Ringkasan
GoPay berhasil melampaui Gojek dalam menghasilkan laba operasional karena pertumbuhan transaksi, pendapatan, dan aktivitas pengguna yang jauh lebih cepat. Pergeseran ini menunjukkan bahwa masa depan GoTo semakin bergantung pada layanan keuangan digital, bukan lagi semata-mata pada bisnis transportasi online.
Beberapa poin penting yang menandai perubahan tersebut antara lain:
EBITDA yang disesuaikan bisnis Fintech (GoPay) mencapai Rp481 miliar, naik 447% yoy.
EBITDA yang disesuaikan On-demand Services (Gojek) sebesar Rp464 miliar, meningkat 41% yoy.
Pendapatan bersih GoPay tumbuh 53% yoy menjadi lebih dari Rp2 triliun.
Jumlah transaksi GoPay melonjak 91% yoy menjadi 2,4 miliar transaksi.
Nilai buku pinjaman meningkat 58% yoy menjadi Rp11 triliun.
Data tersebut memperlihatkan bahwa perubahan yang terjadi bukan sekadar kenaikan pendapatan sementara. GoPay mulai menjadi sumber keuntungan yang lebih kuat dibandingkan bisnis yang selama ini identik dengan GoTo.
Direktur Utama Grup GoTo Hans Patuwo menegaskan bahwa perubahan tersebut menjadi salah satu pencapaian penting perusahaan.
"Kami mencetak laba bersih selama dua kuartal berturut-turut, dengan EBITDA Grup yang disesuaikan meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya, melampaui angka Rp1,0 triliun untuk pertama kalinya. Bisnis Fintech kami juga terus menunjukkan kinerja yang unggul. Kini, profitabilitasnya telah melebihi bisnis On-demand Services untuk pertama kalinya. Hal ini menunjukkan kekuatan dan keseimbangan ekosistem kami," ujar Hans melalui catatan tertulis yang diterima AKURAT.CO, dikutip Kamis, 30 Juli 2026.
Pernyataan tersebut menjadi sinyal kuat bahwa GoTo tidak lagi hanya mengandalkan bisnis ride hailing sebagai penopang utama keuntungan perusahaan.
Mengapa GoPay Bisa Melampaui Gojek?
Banyak pembaca mungkin bertanya, bagaimana mungkin layanan pembayaran digital bisa menghasilkan laba lebih besar dibandingkan bisnis transportasi online yang memiliki jutaan perjalanan setiap hari?
Jawabannya terletak pada perubahan perilaku pengguna dan model bisnis digital.
Dalam beberapa tahun terakhir, fungsi GoPay berkembang jauh melampaui dompet digital untuk membayar perjalanan Gojek. Kini, layanan tersebut digunakan untuk berbagai aktivitas sehari-hari, mulai dari pembayaran QRIS di merchant, transfer dana, pembelian pulsa dan paket data, pembayaran tagihan, hingga penyaluran pinjaman digital.
Semakin banyak layanan yang digunakan dalam satu ekosistem, semakin tinggi pula frekuensi interaksi pengguna. Kondisi ini membuat peluang menghasilkan pendapatan menjadi jauh lebih besar dibandingkan layanan transportasi yang frekuensi penggunaannya cenderung lebih terbatas.
Hal tersebut tercermin dari data operasional GoPay. Pada kuartal II-2026, jumlah pengguna yang bertransaksi bulanan (Monthly Transacting Users/MTU) mencapai 28,8 juta, meningkat 29% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, jumlah transaksi melonjak 91% yoy menjadi 2,4 miliar transaksi.
Lonjakan aktivitas tersebut ikut mendorong pertumbuhan nilai transaksi bruto (Gross Transaction Value/GTV) inti di luar merchant payment gateway menjadi Rp157 triliun, atau meningkat 91% yoy.
Di sisi lain, bisnis pinjaman juga berkembang pesat. Nilai buku pinjaman meningkat menjadi Rp11 triliun, naik 58% dibandingkan tahun lalu, sementara kualitas kredit tetap terjaga dengan tingkat tunggakan dan rasio kredit bermasalah (NPL) yang stabil.
