AKURAT.CO IHSG sudah mengalami kenaikan sekitar 18% sejak awal semester II 2026. Namun, setelah reli sebesar itu, pertanyaan pasar mulai berubah. Bukan lagi sekadar apakah indeks bisa naik, melainkan apa yang dapat menjadi bahan bakar untuk kenaikan berikutnya.
Setelah mengalami re-rating cukup cepat, ruang bagi IHSG untuk kembali mengandalkan sentimen menjadi lebih terbatas. Pasar membutuhkan bukti baru berupa kinerja laba emiten, arus dana asing yang semakin luas, serta kondisi eksternal yang tetap mendukung.
Head of Research PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto mengatakan tiga faktor tersebut akan menjadi perhatian investor untuk menentukan arah pasar selanjutnya.
“Setelah re-rating yang cukup cepat, investor tidak bisa hanya mengandalkan kenaikan indeks. Next leg dari pasar akan membutuhkan earnings delivery dan foreign flows yang lebih luas. Karena itu, pasar akan semakin selektif,” ujar Rully. dalam acara Media Day by Mirae Asset, Selasa, 15 September 2026.
Artinya, kenaikan 18% bukanlah garis akhir. Justru setelah re-rating terjadi, standar yang harus dipenuhi pasar menjadi lebih tinggi. Harga saham yang sudah meningkat membutuhkan dukungan fundamental dan aliran dana agar momentum dapat berlanjut.
Re-Rating Sudah Terjadi, Lalu Apa Penggerak Berikutnya?
Re-rating merupakan kondisi ketika investor bersedia memberikan valuasi yang lebih tinggi terhadap suatu saham atau pasar. Harga dapat meningkat bukan hanya karena laba perusahaan bertambah, tetapi juga karena pasar menilai prospek ke depan lebih positif.
Situasi tersebut membantu menjelaskan mengapa IHSG dapat mengalami kenaikan yang relatif cepat. Ketika persepsi investor membaik, valuasi dapat bergerak lebih dahulu sebelum seluruh dampak positif tercermin dalam laporan keuangan.
Masalahnya, re-rating tidak bisa menjadi satu-satunya mesin kenaikan tanpa batas. Semakin tinggi harga dan valuasi, semakin besar pula ekspektasi yang harus dipenuhi perusahaan.
Di titik inilah earnings delivery menjadi penting. Pasar membutuhkan bukti bahwa optimisme yang sudah tercermin dalam harga saham memiliki dasar berupa kinerja perusahaan yang nyata.
Dengan kata lain, setelah harga berlari lebih dulu, laba harus mengejar.