Indonesia-Australia-RDTL sepakati pertukaran informasi Intelijen

2026/08/04

Indonesia-Australia-RDTL sepakati pertukaran informasi Intelijen

Selasa, 4 Agustus 2026 16:12 WIB

Image Print

Trilateral Meeting antara Divisi Hubungan Internasional (Divhubinter) Polri, Australian Federal Police (AFP), dan Policia Nacional de Timor-Leste (PNTL) yang berlangsung di Polres Belu, Nusa Tenggara Timur. ANTARA/HO-Humas Polda NTT

Kupang (ANTARA) - Negara Indonesia bersama Australia dan Republik Demokratik Timor Leste (RDTL) menyepakati penguatan mekanisme pertukaran informasi intelijen sebagai langkah strategis mencegah dan menindak berbagai bentuk kejahatan transnasional yang memanfaatkan kawasan perbatasan sebagai jalur operasi.

Kabid Humas Polda NTT Kombes Pol Henry Novika Chandra di Kupang, Selasa mengatakan Polda NTT siap menindaklanjuti hasil pertemuan melalui jajaran kewilayahan agar kesepakatan yang dicapai diwujudkan dalam langkah operasional yang terukur.

"Kapolda NTT menegaskan sinergi antara Polri, AFP, dan PNTL harus terus diperkuat melalui komunikasi yang intensif, pertukaran informasi yang cepat, serta koordinasi yang efektif agar setiap potensi ancaman kejahatan transnasional dapat dideteksi dan ditangani sejak dini," kata Henry.

Kesepakatan itu mengemuka dalam Trilateral Meeting antara Divisi Hubungan Internasional (Divhubinter) Polri, Australian Federal Police (AFP), dan Policia Nacional de Timor-Leste (PNTL) yang berlangsung di Polres Belu, Nusa Tenggara Timur.

Dalam pertemuan itu, ketiga negara berharap kesepakatan tersebut semakin memperkuat sistem respons bersama dalam memberantas kejahatan transnasional sekaligus menjaga stabilitas keamanan di kawasan perbatasan Indonesia-Timor Leste dan jalur menuju Australia.

Penerjemah Madya Divhubinter Polri Kombes Pol. Juara Silalahi dalam keterangan yang diterima di Kupang, Selasa, mengatakan ancaman kejahatan transnasional tidak mengenal batas negara sehingga memerlukan respons bersama melalui kerja sama yang lebih erat.

"Pertemuan trilateral ini merupakan wujud nyata komitmen kita untuk tidak bekerja sendiri dalam menghadapi ancaman yang tidak mengenal batas negara," ujarnya.

Melalui forum ini, kata dia, dia berharap terbangun mekanisme pertukaran informasi intelijen yang lebih cepat, akurat, dan aman, sehingga berbagai ancaman dapat dicegah sejak dini.

Ia mengatakan seluruh hasil pembahasan akan menjadi bagian dari penguatan kerja sama kepolisian lintas negara, termasuk mempercepat pertukaran informasi di lapangan sebagai kunci utama mencegah kejahatan transnasional.

Menurut dia, kawasan perbatasan Indonesia-Timor Leste yang berdekatan dengan Australia memiliki posisi strategis sehingga memerlukan pengawasan bersama terhadap aktivitas jaringan kriminal internasional.

Federal Agent AFP Dili Sarah Hammond mengatakan Indonesia, Timor Leste dan Australia menghadapi tantangan keamanan yang saling berkaitan karena kedekatan geografis ketiga negara.

"Kami melihat jaringan kejahatan masih memanfaatkan jalur laut dan darat di kawasan ini sebagai rute transit. Ancaman tersebut tidak dapat ditangani oleh satu negara saja, sehingga pertukaran informasi dan kerja sama trilateral menjadi sangat penting," ujarnya.

AFP, kata dia, berkomitmen memperkuat kolaborasi dengan Polri dan PNTL dalam penanganan penyelundupan manusia, perdagangan orang, peredaran narkotika, hingga penyelundupan bahan kimia ilegal.

Senada dengan itu, Chief Superintendent Border Police Unit PNTL Calisto Gonzaga mengatakan penguatan pertukaran informasi intelijen perlu diikuti peningkatan patroli bersama, operasi gabungan, dan pengembangan kapasitas personel guna mempersempit ruang gerak pelaku kejahatan lintas negara.

Dalam sesi diskusi, ketiga delegasi itu juga membahas berbagai persoalan aktual di wilayah perbatasan, mulai dari penyelundupan orang dan barang, perdagangan orang, pencurian ternak, pencurian kendaraan bermotor, hingga pelintas batas ilegal yang masih memanfaatkan jalur laut dan jalur tidak resmi.

Pewarta : Kornelis Kaha
Editor: Hery Sidik
COPYRIGHT © ANTARA 2026