Heart Rate Vs Ego Sama-sama Tinggi? Wajib Tahu ‘Red Flags’ Jantung Mau Kolaps

2026/10/03

Jakarta -

Olahraga lari kini sudah menjadi bagian dari gaya hidup. Ikut event maraton dan melintasi garis finish tentu jadi momen yang membanggakan bagi para pelari.

Namun, tak sedikit pelari amatir yang nekat menyelesaikan jarak puluhan kilometer padahal kondisi tubuhnya sedang tidak baik-baik saja.

Salah satu masalah yang diabaikan adalah rasa tidak nyaman di area dada. Banyak pelari menganggap keluhan tersebut cuma kecapekan biasa dan malah mengabaikannya. Padahal, memaksakan terus berlari bisa berdampak fatal bagi organ vital seperti jantung.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tanda-tanda 'Red Flag' Jantung Mulai Kewalahan

Banyak pelari amatir membayangkan gejala masalah jantung selalu berupa rasa sakit yang menancap tajam di dada sebelah kiri. Padahal, red flags dari organ jantung memiliki cakupan area yang jauh lebih luas.

Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah, Dr dr Isman Firdaus, Sp. JP(K), FIHA, FESC, FSCAI mengatakan, terdapat bagian tubuh lain yang bisa merasakan gangguan saat jantung kelelahan.

"Di bawah rahang sampai di atas pusar. Termasuk di belakangnya, punggung, pundak nggak nyaman. Atasnya rahang, leher. Dari sebelah kiri, dada kiri, dada kanan, ulu hati. Kala udah nggak nyaman, itu saat lari stop aja dulu," jelas dr Isman kepada detikcom, Selasa (29/9/2026).

Jika rasa tidak nyaman muncul di area-area tersebut, baik berupa rasa berat, tertekan, panas di ulu hati, hingga pegal yang tidak wajar di leher atau punggung, itu adalah sinyal tubuh untuk segera berhenti berlari.

Jantung "Megap-megap" Kurang Oksigen

dr Isman menjelaskan, ketika pelari amatir memaksakan terus berlari saat detak jantung melampaui batas aman (di atas 85% Max HR) tanpa adanya pembiasaan, risiko penyempitan pembuluh darah koroner yang tak terdeteksi bisa mulai menunjukkan dampak.

Otot jantung yang dipaksa bekerja ekstra tanpa pasokan darah dan oksigen yang cukup akan mengalami kondisi medis yang dinamakan hipoksia.

"Ketika dia lari kontraksi sudah mencapai batasan, heart rate-nya lebih dari 85% maksimal mulai terjadi, namanya kondisi otot jantung yang hipoksia. Hipoksia itu kurang oksigen, otot jantungnya langsung megap-megap dia," ucapnya.

Saat otot jantung "megap-megap" karena kehabisan oksigen, sistem kelistrikan jantung yang terkoordinasi bisa mendadak berantakan.

dr Isman mengatakan, setiap bagian otot jantung berisiko mengeluarkan sinyal listrik sendiri secara liar, memicu kejang jantung (ventricular fibrillation) yang berujung pada henti jantung mendadak (sudden cardiac arrest).

Tak Harus Turuti Ego

Ego untuk tampak kuat dan menyamai tempo pelari lain sering kali membuat pelari amatir mengabaikan kapasitas diri.

Padahal, adaptasi fisik dan daya tahan jantung seseorang yang baru menekuni lari sangat jauh berbeda dibanding atlet atau pegiat olahraga lari yang sudah berlatih bertahun-tahun.

dr Isman mengingatkan agar para pelari amatir tidak memaksakan diri mengikuti orang lain.

"Buat yang masih baru olahraga, bukannya nggak boleh, ikut aja nggak apa-apa. Tapi, jangan dipaksain untuk ngebut ngikutin para profesional yang udah terbiasa lari. Jalan aja biasa, lari biasa. Kalau udah capek itu, jangan dipaksain," ujarnya,

"Jangan tebak-tebakan, jantung kan nggak boleh tebak-tebakan," imbaunya.

Halaman 2 dari 2

Simak Video "Video Mitos-Fakta: Jantung Bocor, Penyebab Hingga Gejalanya"
[Gambas:Video 20detik] (aur/up)

Tren Flexing Heart Rate

6 Konten

Ribut-ribut antara dokter jantung vs netizen kembali meramaikan jagat maya. Kali ini, pendapat dokter jantung tentang HR Max atau denyut jantung maksimal saat berolahraga didebat oleh netizen yang merasa hitungan sang pakar tidak masuk logikanya.

Konten Selanjutnya