Jelang Evaluasi Indeks FTSE Russel dan MSCI, Rupiah Ditaksir Melemah ke Rp19.970

2026/08/07

AKURAT.CO Nilai tukar rupiah diperkirakan masih melemah terbatas pada perdagangan Jumat (7/8/2026) meski berhasil ditutup menguat tipis pada perdagangan hari Kamis (6/8/2026). 

Penguatan dolar Amerika Serikat (AS), ekspektasi kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed), serta penantian hasil evaluasi penyedia indeks global FTSE Russell dan MSCI diperkirakan masih menjadi faktor utama yang membayangi pergerakan mata uang Garuda.

Pada perdagangan Kamis (6/8/2026), rupiah ditutup menguat 10 poin ke level Rp17.923 per USD dari posisi sebelumnya Rp17.934 per USD.

Baca Juga: Sentimen Data PDB RI Belum Berdampak, Rupiah Ditaksir Melemah ke Rp17.980

Meski demikian, penguatan tersebut dinilai masih terbatas karena pelaku pasar cenderung menahan transaksi menjelang rilis sejumlah data penting dari Amerika Serikat dan perkembangan pasar modal domestik.

Pengamat Pasar Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan bergerak fluktuatif, namun berpotensi ditutup melemah di kisaran Rp17.920 hingga Rp17.970 per USD.

"Untuk perdagangan hari ini, mata uang rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif namun berpotensi ditutup melemah di kisaran Rp17.920 hingga Rp17.970 per USD," kata Ibrahim dalam riset hariannya, Jumat (7/8/2026).

Dari sisi global, penguatan indeks dolar AS masih didorong membaiknya sentimen pasar setelah Iran menyatakan telah mencapai kesepakatan dengan Oman terkait koordinasi usulan jalur pelayaran melalui Selat Hormuz.

Kesepakatan tersebut meningkatkan optimisme bahwa distribusi minyak dunia dapat kembali berjalan lebih lancar, meski pembukaan penuh jalur pelayaran tersebut masih menunggu penyelesaian berbagai aspek teknis, termasuk biaya pengiriman, inspeksi kapal, dan pengaturan keamanan.

Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan Washington masih melakukan komunikasi dengan Teheran terkait perkembangan situasi geopolitik.

Namun, pemerintah Iran membantah adanya pembicaraan damai yang tengah berlangsung sehingga ketidakpastian masih membayangi pasar.

Meredanya kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global membuat harga minyak terkoreksi. Kondisi tersebut turut memengaruhi ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan moneter Federal Reserve.

Pelaku pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada September berada di kisaran 55%, turun dibandingkan sekitar 67% dua hari sebelumnya.

Meski demikian, investor masih menunggu kepastian melalui rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat, khususnya laporan nonfarm payrolls yang akan menjadi indikator penting bagi arah kebijakan bank sentral AS.

Sementara dari dalam negeri, sentimen positif datang dari pertumbuhan ekonomi Indonesia yang lebih tinggi dari perkiraan. Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada kuartal II-2026 tumbuh 5,29% secara tahunan (year-on-year).

Angka ini sedikit melambat dibandingkan kuartal sebelumnya yang mencapai 5,61%, namun masih berada di atas ekspektasi pasar. Dengan capaian tersebut, pertumbuhan ekonomi semester I-2026 tercatat sebesar 5,45%.

Meski fundamental ekonomi domestik masih cukup kuat, perhatian investor kini mulai beralih ke hasil evaluasi indeks global yang dijadwalkan berlangsung sepanjang Agustus.

Selain pengumuman hasil tinjauan indeks kuartalan MSCI pada 13 Agustus 2026 yang efektif berlaku pada akhir bulan, pelaku pasar juga menunggu hasil evaluasi FTSE Russell pada periode 10-14 Agustus 2026.

Salah satu isu yang menjadi perhatian adalah status freeze Indonesia yang dinilai dapat memengaruhi aliran dana asing ke pasar modal domestik.

Menurut Ibrahim, reformasi pasar modal yang telah dilakukan regulator menjadi perkembangan positif, namun belum tentu langsung mengubah penilaian penyedia indeks global.

"Perhatian investor pada Agustus tidak hanya tertuju pada hasil peninjauan indeks MSCI, tetapi juga pengumuman FTSE Russell. Walaupun regulator telah melakukan berbagai reformasi pasar modal, hal itu belum menjamin FTSE maupun MSCI akan mengubah sikapnya dalam waktu dekat," ujar Ibrahim.

Besarnya pengaruh keputusan penyedia indeks global tersebut tercermin dari nilai dana pasif yang mengikuti indeks masing-masing. Aset kelolaan (passive assets under management) yang mengikuti indeks MSCI diperkirakan mencapai sekitar USD5 miliar atau setara hampir Rp90 triliun.

Sementara dana pasif yang mengikuti FTSE Russell diperkirakan berada di kisaran USD1,5 miliar hingga USD2 miliar.

Dengan besarnya dana tersebut, setiap perubahan status Indonesia dalam indeks global berpotensi memengaruhi arus modal asing ke pasar keuangan domestik, termasuk pergerakan rupiah dan pasar saham.

Kombinasi sentimen eksternal dari Amerika Serikat dan ketidakpastian keputusan penyedia indeks global diperkirakan masih akan membuat pergerakan rupiah cenderung terbatas dalam jangka pendek.

Meski didukung fundamental ekonomi domestik yang tetap solid, pelaku pasar masih memilih bersikap hati-hati sembari menunggu kepastian dari arah kebijakan moneter The Fed dan hasil evaluasi FTSE Russell maupun MSCI.