Indonesia Kini Peringkat 7 Produsen Kakao Dunia, Pemerintah Genjot Peremajaan Lahan

2026/09/11

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah telah membuat program hilirisasi kakao dari 2025-2027 menyasar 247.260 hektar (ha) lahan kakao petani, untuk memastikan pasokan bahan baku industri hilir. Upaya yang dilakukan Indonesia untuk meningkatkan pasokan bahan baku itu melalui peremajaan kakao rakyat dan perluasan lahan kakao.

Peremajaan kakao dilakukan untuk menaikkan produktivitas kebun petani yang menurun karena rata-rata berumur tua. Direktur Perbenihan Perkebunan, Kementerian Pertanian Ebi Rubianti menuturkan, posisi Indonesia turun drastis sebagai produsen kakao dunia. Kini Indonesia berada di urutan 7 dengan produksi 200 ribu ton dari nomor tiga dunia.

Ia mengatakan, penyebab penurunan itu karena banyak tanaman produktivitasnya menyusut karena sudah berumur tua. Rata-rata produktivitas kakao dalam negeri 700-800 kilogram (kg) per hektare (ha), padahal di negara lain mencapai 1,5 ton/ha.Seiring hal itu, program hilirisasi kakao dirancang dari 2025-2027 menyasar 247.260 ha lahan kakao petani untuk memastikan pasokan bahan baku untuk industri hilir.

“Ada dua program utamanya yakni peremajaan kakao rakyat dan perluasan lahan kakao,” ujat dia dalam webinar Hari Kakao Nasional: Momentum Mendorong Hilirisasi untuk Kesejahteraan Petani, seperti dikutip dari Antara, Jumat, (11/9/2026).

Perluasan areal kebun kakao sekitar 200 ha telah terlaksana pada 2025 dan peremajaan 4.066 ha. Sementara itu, pada 2026, pemerintah membidik perluasan areal sekitar 71.722 ha dan peremajaan 102.488 ha. Pada 2027, dengan target 59.974 ha terdiri perluasan 19.700 ha dan peremajaan 40.274 ha.

Selain itu, pemerintah memberikan bantuan benih sebanyak 1.000 batang per hektare dan bantuan upah kerja.

Untuk mempercepat program hilirisasi, Ebi mengatakan, saat ini tengah direvisi Keputusan Menteri Pertanian No. 25/Kpts/Kb.020/5/2017 tentang Pedoman Produksi, Sertifikasi, Peredaran, dan Pengawasan Benih Tanaman Kakao.