Kombinasi antara pertumbuhan pembayaran digital, layanan keuangan, dan pembiayaan inilah yang menciptakan sumber pendapatan berulang (recurring revenue) yang semakin kuat bagi GoTo.
Pergeseran yang Lebih Penting daripada Sekadar Laba Bersih
Sekilas, perhatian publik mungkin tertuju pada laba bersih GoTo yang mencapai Rp252 miliar pada kuartal II-2026, setelah sebelumnya membukukan laba Rp171 miliar pada kuartal I-2026. Namun, bagi pelaku pasar dan investor, perubahan yang lebih menarik justru berada di balik angka tersebut.
Untuk pertama kalinya, GoTo menunjukkan bahwa mesin pertumbuhan perusahaan telah bergeser.
Selama bertahun-tahun, ukuran keberhasilan perusahaan teknologi transportasi sering kali dikaitkan dengan jumlah perjalanan atau nilai transaksi layanan ride hailing. Kini, indikator tersebut mulai berubah. Aktivitas pengguna di layanan keuangan digital justru menjadi faktor yang semakin menentukan profitabilitas perusahaan.
Perubahan ini penting karena karakteristik bisnis fintech berbeda dengan transportasi online. Jika layanan transportasi sangat bergantung pada jumlah perjalanan yang dilakukan pengguna, layanan keuangan digital memungkinkan satu pengguna melakukan transaksi berkali-kali dalam sehari. Semakin tinggi frekuensi penggunaan, semakin besar pula peluang perusahaan memperoleh pendapatan dari berbagai produk dan layanan dalam ekosistemnya.
Dengan kata lain, nilai ekonomi seorang pengguna GoPay berpotensi terus meningkat seiring bertambahnya layanan yang digunakan, tanpa harus bergantung pada peningkatan jumlah perjalanan menggunakan Gojek.
Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan mengapa pertumbuhan bisnis fintech kini dipandang sebagai indikator yang lebih penting dalam membaca arah transformasi GoTo dibandingkan sekadar melihat pertumbuhan bisnis transportasi.
Baca Juga: GOTO Pilih Hanguskan 32,18 Miliar Saham Ketimbang Dibagikan ke Karyawan: Apa Dampaknya bagi Pemegang Saham?
Baca Juga: Masjid Hajjah Yuliana Dibangun di Melbourne, Simbol Bakti kepada Orang Tua dan Gotong Royong Diaspora
Mengapa Gojek Tidak Lagi Menjadi Mesin Profit Utama?
Keberhasilan GoPay melampaui Gojek bukan berarti bisnis on-demand services kehilangan daya saing. Sebaliknya, laporan keuangan GoTo menunjukkan bisnis tersebut tetap mencetak kinerja positif, hanya saja perusahaan kini menghadapi dinamika industri yang berbeda dibanding beberapa tahun lalu.
Pada kuartal II-2026, bisnis On-demand Services (ODS) yang mencakup layanan transportasi dan pengantaran membukukan EBITDA yang disesuaikan sebesar Rp464 miliar, naik 41% yoy. Pendapatan bersih juga meningkat 20% yoy menjadi Rp3,59 triliun.
Namun, di sisi operasional, pertumbuhan mulai melambat. GTV ODS hanya naik 2% yoy menjadi Rp16,7 triliun, sementara jumlah pesanan yang selesai tumbuh 3% yoy.
Sekilas, angka tersebut terlihat kurang impresif dibanding pertumbuhan GoPay. Akan tetapi, kondisi itu merupakan bagian dari strategi yang sengaja ditempuh perusahaan.
GoTo memilih mengutamakan kualitas pertumbuhan dibanding mengejar volume transaksi semata. Strategi tersebut terlihat dari peningkatan margin di kedua lini bisnis utama. Margin segmen Delivery naik menjadi 2,1% dari 1,8% pada periode yang sama tahun lalu, sedangkan margin Mobility meningkat menjadi 5% dari sebelumnya 3%.
