Jakarta (ANTARA) - Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyebut bahwa usia anak lebih rentan terkena penularan penyakit influenza tipe A maupun B dibandingkan orang dewasa.
“Jangan heran, anak itu tingginya kan masih di bawah dewasa. Merekalah yang kalau kita bicara, kita bersin, kita batuk, akan menghirup semua partikel-partikel halus. Sehingga merekalah yang berisiko tertular,” kata Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Infeksi penyakit Tropik IDAI Prof. Dr. Dr. Anggraini Alam, Sp.A, Subsp. IPT (K) dalam diskusi daring di Jakarta, Jumat.
Anggraini menyampaikan dalam kelompok anak, pihak yang paling berisiko adalah anak-anak berusia di bawah 5 tahun, anak yang dititipkan di Tempat Penitipan Anak (TPA) karena penuh orang dengan minim ventilasi, adanya kelainan neurologi atau tumbuh kembang, tinggal di fasilitas perawatan dalam jangka waktu lama dan tinggal di area yang padat.
Menurutnya, risiko anak lebih tinggi mengalami infeksi karena sistem kekebalan tubuhnya yang masih berkembang dan belum memiliki pengalaman terpapar oleh berbagai virus. Tubuh anak juga cenderung berukuran lebih kecil, sehingga lebih mudah menghirup virus atau partikel yang berterbangan di udara.
Baca juga: Perilaku PHBS memutus mata rantai penyebaran virus influenza di RI
Anak yang sudah terinfeksi influenza juga dapat menyebarkan virus dalam waktu lebih lama. Dokter lulusan Universitas Padjajaran itu menyampaikan kondisi serupa dapat terjadi pada pasien dengan sistem kekebalan tubuh yang terganggu (immunocompromised).
Anggraini yang juga menjabat sebagai Ketua IDAI Cabang Jawa Barat itu selanjutnya menyebut sekitar 5 persen anak yang mengalami influenza memerlukan perawatan di rumah sakit. Kemudian, sekitar 80 persen pasien berusia di bawah 2 tahun, dengan separuhnya merupakan bayi berusia kurang dari enam bulan.
Gejala yang dialami oleh penderita influenza akan lebih berat dan berlangsung dengan cepat. Beberapa gejalanya adalah hidung tersumbat, sakit tenggorokan, demam tinggi, kelelahan dan kehilangan nafsu makan.
Baca juga: Cukup tidur bantu anak terhindar dari influenza ketika cuaca ekstrem
Penderitanya dapat merasa pegal-pegal hebat di seluruh area tubuh dan hidung yang berair. Waktu pemulihan pun butuh durasi yang lebih panjang hingga berminggu-minggu.
Cara pencegahan yang ia rekomendasikan yakni dengan menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) seperti rajin mencuci tangan dan mengonsumsi makanan sehat serta mencukupi cairan tubuh. Kini, vaksinasi untuk melindungi dari influenza pun sudah tersedia bagi masyarakat.
Ia mengatakan berjemur di bawah sinar matahari, membuka jendela agar sirkulasi udara menjadi baik dan mengurangi aktivitas di dalam ruang ber-AC yang dikerumuni banyak orang juga bisa menjadi bentuk pencegahan dari penularan influenza.
Bagi pihak yang membutuhkan obat-obatan, Anggraini menilai paracetamol masih diperbolehkan, namun untuk antibiotik tidak terlalu dianjurkan mengingat virus influenza dapat menyebar dan menempel ke berbagai permukaan barang.
Pewarta: Hreeloita Dharma Shanti
Uploader : Naryo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.