Jokowi Minta Kader PSI Tahan Diri di Tengah Desakan Pemakzulan Gibran, Partai Malah Siap Pasang Badan

2026/10/14

Rabu, 14 Oktober 2026, 16:39 WIB

Warta Ekonomi, Jakarta -

Desakan pemakzulan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka belum membuat Partai Solidaritas Indonesia (PSI) mengendurkan dukungannya. Namun, Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) disebut meminta kader partai tersebut tetap tenang, menahan diri, dan tidak bergerak sendiri menghadapi dinamika politik yang berkembang.

Arahan itu disampaikan Ketua DPW PSI Jawa Tengah, Antonius Yogo Prabowo, setelah bertemu Jokowi pada Selasa (13/10/2026). Menurut Yogo, Jokowi meminta seluruh pengurus dan kader mematuhi instruksi sekaligus menghormati proses konstitusi yang berjalan.

"Arahannya [dari Jokowi] sabar semuanya, hormati semua proses, dan kita percaya bahwa Mas Gibran sesuai konstitusi baik-baik saja, tapi semuanya harus menahan diri, taat instruksi, terutama kami di PSI, tidak boleh berjalan sendiri," tutur Yogo.

Pesan tersebut memperlihatkan dua hal yang menjadi perhatian PSI saat ini. Di satu sisi, kader diminta tidak bereaksi secara berlebihan terhadap polemik Gibran, sementara di sisi lain partai tetap menyatakan dukungan terhadap wakil presiden tersebut.

Yogo mengatakan Jokowi juga meminta PSI berkonsentrasi memperkuat organisasi. Salah satu pekerjaan yang harus diselesaikan adalah melengkapi struktur kepengurusan hingga tingkat paling bawah agar partai memiliki basis yang lebih kuat.

"Sebagai pendukung Mas Gibran, kita hormati keputusan konstitusi, semua diminta tenang, menahan diri, fokus membesarkan partai dengan melengkapi struktur, sambil terus kita amati dinamika terbaru. Kita tidak tutup mata dengan kondisi terbaru," ujar dia.

Meski diminta menahan diri, PSI tidak menyatakan akan mengambil jarak dari Gibran. Yogo justru menegaskan partainya siap mengawal wakil presiden di tengah berbagai kritik dan desakan politik yang muncul.

"Supaya Mas Gibran juga bisa fokus terus di pekerjaannya, tidak terpengaruh. Kita siap untuk berada di barisan paling depan untuk mengawal dan menjaga Mas Gibran. Tapi semuanya harus tenang, menahan diri, dan taat dengan instruksi," tegas Yogo.

Baca Juga: Andi Arief Demokrat: Gibran Paling Diuntungkan Jika Dibuka di Pansus Ijazah DPR

Yogo juga menanggapi sikap partai-partai koalisi yang dinilai tidak banyak bersuara mengenai polemik ijazah Gibran. Ia menyerahkan sikap masing-masing partai kepada pihak yang bersangkutan, sembari menegaskan posisi PSI yang tetap mendukung wakil presiden.

"Kita tentu serahkan kepada partai-partai bersangkutan. Tapi kalau posisi PSI jelas berada di barisan paling depan dengan mendukung, menjaga mengawal Mas Gibran. Ini amanat konstitusi," katanya.

Ketika ditanya mengenai kelompok yang kerap disebut Geng Solo, Yogo menilai PSI tidak semata-mata bersikap defensif. Ia mengatakan juru bicara partai terus menyampaikan narasi tandingan untuk merespons berbagai tudingan yang diarahkan kepada Gibran.

"Saya pikir tidak ya, juru bicara kami cukup ofensif menyampaikan kebenaran, soal ijazah dengan terang benderang. Kita terus menyuarakan apa yang sebenarnya terjadi. Kami lihat ini sesuatu yang dicari-cari, diada-adakan untuk mungkin mengganggu kerja Mas Gibran," tutur Yogo.

Pernyataan tersebut mencerminkan posisi PSI yang berusaha menjaga dukungan politik terhadap Gibran sekaligus menghindari tindakan kader yang tidak terkoordinasi. Adapun penilaian bahwa polemik ijazah sengaja dimunculkan untuk mengganggu pekerjaan wakil presiden merupakan pandangan Yogo.