Artinya, perusahaan rela menerima pertumbuhan transaksi yang lebih moderat selama keuntungan yang dihasilkan terus meningkat.
Pendekatan ini berbeda dengan era awal persaingan layanan ride hailing, ketika perusahaan teknologi berlomba memberikan promosi besar-besaran demi memperbesar pangsa pasar. Kini, fokus mulai bergeser menuju efisiensi dan profitabilitas yang berkelanjutan.
Regulasi Komisi 8% Mengubah Peta Bisnis
Transformasi strategi GoTo juga tidak bisa dilepaskan dari perubahan regulasi pemerintah.
Mulai 1 Juli 2026, struktur komisi baru bagi layanan transportasi roda dua diberlakukan sesuai Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 532 Tahun 2026. Kebijakan tersebut membatasi komisi aplikasi menjadi maksimal 8%.
Bagi banyak pihak, aturan ini diperkirakan akan memangkas pendapatan perusahaan ride hailing. Namun, GoTo justru menilai dampaknya masih dapat dikelola.
Hans Patuwo menjelaskan bahwa bisnis transportasi roda dua hanya menyumbang sekitar 7% dari total pendapatan bersih Grup, sehingga perubahan tersebut tidak mengubah prospek perusahaan secara keseluruhan.
"Pada 1 Juli 2026, struktur komisi baru mulai diberlakukan sesuai Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 532 Tahun 2026. Struktur ini berlaku untuk bisnis transportasi roda dua Gojek, yang menyumbang sekitar 7% dari pendapatan bersih Grup. Dampak dari perubahan komisi ini akan terlihat pada laporan keuangan kuartal ketiga. Namun, setelah satu bulan berjalan, kondisi bisnis tetap stabil," ujar Hans.
Ia menambahkan bahwa perusahaan tetap mempertahankan target EBITDA Grup yang disesuaikan sebesar Rp3,2 triliun hingga Rp3,4 triliun sepanjang 2026.
"Penyesuaian ini tidak mudah, tetapi kami percaya bisa mengatasi dampaknya. Karena itu, kami tetap mempertahankan pedoman EBITDA Grup yang disesuaikan untuk setahun penuh di kisaran Rp3,2-3,4 triliun. Kami memperkirakan kontribusi dari bisnis On-demand Services akan berkurang, sementara bisnis Fintech akan memberikan kontribusi lebih besar."
Pernyataan tersebut mempertegas arah transformasi GoTo. Perusahaan tidak lagi menggantungkan masa depannya pada bisnis transportasi, melainkan memperbesar peran layanan keuangan digital sebagai penopang pertumbuhan.
Strategi Baru GoTo: Dari Ride Hailing Menuju Ekosistem Finansial
Laporan keuangan kuartal II-2026 juga memperlihatkan perubahan strategi yang cukup jelas melalui revisi target kinerja masing-masing lini bisnis.
GoTo menaikkan proyeksi EBITDA bisnis Fintech menjadi Rp1,7 triliun hingga Rp1,8 triliun, dari sebelumnya Rp1,4 triliun hingga Rp1,5 triliun.
Sebaliknya, target EBITDA bisnis On-demand Services diturunkan menjadi Rp1,4 triliun hingga Rp1,5 triliun, dari sebelumnya Rp1,7 triliun hingga Rp1,8 triliun.
Perubahan panduan tersebut bukan sekadar penyesuaian angka. Di baliknya terdapat pesan strategis bahwa mesin pertumbuhan GoTo kini berpindah dari layanan transportasi menuju layanan keuangan digital.
Ini merupakan perubahan yang cukup besar apabila dibandingkan dengan beberapa tahun lalu, ketika performa Gojek hampir selalu menjadi indikator utama dalam menilai kesehatan bisnis GoTo.
Kini, investor mulai memiliki tolok ukur baru, yakni seberapa cepat transaksi GoPay bertumbuh, seberapa besar nilai pinjaman yang disalurkan, hingga seberapa aktif pengguna memanfaatkan layanan finansial dalam ekosistem GoTo.
Apa Dampaknya bagi Investor dan Pengguna?
