Dua surat Harp berkaitan dengan perjalanan Trump pada Mei 2023 ke lapangan golf miliknya di Aberdeen dan Turnberry, Skotlandia, serta Doonbeg, Irlandia. Surat ditulis ketika perjalanan berlangsung atau tidak lama setelahnya.
Harp ikut dalam rombongan tersebut. Ia terlihat dalam foto saat turun dari Trump Force One, julukan bagi pesawat pribadi Trump, di Aberdeen dan ketika berada di lapangan golf Turnberry.
Salah satu surat berisi permintaan maaf atas sejumlah kejadian selama perjalanan. Dari isinya, Harp tampak khawatir telah membuat Trump kesal.
"Maaf. Saya pikir hanya saya yang tertinggal tadi malam dan sama sekali tidak tahu bahwa mobil Margot pun dihentikan dan diminta kembali ke bandara."
Margot yang dimaksud tampaknya adalah Margot Martin, yang kini menjadi penasihat komunikasi Gedung Putih. The Daily Beast telah memastikan bahwa Martin ikut dalam perjalanan tersebut.
Harp lalu menceritakan momen ketika dirinya berada sendirian di dalam sebuah van di luar area Bea Cukai tanpa membawa paspor. Situasi itu membuatnya panik hingga menghubungi Trump.
"Karena saya sendirian di dalam van di luar Bea Cukai, tanpa paspor, saya panik dan seharusnya langsung menelepon Secret Service, bukan Anda."
Secret Service merupakan dinas yang antara lain bertugas melindungi presiden AS.
Dalam surat yang sama, Harp meminta maaf karena berjalan kaki di lapangan golf alih-alih menggunakan mobil golf.
"Jika ada hal lain yang saya lakukan hingga membuat Anda kesulitan, mohon maafkan saya."
Foto-foto dari perjalanan tersebut memperlihatkan Harp berada di lapangan golf, sesuai dengan cerita dalam suratnya.
Permintaan maaf itu kemudian berkembang menjadi curahan perasaan yang lebih pribadi. Harp mengungkap keinginannya agar hubungannya dengan Trump selalu baik. Ia mengaku sulit berkonsentrasi sepanjang pekan tersebut hingga lupa makan dan hanya tidur beberapa jam.
"Saya ingin segala sesuatu di antara kita selalu baik-baik saja. Saya tahu sepanjang minggu ini pikiran saya tidak fokus—lupa makan sepanjang hari, bahkan lupa tidur, dan hanya tidur beberapa jam setiap kali."
Komentar orang lain rupanya sempat mengusiknya. Bukan karena Harp memedulikan pendapat mereka, melainkan lantaran ia takut Trump tidak lagi memandang dirinya sebaik sebelumnya.
"Bukan karena saya peduli dengan apa yang dipikirkan orang lain, tetapi karena saya merasa nilai saya turun di mata Anda dan penilaian baik Anda terhadap saya memudar. Itulah ketakutan yang Anda lihat, karena saya tidak pernah ingin membawa apa pun kepada Anda selain kebahagiaan."
Dalam surat tersebut, Harp berterima kasih kepada Trump dan menyebutnya sebagai "Penjaga dan Pelindung" dalam hidupnya.
Surat kedua bernada lebih intim. Harp berterima kasih kepada Trump karena perjalanan tersebut membuatnya benar-benar lepas sejenak dari rutinitas pekerjaan.
Ia secara khusus mengenang waktu yang dihabiskan bersama Trump di lapangan golf. Pada saat itulah Harp merasa tidak harus terus menjalankan perannya sebagai "Human Printer".
"Kita bisa berada di lapangan, tanpa perangkat apa pun, bahkan lupa pukul berapa saat itu! Saya tidak harus menjadi 'Human Printer'. Saya bisa meluangkan waktu untuk menikmati percakapan yang menyenangkan dan tetap menyelesaikan semua pekerjaan saya pada akhir hari. Bahkan, saya punya waktu untuk berjalan-jalan lama pada pagi dan sore hari sambil menikmati setiap matahari terbit dan terbenam, meskipun saya memang lupa makan dan tidur!"
Dalam surat tersebut, Harp menyinggung suasana hatinya yang terkadang "sedikit negatif". Ia mengaku tidak menyadari dirinya sudah mendekati titik kelelahan berat atau burnout.
Kondisi itu membuat Harp mulai iri kepada perempuan-perempuan yang menurutnya hanya perlu berbicara dengan Trump dan tampil cantik.
"Saya sama sekali tidak menyadari betapa cepatnya saya mendekati titik burnout dan mulai iri kepada mereka yang satu-satunya 'pekerjaan' tampaknya hanya berbicara dengan Anda dan tampil cantik. Saya ingin pekerjaan itu!!"
Harp lantas menggambarkan kesibukannya menangani berbagai keperluan untuk Trump hingga tidak sempat memperhatikan penampilan sendiri.
"Sering kali, saya hanya berusaha tetap bertahan menghadapi begitu banyak hal yang masuk untuk Anda sampai saya terlihat bungkuk dan tidak sempat merapikan diri. Setidaknya Anda tahu seperti apa seharusnya penampilan saya!"
Harp, yang pernah menjadi presenter One America News Network (OAN), mengaku merindukan masa ketika masih menjadi pembawa acara dan Trump kerap meneleponnya.
Sebelum masuk menjadi staf, Harp merasa hubungannya dengan Trump berbeda. Ia menempatkan dirinya di antara dua posisi: sebagai staf dan sebagai orang yang biasa diajak Trump berbincang santai di pesawat atau ketika makan malam.
"Saya selalu merasa berada di tengah-tengah, antara menjadi staf dan menjadi orang yang Anda senang ajak berbicara di pesawat atau saat makan malam. Dahulu, ketika saya masih menjadi 'pembawa acara', memang seperti itulah posisi saya bagi Anda, meskipun saya sebenarnya membenci pekerjaan itu."
"Saya berharap bisa mendengar setiap percakapan, karena saat itulah Anda bersenang-senang, menjauh sejenak dari semuanya, setidaknya selama beberapa saat."
Dalam surat keduanya, Harp menyebut tulisannya sebagai bentuk "analisis diri". Ia menulis bahwa tujuannya adalah membuat Trump bangga.
"Dan tolong, ketika saya gagal, maukah Anda memberi tahu saya?"
Ia bahkan memberi Trump keleluasaan untuk menegurnya dengan keras apabila melakukan kesalahan.
"Anda sepenuhnya berhak memaki saya jika memang perlu, ketika saya pantas mendapatkannya, karena tidak ada seorang pun yang lebih mengenal atau lebih peduli kepada saya daripada Anda."