Harga Minyak Ambles 5%, Mulai Jauhi Level US$90/Barel

2026/08/29

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak mentah dunia turun tajam sepanjang pekan ini sekaligus keluar dari zona US$90 per barel.

Pada sesi perdagangan Jumat (28/8/2026) harga minyak mentah acuan Brent tercatat so US$89,31 per barel atau turun 0,43% dari hari sebelumnya. Sementara acuan WTI turun 0,16% ke US$83,4 per barel.

Sementara dalam kinerja mingguan, kedua acuan harga masing-masing ambles 5,38% dan 4,20%.

Harga minyak kembali turun setelah komentar dari Ketua baru The Fed, Kevin Warsh, yang mengisyaratkan kemungkinan kenaikan suku bunga akhir tahun ini untuk meredam inflasi, kata Phil Flynn, analis senior di Price Futures Group.

"Pasar produk (global) tampak kuat menyusul serangan lanjutan terhadap kilang minyak Rusia di Ukraina," ujar Flynn. "Namun, beredar banyak desas-desus bahwa mungkin akan ada kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz akhir pekan ini," ungkapnya dikutip dari Refinitiv (29/8/2026),

Konflik antara AS-Israel dan Iran pun telah memasuki bulan keenam pada hari Jumat.

Para pedagang memantau pemulihan arus minyak yang masih fluktuatif melalui selat tersebut-jalur yang sebelumnya mengalirkan 20% produksi minyak global sebelum perang pecah.

"Pasar dikejutkan oleh adanya aliran tambahan, koridor pelayaran Iran-Oman, serta klaim pembersihan ranjau oleh AS," kata analis Rystad, Janiv Shah.

"Penurunan harga mingguan kemungkinan disebabkan oleh volume yang dapat keluar dari selat tersebut serta kecepatan peningkatan arus minyak. Hal ini memungkinkan kilang-kilang minyak di Asia untuk mengambil dan mengonsumsi pasokan tersebut," ujarnya.

Pekan ini, AS mengumumkan apa yang mereka sebut sebagai "sanksi terberat dalam sejarah" terhadap Iran. Teheran menyatakan sanksi tersebut merupakan "tindakan tidak manusiawi dan bermusuhan" yang sebenarnya sudah tidak efektif lagi.

Para mediator tengah meningkatkan upaya agar Selat Hormuz dibuka kembali. Teheran setuju untuk menyusun daftar persyaratan guna memulihkan lalu lintas normal setelah utusan Qatar mendesak pihak Iran untuk menghormati kebebasan navigasi.

Pemulihan arus minyak melalui selat tersebut-jalur yang sebelumnya dilalui oleh 20% pasokan minyak dunia sebelum perang-masih berlangsung tidak stabil.

Data awal pelayaran pada hari Jumat menunjukkan bahwa pada hari Kamis (27/8/2026), tujuh kapal pengangkut komoditas melintasi selat tersebut; jumlah ini turun dari 17 kapal sehari sebelumnya dan berada di bawah rata-rata 15 kapal dalam 10 hari terakhir. Sementara itu, di Bab el-Mandeb-titik sempit maritim utama lainnya-tercatat 17 kapal komoditas melintas, dengan rincian enam kapal masuk dan 11 kapal keluar.
Pada hari Kamis, Goldman Sachs memperkirakan total ekspor kawasan Teluk baru-baru ini berada di kisaran 15 juta hingga 16 juta barel per hari; angka ini 7 juta hingga 8 juta barel per hari di bawah tingkat sebelum perang, namun 5 juta hingga 6 juta barel per hari di atas titik terendah pada bulan Maret.

"Dampaknya terhadap siapa yang akan tetap berada di dalam atau keluar dari OPEC, bagaimana permintaan China terpengaruh, serta apakah masalah kilang minyak global kini dapat teratasi, semuanya sangat bergantung pada situasi perang yang penuh gejolak ini," ujar John Evans, analis di PVM Oil Futures.

Para pejabat di pemerintahan Presiden Donald Trump sedang mengupayakan kesepakatan untuk mengamankan akses jangka panjang terhadap sebagian cadangan minyak mentah Venezuela, menurut sumber-sumber yang mengetahui perundingan tersebut pada hari Kamis. Langkah ini pada akhirnya dapat menurunkan biaya impor minyak.

Venezuela juga sedang mempertimbangkan untuk keluar dari kelompok produsen minyak OPEC, demikian dilaporkan oleh Bloomberg.

Secara terpisah, ketegangan geopolitik meningkat setelah Moskow memperingatkan bahwa mereka dapat menyerang target militer Inggris-baik di dalam maupun di luar Ukraina-sebagai tanggapan atas serangan Kyiv terhadap wilayah Rusia menggunakan rudal jelajah jarak jauh pasokan Inggris.

Namun, Trump menyatakan bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin tidak akan menyerang negara anggota NATO, dan ia menepis laporan media yang menyebutkan bahwa Direktur CIA John Ratcliffe pekan ini telah memperingatkan para pejabat Rusia agar tidak melakukan serangan semacam itu. Inggris merupakan negara pendiri NATO.

Militer Ukraina menyerang sebuah kilang minyak Rusia di wilayah Yaroslavl pada malam hari, menurut pernyataan Staf Umum Ukraina.

(ras/luc)