Kala Transisi Energi Jadi Tumpuan Pertumbuhan

2026/08/27

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto mengatakan, target Net Zero Emission (NZE) 2060 harus berjalan beriringan dengan upaya menjaga pertumbuhan ekonomi nasional.

Baca Juga: DEN Pacu Penyusunan RUMGN, Gas Jadi Andalan di Masa Transisi Energi

"Pertumbuhan ekonomi di semester satu itu sudah 5,45 persen. Indonesia dibandingkan negara ASEAN atau di negara G20 termasuk top three di atas. Dan kita bisa mencapai pertumbuhan tinggi dengan inflasi yang rendah," kata Airlangga dalam keterangan tertulis di Jakarta, Kamis (27/8/2026).

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekonomi Indonesia pada semester I-2026 memang tumbuh 5,45% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pada kuartal II-2026, ekonomi tumbuh 5,29% secara tahunan.

Di saat yang sama, aktivitas investasi juga terus meningkat. Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM mencatat realisasi investasi sepanjang semester I-2026 mencapai Rp1.010,6 triliun, tumbuh 7,2% dibandingkan semester I-2025.

Investasi tersebut juga menyerap 1.448.862 tenaga kerja Indonesia atau sekitar 1,45 juta orang. Capaian itu setara 49,5% dari target investasi nasional 2026 sebesar Rp2.041,3 triliun.

Airlangga mengatakan pemerintah ingin memastikan kebutuhan energi dalam proses transformasi ekonomi dapat dipenuhi dari sumber domestik. 

Salah satunya dilakukan melalui diversifikasi energi dan pengurangan ketergantungan terhadap impor.

Pemerintah juga terus memperluas pemanfaatan bahan bakar nabati melalui implementasi Biodiesel 50 atau B50.

"Ketahanan energi menjadi salah satu fondasi untuk menjaga stabilitas perekonomian di tengah dinamika global," ujar Airlangga.

Menurut Airlangga, pemanfaatan energi domestik tidak hanya berkaitan dengan pasokan energi, tetapi juga dapat memberikan dampak terhadap stabilitas harga energi dan inflasi.

Pada saat yang sama, pemerintah mulai mengarahkan pengembangan energi terbarukan agar terhubung dengan kebutuhan industri. 

Pengembangan kapasitas produksi panel surya dalam negeri menjadi salah satu bagian dari strategi tersebut.

Kebutuhan listrik dan gas yang meningkat juga dinilai menunjukkan bahwa aktivitas investasi terus bergerak. Selain sektor manufaktur, perkembangan sektor digital seperti pusat data turut meningkatkan kebutuhan energi.

Artinya, transisi energi tidak berhenti pada pembangunan pembangkit energi terbarukan. Pemerintah juga perlu membangun industri pendukung, infrastruktur energi, serta rantai pasok yang mampu menangkap nilai ekonomi dari perubahan tersebut.

Sektor transportasi menjadi salah satu bidang yang paling terlihat dalam proses transisi energi.

Pemerintah mendorong penggunaan berbagai teknologi rendah emisi, mulai dari biodiesel, kendaraan listrik, kendaraan hybrid, bahan bakar nabati hingga teknologi hidrogen.

Airlangga mengatakan kendaraan hybrid menunjukkan pertumbuhan yang cukup tinggi pada semester I-2026.

"Dengan harga BBM nonsubsidi ikut fluktuasi harga, maka masyarakat juga melihat penggunaan electric vehicle (EV) akan menghemat biaya," kata Airlangga.

"Pada semester satu ini peningkatan pertumbuhan daripada kendaraan yang berbasis hybrid itu 40 persen dibandingkan tahun lalu. Jadi ini angka yang sangat baik, berarti masyarakat sudah ada kesadaran untuk menggunakan tenaga listrik," lanjutnya.

Pertumbuhan kendaraan hybrid tersebut tidak hanya dilihat dari sisi perubahan perilaku konsumen. Pemerintah juga melihat perkembangan kendaraan rendah emisi sebagai bagian dari upaya memperbesar kapasitas industri otomotif nasional.

Pasalnya, semakin besar pasar kendaraan rendah emisi, semakin besar pula kebutuhan terhadap kendaraan, baterai, komponen, serta infrastruktur pendukung.

Pemerintah kemudian mendorong agar kebutuhan tersebut tidak seluruhnya dipenuhi melalui impor. Penguatan produksi kendaraan, baterai dan komponen di dalam negeri menjadi bagian dari strategi untuk meningkatkan kandungan dan nilai tambah domestik.

Perubahan teknologi kendaraan membuat industri otomotif menghadapi perubahan pada rantai pasoknya.

