Namun, kerugian tersebut terutama berasal dari biaya refinancing yang bersifat satu kali (one-off) ketika perusahaan mengganti utang Senior Notes berdenominasi dolar AS menjadi pinjaman bank dalam rupiah.
Baca Juga: Jababeka Teken Fasilitas Pembiayaan Jangka Panjang Rupiah dengan Bank Mandiri untuk Refinancing Senior Notes
Di balik angka rugi tersebut, bisnis operasional Jababeka sebenarnya masih menghasilkan laba operasional Rp524 miliar, meski lebih rendah dibandingkan Rp822,8 miliar pada semester I-2025.
Penurunan itu terutama dipengaruhi perbedaan waktu pengakuan pendapatan penjualan lahan industri di Kendal, bukan karena melemahnya permintaan.
Yang justru menarik perhatian adalah transformasi sumber pendapatan Jababeka. Pendapatan dari Pilar Infrastruktur naik 15% menjadi Rp1,398 triliun, didorong meningkatnya konsumsi listrik tenant, layanan air bersih, pengelolaan kawasan, hingga bisnis logistik melalui Cikarang Dry Port.
Kontribusi bisnis infrastruktur terhadap total pendapatan kini mencapai 57%, meningkat signifikan dari 45% pada tahun sebelumnya. Artinya, lebih dari separuh pemasukan perusahaan kini berasal dari pendapatan berulang (recurring revenue) yang relatif stabil dibandingkan penjualan lahan.
Sebaliknya, pendapatan dari pengembangan lahan dan properti turun 32% menjadi Rp974,9 miliar akibat lebih rendahnya pengakuan pendapatan penjualan lahan industri.
Meski demikian, penjualan bangunan pabrik siap pakai dan rumah justru mengalami peningkatan, menandakan permintaan terhadap properti industri maupun residensial masih cukup sehat.
Secara keseluruhan, pendapatan konsolidasian Jababeka mencapai Rp2,44 triliun, turun 11% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
EBITDA juga turun menjadi Rp747,7 miliar, sementara marjin laba bruto turun menjadi 34% dari sebelumnya 41%, seiring meningkatnya kontribusi bisnis infrastruktur yang memiliki karakter marjin lebih rendah tetapi lebih stabil.
Menurut Wakil Direktur Utama Jababeka, Budianto Liman, rugi bersih yang dilaporkan lebih mencerminkan dampak akuntansi dari proses refinancing dibandingkan kondisi operasional perusahaan.
Rugi bersih yang dilaporkan terutama disebabkan oleh biaya satu kali yang bersifat nonoperasional berupa rugi selisih kurs dan penghentian instrumen derivatif terkait refinancing Senior Notes perusahaan.
"Di luar pos-pos yang tidak berulang tersebut, Jababeka tetap mencatatkan laba pada tingkat operasional," ujar Budianto dalam keterbukaan informasi BEI, dikutip Sabtu (1/8/2026).
Ia menegaskan, permintaan terhadap lahan industri di kawasan Cikarang maupun Kendal masih terjaga, sementara perusahaan terus memperkuat basis pendapatan berulang agar struktur bisnis semakin tahan terhadap siklus penjualan properti.
Hingga akhir Juni 2026, Jababeka telah membukukan marketing sales Rp1,19 triliun, setara 32% dari target tahunan sebesar Rp3,75 triliun.
Sebagian besar penjualan berasal dari Kendal, termasuk transaksi lahan dengan produsen baterai dan produsen peralatan rumah tangga, sedangkan Cikarang memperoleh penjualan dari perusahaan tekstil nasional dan importir bahan bangunan asal Tiongkok.
Ke depan, manajemen optimistis pertumbuhan tenant industri di Cikarang dan Kendal akan terus menopang peningkatan pendapatan utilitas, logistik, dan layanan kawasan.
Dengan semakin dominannya pendapatan berulang, Jababeka berharap memiliki fondasi bisnis yang lebih stabil sekaligus mengurangi ketergantungan pada penjualan lahan sebagai sumber utama pertumbuhan