AKURAT.CO Bermimpi bertemu Rasulullah SAW menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi seorang Muslim. Tidak sedikit orang yang mengaku melihat Nabi Muhammad SAW dalam tidurnya, bahkan ada yang kemudian menyampaikan pesan tertentu dengan mengatasnamakan Rasulullah.
Namun, Islam mengajarkan agar pengalaman spiritual semacam ini tidak langsung dipercaya tanpa kehati-hatian. Sebab, mimpi dapat memiliki berbagai bentuk, sementara klaim tentang Rasulullah SAW harus memiliki dasar yang kuat.
Lantas, bagaimana ciri seseorang benar-benar bermimpi bertemu Rasulullah SAW?
Rasulullah Bisa Dilihat dalam Mimpi
Dalam hadis sahih, Rasulullah SAW memang menjelaskan bahwa beliau dapat dilihat dalam mimpi.
Nabi Muhammad SAW bersabda:
مَنْ رَآنِي فِي الْمَنَامِ فَقَدْ رَآنِي، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لَا يَتَمَثَّلُ بِي
“Barang siapa melihatku dalam mimpi, maka sungguh ia telah melihatku. Sesungguhnya setan tidak dapat menyerupai diriku.”
Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim.
Hadis tersebut menjadi dasar penting bahwa melihat Rasulullah SAW dalam mimpi merupakan sesuatu yang mungkin terjadi. Namun, hadis tersebut sekaligus mengajarkan bahwa sosok yang dilihat tidak boleh sembarangan langsung disebut sebagai Nabi.
Ciri Utama: Setan Tidak Dapat Menyerupai Rasulullah
Bagian paling penting dari hadis tersebut adalah pernyataan Nabi bahwa setan tidak dapat menyerupai beliau.
Karena itu, pengalaman melihat Rasulullah SAW dalam mimpi memiliki kedudukan khusus dibandingkan mimpi biasa. Akan tetapi, para ulama memberikan perhatian terhadap persoalan bagaimana seseorang mengenali bahwa sosok yang dilihat benar-benar Rasulullah SAW.
Baca Juga: Belajar dari Kasus Kalapas Cibinong: Mengapa Sifat Qanaah dan Amanah Adalah Kunci Kebahagiaan Hakiki?
Dalam hadis lain, Rasulullah SAW bersabda:
فَقَدْ رَآنِي فِي الْيَقَظَةِ، أَوْ لَكَأَنَّمَا رَآنِي فِي الْيَقَظَةِ
“Barang siapa melihatku dalam mimpi, maka ia benar-benar telah melihatku...”
Riwayat-riwayat mengenai hal ini menunjukkan kemuliaan pengalaman tersebut, tetapi tidak berarti setiap sosok berjubah, bersorban, atau mengaku sebagai Nabi dalam mimpi otomatis dapat dipastikan sebagai Rasulullah SAW.
Tidak Cukup Hanya Mengandalkan Pakaian atau Perasaan
Kesalahan yang sering terjadi adalah menganggap seseorang pasti bermimpi bertemu Nabi hanya karena sosok dalam mimpi memakai pakaian Arab, berjubah putih, berjanggut, atau menggunakan sorban.
Padahal, ciri-ciri fisik Rasulullah SAW memiliki keterangan dalam hadis-hadis syamail. Di antaranya, Al-Bara' bin 'Azib RA menggambarkan Rasulullah SAW sebagai sosok yang memiliki tubuh yang tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu pendek, dengan rambut yang tidak terlalu keriting dan tidak pula terlalu lurus.
Dalam riwayat lain, Ali bin Abi Thalib RA menggambarkan beberapa karakteristik fisik Nabi Muhammad SAW.
Karena itu, apabila seseorang ingin menilai pengalaman mimpinya, ia dapat membandingkan gambaran tersebut dengan keterangan yang benar-benar bersumber dari hadis.