Jakarta (ANTARA) -
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan masyarakat untuk tidak memberikan telur mentah atau setengah matang kepada bayi dan anak karena berisiko mengandung bakteri Salmonella yang dapat menyebabkan infeksi saluran cerna.
"Telur mentah atau setengah matang tidak dianjurkan untuk diberikan kepada bayi dan anak, terutama karena risiko keamanan pangan," ujar Ketua Pengurus Pusat IDAI Dr. dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp. Kardio(K), dalam pernyataan tertulis yang diterima ANTARA di Jakarta, Senin.
Pernyataan tersebut disampaikan di tengah perhatian masyarakat terhadap kasus bayi di Surabaya, Jawa Timur, yang dilaporkan meninggal setelah diduga diberi telur mentah oleh anggota keluarganya. Informasi tersebut menjadi salah satu topik yang diperbincangkan di media sosial beberapa hari belakangan.
Baca juga: Ahli UGM: Konsumsi telur mentah berdampak buruk bagi kesehatan
Infeksi Salmonella atau salmonelosis dapat menimbulkan gejala berupa diare, demam, nyeri perut, muntah, dan dehidrasi. Pada bayi dan anak kecil, infeksi dapat berlangsung lebih berat dan berpotensi menimbulkan komplikasi serius.
Piprim menegaskan pemberian makanan kepada bayi harus memperhatikan usia, kebutuhan gizi, kesiapan perkembangan, dan keamanan pangan.
"ASI merupakan makanan terbaik bagi bayi," ujar dia.
IDAI mendukung rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk memberikan ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan. Pemberian makanan pendamping ASI (MPASI) secara umum dimulai ketika bayi berusia enam bulan dan dilanjutkan bersama ASI hingga usia dua tahun atau lebih.
Dalam kondisi tertentu, MPASI dapat dipertimbangkan sejak usia empat bulan berdasarkan penilaian dokter dan kesiapan perkembangan bayi. Namun, pemberian MPASI sebelum usia empat bulan tidak dianjurkan.
IDAI juga menjelaskan telur yang dimasak hingga matang dapat menjadi sumber protein berkualitas tinggi dan mengandung zat gizi penting bagi pertumbuhan anak. Telur dapat diperkenalkan sebagai salah satu bahan MPASI sesuai usia dan kesiapan bayi.
"Pastikan telur dimasak hingga putih dan kuning telurnya matang," kata Piprim.
Selain memperhatikan kematangan telur, orang tua dan pengasuh diimbau menjaga kebersihan saat mengolah makanan, mencuci tangan dan peralatan, mencegah kontaminasi silang, serta menghindari penggunaan telur yang retak atau rusak.
IDAI meminta masyarakat berkonsultasi dengan dokter apabila memiliki pertanyaan mengenai kecukupan ASI, waktu memulai MPASI, kesiapan makan, maupun pilihan makanan yang aman bagi bayi.
Baca juga: Dokter: Efek defisiensi besi pada perkembangan otak bayi bisa menetap
Baca juga: Wamenkes: Puskesmas ramah ibu-anak bantu cegah kematian ibu dan bayi
Baca juga: IDAI promosikan kampanye rantai dukungan hangat bagi ibu menyusui
Baca juga: Pola makan ayah bisa pengaruhi kesehatan bayi
Pewarta: Farika Nur Khotimah
Editor: Natisha Andarningtyas
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.