Inilah Intelektual Sudan yang Merumuskan Gagasan untuk Gaddafi dan The Green Book yang Tersohor |Republika Online

2026/10/03

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Inilah sosok Sudan yang ikut merumuskan gagasan politik dan pemikiran yang kemudian dituangkan Muammar Gaddafi dalam The Green Book.

Dalam dunia politik dan pemikiran, bintang-bintang bermunculan seperti meteor yang memancarkan cahaya terang, lalu menghilang di balik tirai bayang-bayang.

Sebagian dari mereka pernah memainkan peran penting di kawasan Arab dan Afrika. Seandainya bukan karena nasib buruk dan jauhnya mereka dari sorotan, mungkin mereka akan tetap berada di barisan terdepan di bawah gemerlap ketenaran. Namun, setelah sempat bersinar, satu per satu cahaya mereka meredup.

Salah satunya adalah intelektual besar Sudan, Abdullah Zakaria Idris, salah seorang pemikir terkemuka sosialisme Islam dan salah satu perintis pemikiran nasionalisme Arab yang dipadukan dengan gagasan Afrika.

Namanya mulai mencuat di tengah hiruk-pikuk politik Sudan pada 1960-an. Saat itu, ia berada di antara para pemimpin dan politisi Sudan.

Namun, tidak lama kemudian ia pergi ke negeri lain, membawa serta sari pati pemikiran, pengalaman, dan cita-citanya.

Bersama sejumlah tokoh lainnya, ia ikut membentuk orientasi pemikiran dan politik selama empat dekade, hingga akhir hayat pemimpin negeri tersebut. Abdullah Zakaria sendiri mengembuskan napas terakhirnya pada suatu malam musim panas di Khartoum.

Abdullah Zakaria Idris lahir di Al-Fashir, Sudan bagian barat, pada 1932. Kakeknya adalah Mufti Darfur sekaligus hakimnya, Qadi Idris, seorang ahli fikih yang datang dari wilayah paling utara Sudan pada 1898.

Ia merupakan salah satu dari tiga tokoh yang membantu Sultan Ali Dinar, penguasa Kesultanan Darfur (1898–1916), memperkokoh kekuasaannya dan mengembalikan kejayaan para leluhurnya.

Sultan Ali Dinar merupakan tokoh terkenal yang setiap tahun mengirim mahmil ke Tanah Suci dan mengirim kiswah untuk Ka'bah. Namanya juga dikaitkan dengan Bir Ali atau Abar Ali di barat daya Madinah serta miqat ihram di tempat tersebut.

Ali Dinar menjalin persekutuan dengan Kesultanan Utsmaniyah di Turki dan berperang bersama pasukan Utsmani serta Jerman dalam Perang Dunia I.

Ia mempertahankan Kesultanan Darfur sebagai wilayah yang bebas dan merdeka hingga akhirnya diserbu tentara Inggris dan ia gugur pada 1916.