Perubahan komposisi laba GoTo membawa konsekuensi yang berbeda bagi investor maupun pengguna.
Bagi investor, dominasi bisnis fintech memberikan sinyal bahwa GoTo memiliki sumber pendapatan yang lebih beragam. Ketika bisnis transportasi menghadapi tekanan regulasi maupun persaingan harga, perusahaan masih memiliki mesin pertumbuhan lain yang mampu menopang profitabilitas.
Hal itu terlihat dari peningkatan GTV inti Grup sebesar 83% yoy menjadi Rp164 triliun, pendapatan bersih yang naik 31% yoy menjadi Rp5,7 triliun, serta EBITDA Grup yang disesuaikan menembus Rp1,01 triliun untuk pertama kalinya.
GoTo juga mengumumkan rencana membatalkan lebih dari 32 miliar saham tresuri, atau setara sekitar 2,7% dari total saham beredar, setelah memperoleh persetujuan pemegang saham. Langkah ini umumnya dipandang sebagai sinyal kepercayaan manajemen terhadap prospek jangka panjang perusahaan karena jumlah saham yang beredar akan berkurang.
Sementara bagi pengguna, perubahan strategi tersebut berpotensi menghadirkan inovasi layanan finansial yang lebih luas. Mulai dari pembayaran digital, transfer dana, pembiayaan, hingga berbagai layanan keuangan lain diperkirakan akan menjadi fokus pengembangan GoTo dalam beberapa tahun mendatang.
Ilustrasi Sederhana: Mengapa GoPay Lebih Menjanjikan daripada Ride Hailing?
Untuk memahami mengapa GoPay kini menjadi mesin laba baru GoTo, bayangkan dua pengguna dengan kebiasaan yang berbeda.
Pengguna pertama menggunakan Gojek untuk pergi ke kantor dua atau tiga kali dalam seminggu. Setiap transaksi memang menghasilkan pendapatan bagi perusahaan, tetapi frekuensinya relatif terbatas.
Sementara itu, pengguna kedua membuka aplikasi GoPay hampir setiap hari. Ia membayar makan siang menggunakan QRIS, mentransfer uang kepada teman, membeli token listrik, membayar tagihan internet, mengisi pulsa, hingga memanfaatkan layanan pinjaman ketika membutuhkan dana tambahan.
Dalam satu bulan, interaksi pengguna kedua dengan ekosistem GoTo bisa mencapai puluhan bahkan ratusan transaksi.
Ilustrasi sederhana ini menunjukkan mengapa bisnis fintech memiliki potensi monetisasi yang lebih besar. Semakin sering pengguna memanfaatkan layanan keuangan digital, semakin banyak pula peluang perusahaan memperoleh pendapatan dari berbagai produk dalam satu ekosistem.
Inilah yang membedakan model bisnis fintech dengan ride hailing. Nilai ekonomi seorang pengguna tidak lagi diukur dari seberapa sering ia memesan kendaraan, melainkan dari seberapa aktif ia menggunakan berbagai layanan finansial yang tersedia.
Pergeseran Ini Bisa Mengubah Peta Persaingan Industri Digital
Transformasi GoTo juga mencerminkan perubahan yang lebih luas dalam industri teknologi Indonesia.
Beberapa tahun lalu, perusahaan digital berlomba-lomba mengejar jumlah pengguna dan volume transaksi. Kini, investor semakin menaruh perhatian pada kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan yang berkelanjutan.
Dalam konteks tersebut, keberhasilan GoPay melampaui Gojek menjadi sinyal bahwa masa depan perusahaan teknologi tidak lagi hanya ditentukan oleh layanan yang paling populer, melainkan oleh bisnis yang mampu menciptakan hubungan jangka panjang dengan pengguna melalui berbagai layanan bernilai tambah.
Bagi GoTo, strategi tersebut juga membuat perusahaan lebih tahan menghadapi perubahan regulasi di sektor transportasi. Ketika salah satu lini bisnis menghadapi tekanan, lini lain masih dapat menjadi penopang pertumbuhan. Ekosistem yang saling melengkapi inilah yang menjadi keunggulan kompetitif perusahaan.
