Infeksi HIV Belum Tentu AIDS, Kenali Bedanya

2026/10/02

CNN Indonesia

Jumat, 02 Okt 2026 20:45 WIB

Infeksi HIV dan AIDS kerap dianggap sebagai penyakit yang sama.
Ilustrasi. Infeksi HIV dan AIDS kerap dianggap sebagai penyakit yang sama. (iStockphoto/MicroStockHub)

Jakarta, CNN Indonesia --

Istilah HIV dan AIDS sering disebut bersamaan hingga keduanya dianggap sebagai penyakit yang sama. Padahal, HIV merupakan virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh, sedangkan AIDS adalah kondisi atau tahap paling lanjut dari infeksi HIV. Bagaimana perbedaan HIV dan AIDS? Berikut penjelasannya.

Mengutip dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), HIV merupakan singkatan dari Human Immunodeficiency Virus. Virus ini menyerang sistem kekebalan tubuh, terutama sel CD4 yang berperan membantu tubuh melawan infeksi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ketika HIV masuk ke tubuh, virus dapat memperbanyak diri dan secara bertahap merusak sel CD4. Jika tidak ditangani, sistem kekebalan tubuh bisa semakin melemah sehingga tubuh lebih sulit melawan berbagai penyakit. Masalahnya, seseorang yang baru terinfeksi HIV belum tentu langsung terlihat sakit.

Pada tahap awal, sebagian orang dapat mengalami gejala mirip flu dalam dua sampai empat minggu setelah terinfeksi. Gejalanya bisa berupa demam atau rasa tidak enak badan. Ada pula orang yang tidak mengalami gejala sama sekali.

Dengan demikian, kondisi tubuh saja tidak bisa digunakan untuk memastikan seseorang terinfeksi HIV atau tidak. Perlu dilakukannya. pemeriksaan HIV untuk mengetahui status infeksi.

Pilihan Redaksi

Lalu, apa itu AIDS?

AIDS merupakan singkatan dari Acquired Immunodeficiency Syndrome. Berbeda dengan HIV yang merupakan nama virus, AIDS menggambarkan tahap paling lanjut dari infeksi HIV ketika sistem kekebalan tubuh sudah mengalami kerusakan berat.

Mengutip CDC, seseorang dapat dikategorikan mengalami AIDS ketika jumlah sel CD4 turun hingga di bawah 200 sel/mm³, atau ketika muncul penyakit tertentu yang menjadi penanda AIDS. Jadi, infeksi HIV bukan berarti seseorang sudah mengalami AIDS.

AIDS dapat ditandai dengan munculnya penyakit atau infeksi tertentu yang memanfaatkan kondisi sistem kekebalan tubuh yang melemah. Kondisi tersebut disebut infeksi oportunistik.

Bagaimana HIV bisa berkembang menjadi AIDS?

[Gambas:Video CNN]

Secara sederhana, infeksi HIV yang tidak diobati dapat berlangsung melalui beberapa tahap. Pada beberapa minggu pertama setelah terinfeksi, seseorang bisa saja tidak mengalami gejala. Ada pula yang mengalami gejala mirip flu, seperti demam, sakit kepala, ruam kulit, dan sakit tenggorokan.

Seiring perkembangan infeksi, HIV perlahan melemahkan sistem kekebalan tubuh. Kondisi ini dapat ditandai dengan pembengkakan kelenjar getah bening, penurunan berat badan, demam, diare, dan batuk.

Ketika daya tahan tubuh semakin lemah, seseorang juga menjadi lebih rentan mengalami penyakit serius, seperti tuberkulosis (TB), meningitis kriptokokus, infeksi bakteri berat, hingga beberapa jenis kanker, termasuk limfoma dan sarkoma Kaposi.

Setelah fase awal, infeksi HIV dapat memasuki tahap kronis. Menurut CDC, tahap kronis dapat berlangsung selama satu dekade atau lebih pada orang yang tidak mendapatkan pengobatan, meski durasinya berbeda pada setiap orang.

Tanpa pengobatan, jumlah HIV dalam tubuh dapat terus meningkat sementara jumlah sel CD4 menurun. Ketika sistem kekebalan sudah mengalami kerusakan berat, infeksi HIV dapat berkembang menjadi tahap paling lanjut, yaitu AIDS.

HIV memang belum memiliki obat yang dapat menghilangkan virus sepenuhnya dari tubuh. Namun, HIV bisa dikendalikan agar tidak berkembang menjadi AIDS dengan terapi antiretroviral atau ARV.

Terapi ini bekerja dengan menghambat kemampuan HIV untuk memperbanyak diri. Dengan pengobatan yang efektif, jumlah virus dalam tubuh dapat ditekan sehingga sistem kekebalan tetap terjaga.

WHO menegaskan bahwa mayoritas orang yang hidup dengan HIV dan mendapatkan terapi ARV tidak akan berkembang menjadi AIDS. Bahkan, HIV kini dapat dikelola sebagai kondisi kronis sehingga orang yang mendapatkan pengobatan dan perawatan yang tepat dapat hidup panjang dan sehat.

Hal tersebut juga membuat gambaran HIV saat ini berbeda dibandingkan beberapa dekade lalu.

(anm/asr)