Jika sebelumnya industri otomotif sangat bergantung pada mesin berbahan bakar fosil dan komponennya, elektrifikasi membuat baterai, sistem kelistrikan, perangkat elektronik dan komponen terkait menjadi semakin penting.

Karena itu, pemerintah mendorong pengembangan ekosistem kendaraan listrik sekaligus penguatan industri dalam negeri.

Fokus tersebut juga sejalan dengan strategi hilirisasi yang selama ini diarahkan untuk meningkatkan nilai tambah komoditas di dalam negeri.

Dalam konteks transisi energi, nilai tambah tidak hanya berasal dari produksi energi bersih. Nilai ekonomi juga dapat muncul dari industri yang dibangun untuk memenuhi kebutuhan teknologi tersebut.

Mulai dari panel surya, baterai, kendaraan listrik, komponen otomotif, infrastruktur pengisian daya hingga kebutuhan listrik untuk industri dan pusat data.

Sektor industri sendiri memiliki peran besar dalam perekonomian nasional. Pemerintah mencatat kontribusi sektor industri berada di kisaran 18-19% terhadap perekonomian Indonesia.

Airlangga mengatakan industri otomotif menjadi salah satu sektor yang memiliki efek berganda cukup besar terhadap perekonomian.

Karena itu, transformasi sektor transportasi dipandang dapat memberikan dampak yang lebih luas apabila diikuti dengan penguatan manufaktur dan rantai pasok domestik.

Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Haryo Limanseto mengatakan, perubahan menuju transportasi rendah emisi tidak dapat hanya dilihat dari pergantian teknologi kendaraan.

Menurutnya, pemerintah perlu membangun ekosistem yang memungkinkan perubahan tersebut menciptakan nilai tambah di dalam negeri.

"Transformasi transportasi rendah emisi bukan hanya mengenai perubahan teknologi kendaraan, tetapi juga bagaimana kita membangun ekosistem yang mampu menciptakan nilai tambah di dalam negeri," kata Haryo.

Dia mengatakan ekosistem tersebut membutuhkan dukungan energi, infrastruktur, industri dan rantai pasok nasional.

"Dengan dukungan energi, infrastruktur, industri, dan rantai pasok yang semakin kuat, transisi ini dapat sekaligus menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru dan memperkuat daya saing Indonesia," ujarnya.

Dengan demikian, tantangan pemerintah bukan hanya mengejar target penurunan emisi menuju NZE 2060. Pemerintah juga menghadapi pekerjaan untuk memastikan proses transisi tersebut menghasilkan aktivitas ekonomi di dalam negeri.

Kebutuhan pembiayaan menjadi salah satu faktor penting dalam mengubah transisi energi menjadi sumber pertumbuhan ekonomi.

Realisasi investasi nasional semester I-2026 yang mencapai Rp1.010,6 triliun menunjukkan bahwa arus investasi masih bergerak positif. Namun, pemerintah perlu memastikan sebagian investasi tersebut masuk ke sektor yang mampu memperkuat kapasitas produksi nasional.

Terlebih, kebutuhan investasi akan semakin besar ketika transisi energi diperluas ke berbagai sektor.

Pembangkit energi terbarukan membutuhkan infrastruktur baru. Kendaraan listrik membutuhkan fasilitas produksi dan jaringan pengisian daya. 

Industri membutuhkan pasokan listrik yang andal, sementara pusat data membutuhkan energi dalam jumlah besar.

Di sisi lain, pengembangan industri pendukung dapat membuka kebutuhan tenaga kerja baru.

Data BKPM menunjukkan investasi semester I-2026 menyerap hampir 1,45 juta tenaga kerja langsung. 

Angka tersebut menunjukkan bahwa investasi bukan hanya berkaitan dengan nilai modal yang masuk, tetapi juga dampaknya terhadap aktivitas ekonomi dan lapangan kerja.

Karena itu, keberhasilan transisi energi ke depan tidak hanya akan diukur dari berapa besar emisi yang berhasil ditekan.

Pemerintah juga perlu menunjukkan seberapa besar proses tersebut mampu meningkatkan kapasitas industri nasional, menciptakan lapangan kerja, menarik investasi, serta meningkatkan nilai tambah di dalam negeri.

Airlangga menegaskan pemerintah ingin memastikan agenda pertumbuhan ekonomi tetap berjalan bersamaan dengan komitmen Indonesia terhadap target NZE 2060.

Dengan posisi tersebut, transisi energi mulai memiliki dua fungsi sekaligus: menjaga keberlanjutan lingkungan dan membuka sumber pertumbuhan ekonomi baru.

Jika ekosistem industri, energi, infrastruktur dan rantai pasok domestik dapat berkembang secara bersamaan, kebutuhan akibat transisi energi berpotensi berubah menjadi pasar baru bagi industri nasional.