Pertumbuhan tersebut menunjukkan industri mamin masih menjadi salah satu sektor yang menopang kinerja manufaktur nasional.
Baca Juga: GAPMMI Optimis Industri Makanan-Minuman Lebih Baik Dibanding 2025
Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI), Adhi Lukman mengatakan pertumbuhan industri perlu diikuti kemampuan pelaku usaha beradaptasi dengan kebutuhan pasar yang terus berkembang.
"Pertumbuhan industri makanan dan minuman perlu didukung oleh kemampuan pelaku usaha untuk terus beradaptasi terhadap kebutuhan yang semakin berkembang. Hal ini tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan bahan baku, tetapi juga akses terhadap sumber alternatif, inovasi, dan jaringan mitra yang lebih luas," kata Adhi pada saat konferensi pers Food Ingredients (Fi) Asia Indonesia 2026 di Jakarta, Kamis (27/8/2026).
Perubahan preferensi konsumen menjadi salah satu faktor yang ikut membentuk kebutuhan tersebut. Konsumen semakin memperhatikan aspek kesehatan dalam memilih produk makanan dan minuman.
Kondisi itu membuat pelaku industri tidak hanya membutuhkan pasokan bahan baku dalam jumlah yang cukup, tetapi juga bahan dengan karakteristik yang sesuai untuk pengembangan produk baru.
Kebutuhan tersebut mencakup bahan baku alami dan organik, formulasi untuk produk minuman, hingga teknologi yang dapat membantu industri menghasilkan produk dengan kualitas, keamanan, serta nilai gizi yang sesuai kebutuhan pasar.
Salah satu platform yang mempertemukan pelaku industri dengan pemasok bahan baku dan pengembang teknologi adalah Food Ingredients (Fi) Asia Indonesia 2026. Acara tersebut akan berlangsung pada 16-18 September 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta.
Fi Asia Indonesia 2026 mengusung tema "Elevating Food Standards for a Healthier, Greener Future". Penyelenggaraan tahun ini juga diperluas menjadi 11 hall, dibandingkan tujuh hall pada 2024.
Selain itu, lebih dari 10 Country Pavilions akan hadir. Beberapa negara yang disebut berpartisipasi antara lain Kanada, Australia, Selandia Baru, Korea Selatan, dan Uni Eropa.
Adhi mengatakan keberadaan platform yang mempertemukan pelaku industri, inovator, dan pemangku kepentingan menjadi penting untuk memperluas akses terhadap bahan baku serta solusi pengembangan produk.
Fi Asia Indonesia 2026 juga menghadirkan Natural Ingredients Pavilion, Beverage Ingredients Pavilion, dan New Business Pavilion. Ketiganya diarahkan untuk memberikan akses lebih luas terhadap pilihan bahan baku dan peluang pengembangan produk.
Dari sisi riset, Direktur South East Asia Food and Agriculture Science & Technology (SEAFAST) Center LRI PGKH IPB, Puspo Edi Giriwono, mengatakan pertumbuhan industri perlu dibarengi penguatan inovasi berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi.
Baca Juga: Tolak Cukai MBDK, GAPMMI: Yang Salah Itu Pola Hidup, Bukan Garam dan Gula
"Riset dalam bidang pangan terutama pengembangan bahan baku membuka peluang untuk mengeksplorasi sumber alternatif, meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya, meningkatkan daya saing, serta mengembangkan formulasi yang tetap memenuhi kualitas, keamanan, dan nilai gizi," ujar Puspo.
Menurut Puspo, hubungan antara peneliti dan pelaku industri diperlukan agar hasil riset dapat menjawab kebutuhan industri secara lebih langsung.
Fi Asia Indonesia 2026 turut menghadirkan Innovation Zone, Innovation Tour, Sensory Box, Beverage Hub, Halal Coaching Service, dan Academic to Commercial Showcase.
Berbagai fitur tersebut dirancang untuk mempertemukan pelaku industri dengan perkembangan bahan baku, teknologi, riset, dan tren produk makanan dan minuman.
Dengan pertumbuhan industri mamin yang mencapai 6,51% pada kuartal II 2026, kebutuhan terhadap inovasi dan sumber bahan baku alternatif menjadi bagian dari tantangan pengembangan industri ke depan.