Jokowi Dibilang Telat Datang ke Lokasi Gempa NTT, Grace Natalie: Daripada Nyinyir, Lebih Baik Bantu Warga

2026/09/20

Minggu, 20 September 2026 - 09:30 WIB

Jakarta, VIVA – Sekretaris Dewan Pembina PSI Grace Natalie angkat bicara soal kritik terhadap kunjungan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) ke Pulau Palue, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Baca Juga

Sejumlah politisi dan pegiat media sosial sebelumnya menilai kunjungan Jokowi ke wilayah terdampak gempa tersebut terlambat karena dilakukan sekitar sebulan setelah bencana.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Grace menilai anggapan tersebut muncul karena mereka tidak memahami tahapan penanganan bencana. Pernyataan itu disampaikan Grace melalui video yang diunggah di akun Instagram pribadinya pada Sabtu malam, 19 September 2026.

Baca Juga

“Dalam tahapan penanganan bencana, ada fase tanggap darurat, rehabilitasi, dan rekonstruksi. Pada hari-hari pertama yang dibutuhkan makanan, obat-obatan, evakuasi, tenda, dan kebutuhan dasar lain,” kata Grace, dikutip Minggu, 20 Sepetember 2026.

Menurut dia, pemerintah telah menangani kebutuhan masyarakat pada fase awal bencana. Namun, kebutuhan warga berubah seiring berjalannya waktu.

Baca Juga

“Sampai sekarang masih banyak yang bertahan di pengungsian. Rumah-rumah bekum bisa ditempati. Untuk kegiatan belajar mengajar masih dalam keadaan darurat. Gereja rusak dan karena itu, untuk neribadah, jemaat menggunakan tenda,” tutur Grace.

Grace kemudian menjelaskan bantuan yang dibawa Jokowi saat berkunjung ke Palue. Menurutnya, bantuan tersebut bukan berupa kebutuhan tanggap darurat seperti makanan maupun obat-obatan.

Ia menegaskan, bantuan yang dibawa Jokowi ke Palue adalah 4000 zak semen, 3000 lembar seng, dan 100 tandon air. Bukan mie instan, bukan obat-obatan.

“Semen dan seng adalah bahan untuk memperbaiki dan membangun kembali. Sementara tandon air untuk membantu penyediaan air bersih,” kata Grace.

Dia mengatakan, persoalan yang perlu dilihat bukan semata-mata waktu kedatangan Jokowi ke Palue. Menurut dia, kondisi masyarakat pascabencana masih membutuhkan perhatian.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Jadi, lanjut dia, pertanyaannya bukan kenapa baru datang setelah sebulan. Melainkan apakah sebulan setelah gempa, masyarakat Palue sudah pulih.

“Faktanya belum pulih. Selama masih ada warga yang tidur di tenda, anak-anak yang belajar dalam kondisi darurat, rumah yang belum bisa ditempati, dan jemaah yang masih beribadah di tenda karena gerejanya rusak, semua perhatian dan bantuan tidak bisa dikatakan terlambat,” tutur dia.

Halaman Selanjutnya

Dia mengingatkan proses pemulihan setelah bencana tidak bisa disamakan dengan waktu terjadinya bencana yang berlangsung singkat.