ini sudah berkembang sejak tahun 1970-an, tetapi penelitian pada 2004 oleh Seafood Services Australia membuktikan bahwa kenyataannya tidak sesederhana itu.

Terbuka atau tertutupnya cangkang kerang ternyata dipengaruhi oleh banyak hal, seperti kekuatan otot kerang dan reaksi alami terhadap stres atau ancaman. Bahkan kerang yang sudah mati pun akan terbuka saat dimasak.

Menariknya, jika kita langsung mengangkat kerang begitu cangkangnya terbuka, ada risiko kerang tersebut belum matang sempurna. Oleh karena itu, pakar kini menyarankan untuk memeriksa dan membuang kerang yang mencurigakan sebelum dimasak alih-alih menilai kematangannya hanya dari cangkangnya yang terbuka atau tertutup.

Sebaiknya Mencuci Daging dan Unggas Sebelum Dimasak

Ilustrasi/Foto: Freepik/azerbaijan_stockers

Banyak orang mengira mencuci daging atau unggas sebelum dimasak adalah kebiasaan yang benar. Padahal, yang paling penting justru memastikan daging dimasak hingga suhu yang tepat agar semua bakteri berbahaya mati. Kebersihan tangan dan area kerja memang wajib dijaga, tetapi membilas daging ternyata tidak diperlukan.

Menurut penelitian USDA, proses memasak sudah cukup efektif membunuh bakteri. Bahkan mencuci daging justru berisiko memercikkan air dan menyebarkan kuman ke peralatan atau bahan lain yang bisa memicu keracunan makanan. Prinsip ini berlaku untuk semua jenis daging dan juga telur.

Membakar Daging akan Mengunci Sari Daging

Ilustrasi/Foto: Freepik

Banyak orang percaya bahwa membakar daging di awal proses memasak akan mengunci sari-sarinya sehingga membuat daging tetap juicy. Keyakinan ini sendiri sudah ada sejak zaman Yunani Kuno dan terus diwariskan hingga sekarang.

Meskipun terdengar masuk akal, penelitian membuktikan hal sebaliknya, yakni panas tinggi justru menarik cairan keluar sehingga membuat daging jadi lebih kering. Namun, membakar daging tetap penting, tetapi bukan untuk mengunci sarinya, melainkan untuk memicu Maillard reaction, proses kimia yang membentuk lapisan kecokelatan dengan rasa gurih khas di permukaan daging. Proses ini memberikan aroma yang menggoda, tekstur yang nikmat, dan cita rasa yang lebih kaya.

Aturan Lima Detik

Ilustrasi/Foto: Freepik

Membuang makanan memang sangat disayangkan, apalagi jika masih terlihat bersih. Namun, kesehatan tetap harus jadi prioritas. Meskipun begitu, kamu pasti pernah dengan salah satu mitos tentang “aturan lima detik”, yang mana ini adalah keyakinan bahwa makanan yang jatuh ke lantai masih aman dimakan jika diambil dalam waktu kurang dari lima detik.

Faktanya, penelitian sudah membuktikan bahwa anggapan ini keliru. Memang benar, makin lama makanan berada di lantai, makin banyak pula bakteri yang menempel. Namun pada kenyataannya, kontaminasi bisa terjadi secepat kilat, apalagi pada makanan yang basah atau lengket dan jatuh di permukaan seperti ubin atau kayu.

Risiko keracunan akibat mengonsumsi makanan yang jatuh memang bervariasi, di mana sebagian peneliti menilai orang dewasa sehat mungkin akan baik-baik saja, tetapi sebagian lain mengingatkan bahwa lantai menyimpan banyak jenis bakteri. Intinya, kalau kamu saja enggan menjilat lantai, sebaiknya jangan makan makanan yang sudah menyentuhnya.

Minyak dalam Air Rebusan Mencegah Pasta Lengket

Ilustrasi/Foto: Freepik/valeria_aksakova

Banyak orang percaya bahwa menambahkan minyak ke air rebusan pasta dapat mencegah mie saling menempel. Padahal, cara ini justru bisa membuat saus sulit menempel pada pasta.

Minyak dan air tidak bisa bercampur sehingga minyak yang dituangkan pada saat pasta direbus akan mengapung di permukaan air dan akhirnya melapisi pasta setelah ditiriskan. Lapisan minyak inilah yang menghalangi saus menempel dengan baik. 

Jika ingin pastamu menjadi hidangan yang lezat dan sempurna, kamu cukup merebusnya dengan air dan garam saja, tanpa minyak. Cara ini akan membuat tekstur dan rasa pasta jauh lebih maksimal.

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

Pilihan Redaksi

(naq/naq)