Liputan6.com, London - Inggris mengancam akan mengusir satu diplomat Israel. Hal ini sebagai "balasan" atas setiap diplomat Inggris yang dipaksa meninggalkan Israel menyusul keputusan Israel menutup konsulat Inggris di Yerusalem Timur pada akhir pekan ini.
Ancaman tersebut berpotensi membuat hingga 27 diplomat Israel diusir dari Inggris. Langkah itu dinilai dapat menjadi titik terendah dalam hubungan diplomatik Inggris dan Israel sejak pembentukan negara Israel.
Dikutip dari The Guardian, Selasa (7/10/2026), ancaman pengusiran massal tersebut pertama kali dilaporkan surat kabar Israel, Ynet, yang mengutip pesan yang dikirim kepada para pejabat Israel. Kementerian Luar Negeri Inggris tidak membantah laporan tersebut secara langsung, tetapi mengatakan tidak akan berkomentar mengenai spekulasi.
Israel mengancam menutup konsulat Inggris di Yerusalem Timur sebagai bentuk protes terhadap keputusan Inggris melarang perdagangan barang dari permukiman Israel ilegal di Tepi Barat yang diduduki.
Inggris juga menjatuhkan sanksi terhadap perusahaan-perusahaan Inggris yang membantu, mendukung, atau memfasilitasi pembangunan permukiman ilegal Israel lebih lanjut.
Mantan Jaksa Agung Inggris Dominic Grieve secara informal telah memberikan masukan kepada Kementerian Luar Negeri Inggris bahwa Israel bertindak melanggar hukum jika menutup konsulat dengan alasan lokasinya berada di Yerusalem Timur.
Wilayah tersebut diakui oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan sebagian besar negara anggotanya, termasuk Inggris, sebagai wilayah Palestina yang diduduki.
Menteri Luar Negeri Israel Gideon Sa'ar sebelumnya menyebut keputusan Inggris menjatuhkan sanksi sebagai tindakan yang "menyimpang secara moral". Ia juga menuduh Partai Buruh yang berkuasa di Inggris bersikap bermusuhan terhadap Israel.
Kementerian Luar Negeri Israel menyatakan konsulat Inggris akan ditutup pada Kamis. Konsulat tersebut terpisah dari Kedutaan Besar Inggris yang berbasis di Tel Aviv dan memiliki peran diplomatik tersendiri, mencakup Yerusalem Timur, wilayah Tepi Barat lainnya, serta Gaza.
Konsulat itu berada di kawasan Sheikh Jarrah, Yerusalem Timur.
Seorang sumber diplomatik Israel mengatakan tidak ada alasan bagi pihaknya untuk menanggapi spekulasi mengenai keputusan yang mungkin atau tidak mungkin diambil negara lain di masa depan.
"Kami telah menunjukkan bahwa setiap langkah yang diambil terhadap Israel akan dibalas dengan respons yang sesuai, dan hal itu akan terus dilakukan," kata sumber tersebut.
Penasihat Keamanan Nasional Inggris Jonathan Powell sebelumnya melakukan perjalanan ke Yerusalem pada pekan lalu untuk berupaya membujuk pemerintah Israel agar membatalkan atau menunda penutupan konsulat. Namun, pembicaraan tersebut gagal.
Powell dilaporkan menentang keputusan Menteri Luar Negeri Inggris Ed Miliband untuk melanjutkan larangan perdagangan terkait permukiman Israel. Ia khawatir kebijakan tersebut justru dapat menguntungkan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dalam pemilihan umum pada 27 Oktober.
Netanyahu tengah berupaya memperkuat argumennya bahwa hanya kepemimpinannya yang dapat menjamin keamanan Israel.