Harga minyak Brent menembus $110 per barel pada Jumat (16/8) di tengah menipisnya harapan akan adanya perbaikan pasokan dalam waktu dekat. Kondisi ini mendorong para pedagang meningkatkan spekulasi akan kenaikan harga lebih lanjut menjelang akhir pekan.
Mengutip Bloomberg, harga minyak acuan global ini naik 3,7% dan mencatatkan kenaikan mingguan untuk kedua kalinya secara berturut-turut. Sentimen kenaikan harga muncul di tengah sesi perdagangan yang diwarnai oleh laporan terkait konflik yang terus berlangsung di pusat-pusat ekspor utama.
Kelompok pemberontak Houthi yang didukung Iran terus menggempur Arab Saudi dengan serangan rudal dan pesawat nirawak. Sedangkan Rusia dan Ukraina masih saling melancarkan serangan terhadap infrastruktur energi masing-masing.
Harga minyak terakhir kali mencapai level US$ 110 hampir lima bulan lalu, ketika terhentinya arus minyak mentah dan bahan bakar global memicu kesepakatan yang rapuh dan berumur pendek, yang sempat membuka kembali Selat Hormuz.
Saat ini, volume kargo yang melintasi jalur air utama tersebut mendekati tingkat sebelum perang. Jumlah minyak mentah yang diangkut mencapai lebih dari 100 juta barel pada pekan lalu.
Meski demikian, harga minyak tetap tinggi, sehingga pilihan yang dimiliki Presiden AS Donald Trump untuk menekan biaya energi menjelang pemilihan paruh waktu pada 3 November kian terbatas.
Pada Jumat (16/10), para anggota parlemen AS mengajukan rancangan undang-undang untuk menghalangi kesepakatan Trump dengan Moskow terkait pelepasan ratusan juta barel bahan bakar diesel. Langkah legislatif ini mencerminkan penolakan luas terhadap upaya apa pun yang memungkinkan Rusia menambah dana untuk membiayai perang.
“Setelah sempat mereda, pasar minyak kini harus kembali memperhitungkan risiko, terutama menjelang akhir pekan,” ujar Rebecca Babin, seorang pedagang energi senior di CIBC Private Wealth Group.
Harga kontrak berjangka untuk diesel dan bensin juga mengalami kenaikan. Di New York, harga diesel ditutup pada angka US$4,90 per galon. Kontrak untuk kedua komoditas tersebut kini diperdagangkan pada tingkat tertinggi secara musiman yang pernah tercatat.
Terus berlanjutnya pengecualian diesel Rusia dari pasar global memaksa kilang-kilang di wilayah lain untuk meningkatkan pemrosesan minyak guna memenuhi permintaan. Trump telah menegaskan kembali bahwa Moskow akan menepati janjinya untuk melepas pasokan diesel.
Namun, serangan yang terus terjadi. Mengutip Reuters, serangan baru-baru ini terhadap kilang Ryazan di Rusia semakin menimbulkan keraguan apakah kesepakatan tersebut akan benar-benar terlaksana sesuai janji.
Para analis terus memantau perkembangan di Teluk Persia untuk melihat tanda-tanda apakah konflik di sana semakin memburuk. Dalam sebuah wawancara dengan Newsmax, Trump tidak menampik kemungkinan penggunaan senjata yang dijuluki “Induk dari Segala Bom” (Mother of all Bombs) terhadap Iran setelah pemilihan umum 3 November.
Sebelumnya pada pekan ini, CNN melaporkan bahwa AS telah menyusun rencana serangan yang mencakup penggunaan bom berdaya ledak besar yang dikenal sebagai GBU-43/B Massive Ordnance Air Blast Bomb.
“Konflik ini kemungkinan akan meningkat,” tulis para analis Eurasia Group dalam sebuah catatan, seraya menaikkan estimasi peluang eskalasi dari 35% menjadi 65%. “Status quo kebuntuan saat ini tidak lagi dapat dipertahankan bagi AS.”
AS juga berupaya meredam harga dengan memanfaatkan cadangan darurat serta melobi negara-negara lain untuk melakukan langkah serupa. Pada hari Jumat, AS menawarkan hingga 17 juta barel dari Cadangan Minyak Strategis (Strategic Petroleum Reserve).
Harga minyak mentah telah melonjak lebih dari 75% tahun ini seiring dengan perang di Timur Tengah dan Rusia yang mengganggu pasokan. Pasar fisik terus menunjukkan kondisi pasokan yang ketat; harga produk olahan seperti diesel bahkan naik lebih tajam, dengan harga kontrak berjangka (futures) untuk komoditas tersebut di Eropa meningkat lebih dari dua kali lipat tahun ini.
Lonjakan harga yang signifikan pada Jumat merupakan peristiwa yang tidak biasa di tengah pekan perdagangan yang sebelumnya cenderung bergerak dalam rentang terbatas (range-bound), padahal berbagai berita menunjukkan memburuknya kondisi ketahanan energi secara global.
Kesenjangan antara harga kontrak berjangka dan pasar fisik yang melonjak membuat para pedagang khawatir akan terjebak dalam posisi yang salah. Akibatnya, jumlah kontrak terbuka pada acuan global sempat menyentuh level terendah sejak Maret 2025 pada awal bulan ini.
Selain faktor teknis tersebut, harga minyak Brent cenderung tertinggal dibandingkan kenaikan harga acuan AS dalam beberapa sesi terakhir, sehingga mempersempit selisih harga di antara keduanya. Hal ini terjadi karena penurunan biaya pengiriman minyak dari AS turut mendorong permintaan.
Menurut data Baltic Exchange, biaya pengiriman kargo standar dari Gulf Coast (pesisir Teluk AS) ke Rotterdam telah turun sekitar 12% selama sepekan terakhir. Faktor teknis serta aktivitas penasihat perdagangan komoditas (commodity trading advisers) yang mengikuti tren pasar juga turut berkontribusi terhadap kekuatan harga relatif tersebut.