Jadi Tamu Kehormatan Utama di EEF ke-11, Prabowo Gaungkan Filosofi Ekonomi Indonesia

2026/09/03

AKURAT.CO Presiden RI, Prabowo Subianto, menyampaikan pidato sebagai tamu kehormatan utama dalam Eastern Economic Forum (EEF) ke-11 di Vladivostok, Rusia, Kamis (3/9/2026).

Mengawali pidatonya, dia menyampaikan terima kasih kepada Presiden Rusia Vladimir Putin dan Pemerintah Federasi Rusia, atas kehormatan yang diberikan kepadanya untuk berbicara dalam forum tersebut.

Prabowo mengatakan, kunjungannya ke Rusia kali ini merupakan kunjungan keduanya pada tahun ini. Dia juga telah lima kali bertemu dengan Putin sejak menjabat sebagai Presiden Indonesia.

Baca Juga: Di Hadapan Putin, Presiden Prabowo Tegaskan Politik Luar Negeri Indonesia Tetap Nonblok

"Hari ini, faktanya, merupakan kelima kalinya sejak saya menjadi Presiden Indonesia saya bertemu dengan Presiden Putin. Saya berharap dapat membalas keramahan yang diberikan Rusia kepada saya dan menyambut Presiden Putin serta banyak dari Anda di Indonesia," kata Prabowo.

Dia turut membahas kedekatan Indonesia dengan Rusia, khususnya kawasan Timur Jauh yang sama-sama memiliki akses ke Samudra Pasifik. Menurutnya, kondisi tersebut seharusnya menjadi penghubung bagi kedua negara.

"Pasifik tidak memisahkan kita. Pasifik menghubungkan kita. Pasifik bukanlah tembok di antara kita. Pasifik adalah jalan raya bagi kedua perekonomian kita," ujarnya.

Prabowo kemudian mengaitkan tema EEF ke-11, yakni "The Far East: Development for the Benefit of People", dengan mandat yang diberikan rakyat Indonesia kepadanya. Filosofi ekonomi Indonesia didasarkan pada realisme, pragmatisme, dan upaya mencapai kebaikan terbesar bagi sebanyak-banyaknya masyarakat.

Baca Juga: Bahlil Dampingi Prabowo ke Rusia, Bahas Kerja Sama Energi

"Kami percaya pada dunia usaha, inisiatif, kreativitas, dan inovasi. Namun, kami juga percaya bahwa pemerintah harus melindungi kelompok yang lemah, mengelola sumber daya nasional dengan baik, memberantas korupsi, dan berinvestasi untuk kebutuhan jangka panjang rakyat dan bangsa," katanya.

Menurut Prabowo, pembangunan tidak semata-mata diukur dari pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari manfaat yang dirasakan langsung oleh masyarakat.

"Pembangunan harus diukur dari meja makan keluarga biasa, apakah anak-anak mendapatkan makanan bergizi, petani memperoleh pupuk dan menjual hasil produksinya dengan harga yang adil, keluarga tinggal di rumah yang layak, kaum muda mendapatkan pekerjaan yang produktif, dan listrik menjangkau setiap rumah di setiap desa," ujarnya.