ISWA manfaatkan metode “Idola” pacu nilai tambah industri olahan kayu

2026/09/25

metode Idola dikembangkan sebagai pendekatan teknologi modifikasi kayu untuk meningkatkan karakteristik material, termasuk kekuatan, stabilitas dimensi dan ketahanan biologis

Jakarta (ANTARA) - Asosiasi Pengusaha Kayu Gergajian dan Kayu Olahan Indonesia atau Indonesian Sawmill and Woodworking Association (ISWA) memanfaatkan metode "Idola" untuk memacu nilai tambah industri olahan kayu nasional melalui penguatan teknologi modifikasi yang mampu meningkatkan kualitas dan daya saing produk.

Ketua Presidium ISWA Jimmy Chandra menyampaikan metode Idola dikembangkan sebagai pendekatan teknologi modifikasi kayu untuk meningkatkan karakteristik material, termasuk kekuatan, stabilitas dimensi dan ketahanan biologis atau durability.

Pengembangan inovasi ini katanya dalam pernyataan yang sudah dikonfirmasi di Jakarta, Jumat, dilakukan melalui kolaborasi dengan Institut Pertanian Bogor (IPB), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta Jaya Cemerlang Industry (JCI).

Jimmy menyampaikan salah satu sasaran pengembangan metode ini adalah meningkatkan kualitas kayu yang sebelumnya berada pada kelas kuat/awet rendah, yakni kelas 5–4, agar dapat mencapai karakteristik kelas kuat/awet yang lebih tinggi, yaitu kelas 2–1.

Menurut dia, tantangan industri kayu saat ini tidak lagi sebatas menghasilkan bahan baku, tetapi bagaimana mengolahnya menjadi material berkinerja tinggi dengan nilai ekonomi lebih besar.

Industri kayu gergajian dan kayu olahan, lanjut Jimmy, memiliki posisi strategis sebagai penyangga industri hilir, khususnya furnitur dan komponen rumahan.

Kayu hutan tanaman atau kayu rakyat juga dinilai berpeluang menjadi sumber bahan baku masa depan karena dapat dikembangkan secara berkelanjutan.

Namun, menurutnya kayu tanaman masih memiliki keterbatasan dari sisi sifat alaminya. Oleh karena itu, teknologi modifikasi kayu dapat digunakan untuk meningkatkan performa material tanpa mengubah identitas kayu tersebut.

Pihaknya juga mendorong perubahan cara pandang terhadap kayu, dari sekadar komoditas menjadi material bernilai tambah. Pengolahan dan inovasi dinilai penting agar produk kayu tidak hanya bersaing berdasarkan harga, tetapi juga berdasarkan kualitas dan performa.

Transformasi teknologi tersebut sekaligus berkaitan dengan efisiensi penggunaan bahan baku, termasuk melalui upaya meminimalkan limbah atau zero waste.

Dari sisi hilir, disampaikan dia, peningkatan performa kayu melalui teknologi modifikasi membuka peluang penggunaan material untuk bangunan, furnitur, decking, moulding, interior, eksterior, dan berbagai produk industri lainnya.

ISWA yang merupakan asosiasi pengusaha kayu gergajian dan kayu olahan ini juga mendorong rantai pasok yang lebih terintegrasi.

Jimmy menekankan inovasi tidak boleh berhenti di laboratorium, dan menegaskan hasil penelitian harus diterjemahkan menjadi proses industri yang efisien, konsisten dan dapat diproduksi dalam skala lebih besar.

Adapun Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat pada semester I 2025, sektor industri agro yang di dalamnya termasuk olahan kayu, menyumbang sebesar 52,07 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) industri nonmigas, 8,96 persen terhadap PDB nasional, serta mencatat pertumbuhan positif sebesar 4,99 persen.

Baca juga: ISWA dorong inovasi kayu rekayasa pacu kontribusi industri pengolahan

Baca juga: Industri kayu gergajian dan olahan siap intensifkan pasar Asia

Baca juga: ISWA nilai potensi pertumbuhan industri furnitur Indonesia besar

Pewarta: Ahmad Muzdaffar Fauzan
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.