Banjarmasin (ANTARA) - Kafilah Provinsi Kalimantan Selatan menampilkan identitas budaya daerah pada gelar pawai ta'aruf pada gelar Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional XXXI Tahun 2026 yang berlangsung di Kota Semarang, Jawa Tengah, Sabtu.
Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Provinsi Kalsel Fahrurrazi saat dikonfirmasi di Banjarmasin, Sabtu, menyampaikan, keikutsertaan Kafilah Kalsel dalam pawai ta’aruf MTQ Nasional tersebut menjadi kesempatan untuk memperkenalkan identitas budaya daerah sekaligus menyampaikan pesan keislaman kepada masyarakat luas.
Pada pawai ta'aruf tersebut, ungkap dia, mobil hias kafilah Kalsel mengusung konsep “Cahaya Al-Qur’an dalam Harmoni Budaya Banua”, yakni memadukan nilai-nilai keislaman dengan kekayaan budaya dan kearifan lokal Kalimantan Selatan.
Konsep tersebut sekaligus menjadi visualisasi tema MTQ Nasional XXXI, “Menggali Al-Qur’an, Mewujudkan Generasi Qur’ani”, serta moto Kalsel “Banua Berakhlak, Kalsel Berkah.”
Dalam pawai yang diikuti kafilah dari berbagai provinsi di Indonesia tersebut, ungkap dia, mobil hias Kalsel menampilkan sejumlah ikon yang merepresentasikan kehidupan masyarakat daerah.
Pada bagian utama ditampilkan Al-Qur’an sebagai sumber cahaya dan petunjuk kehidupan, yang menggambarkan semangat melahirkan generasi Qur’ani yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia.
Kemudian menurut Fahrurrazi, nuansa budaya dserah semakin kuat dengan hadirnya ornamen jukung dan Pasar Terapung. Jukung menggambarkan kehidupan masyarakat Kalimantan Selatan yang tumbuh dan berkembang di sepanjang sungai, sekaligus menjadi simbol ketangguhan dan kearifan masyarakatnya.
Sementara Pasar Terapung, terang dia, merepresentasikan kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat yang menjunjung keramahan, kebersamaan, kejujuran, dan amanah.
Kehadirannya menjadi pesan bahwa nilai-nilai Al-Qur’an harus senantiasa hadir dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat.
Mobil hias kafilah Kalsel, ungkap Fahrurrazi, juga memperlihatkan Kain Sasirangan khas Banjar dengan motif dan warna menggambarkan keberagaman yang berpadu dalam harmoni, sekaligus menjadi pesan bahwa kecintaan terhadap Al-Qur’an dapat berjalan selaras dengan pelestarian budaya daerah.
Selanjutnya, kata dia, ikon Masjid Raya Sabilal Muhtadin turut menjadi bagian penting dalam desain mobil hias. Masjid kebanggaan masyarakat Kalsel tersebut merepresentasikan pusat pembinaan umat, pendidikan, dakwah, dan pengembangan nilai-nilai Al-Qur’an.
Kemudian, sepasang pengantin dengan pakaian adat Banjar menggambarkan keberlanjutan generasi serta pentingnya keluarga sebagai tempat pertama menanamkan nilai agama dan akhlak.
Seluruh ornamen tersebut dirangkai menjadi satu cerita tentang kehidupan masyarakat Kalimantan Selatan.
Al-Qur’an menjadi sumber cahaya dan petunjuk, masjid menjadi pusat pembinaan umat, keluarga menjadi tempat lahirnya generasi, budaya menjadi jati diri, sementara sungai dan Pasar Terapung menjadi gambaran kehidupan masyarakat Banua.
Melalui penampilan mobil hias tersebut, Kafilah Kalimantan Selatan tidak hanya memperkenalkan kekayaan budaya daerah kepada masyarakat Indonesia, tetapi juga membawa pesan tentang pentingnya menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman dalam membangun kehidupan yang beriman, berilmu, berbudaya, dan berakhlak.
Pada MTQ Nasional yang berlangsung pada 11-20 September 2026 tersebut, Kalsel mengirim sebanyak 56 qori dan qoriah, diantaranya ada tuna netra, yang mengikuti sejumlah cabang lomba, di antaranya Tartil, Qiraat, Tahfizh, Tafsir, Fahmil Quran, Syarhil Quran, Khat Al-Quran dan Karya Tulis Ilmiah Al Quran (KTIQ).
Pewarta: Sukarli
Editor : Ulul Maskuriah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.