Hans Patuwo juga menegaskan bahwa pengembangan ekosistem tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan kinerja bisnis, tetapi juga memberikan manfaat bagi mitra pengemudi.
"Seiring dengan berkembangnya ekosistem, kami terus berinvestasi untuk mendukung pelanggan kami, termasuk mendukung Mitra Driver Gojek, di antaranya melalui perluasan Program Apresiasi Mitra, mulai dari BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan, Beasiswa, hingga Umrah gratis. Bagi kami, kesuksesan tidak hanya diukur dari pertumbuhan bisnis, tetapi juga dari kemajuan seluruh pihak di dalam ekosistem GoTo."
Pada akhirnya, laporan keuangan kuartal II-2026 menunjukkan bahwa pencapaian GoTo tidak hanya soal berhasil membukukan laba bersih selama dua kuartal berturut-turut. Yang lebih penting adalah munculnya babak baru dalam perjalanan perusahaan.
Untuk pertama kalinya, GoPay berhasil melampaui Gojek sebagai penyumbang profitabilitas terbesar. Pergeseran tersebut menandai perubahan fundamental dalam model bisnis GoTo, dari perusahaan yang identik dengan layanan transportasi online menjadi ekosistem digital yang semakin bertumpu pada layanan keuangan.
Transformasi ini bukan hanya penting bagi GoTo, tetapi juga menjadi gambaran bagaimana industri teknologi Indonesia mulai memasuki fase baru, yakni mengejar pertumbuhan yang sehat, profitabilitas berkelanjutan, dan ekosistem yang mampu menciptakan nilai lebih besar bagi pengguna maupun investor.
Baca Juga: Mulai 1 Juli GoTo dan Grab Terapkan Komisi 8 Persen, Komitmen DPR dan Pemerintah Kawal Aspirasi Ojol
Baca Juga: Jawaban Danantara Usai Disebut Dasco Sudah Beli Saham GoTo
FAQ
Mengapa GoPay bisa melampaui Gojek sebagai penyumbang laba GoTo?
GoPay mencatat pertumbuhan yang jauh lebih tinggi dibandingkan bisnis on-demand services. EBITDA yang disesuaikan mencapai Rp481 miliar atau naik 447% yoy, didorong oleh lonjakan transaksi, peningkatan jumlah pengguna aktif, pertumbuhan GTV inti, serta ekspansi bisnis pinjaman digital. Kombinasi faktor tersebut membuat profitabilitas GoPay untuk pertama kalinya melampaui Gojek.
Apa arti EBITDA dalam laporan keuangan GoTo?
EBITDA adalah indikator yang menggambarkan kemampuan bisnis menghasilkan laba operasional sebelum memperhitungkan bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi. Dalam konteks GoTo, EBITDA yang disesuaikan digunakan untuk menilai kinerja operasional masing-masing lini bisnis sehingga investor dapat melihat bisnis mana yang paling produktif menghasilkan keuntungan.
Apakah Gojek masih menjadi bisnis penting bagi GoTo?
Ya. Gojek tetap menjadi bagian penting dari ekosistem GoTo dengan kontribusi pendapatan yang besar. Namun, perusahaan kini melihat layanan transportasi sebagai salah satu pilar, bukan satu-satunya mesin pertumbuhan. Fintech diproyeksikan akan memberikan kontribusi yang semakin besar terhadap profitabilitas perusahaan.
Bagaimana dampak aturan komisi 8% terhadap GoTo?
GoTo memperkirakan kontribusi bisnis On-demand Services akan menurun setelah penerapan batas komisi 8% untuk layanan transportasi roda dua. Meski demikian, perusahaan tetap mempertahankan target EBITDA Grup sepanjang 2026 karena pertumbuhan bisnis fintech diperkirakan mampu mengimbangi dampak regulasi tersebut.
Mengapa investor memperhatikan pertumbuhan GoPay?
Pertumbuhan GoPay menunjukkan bahwa GoTo memiliki sumber pendapatan yang lebih berulang dan beragam. Layanan keuangan digital memungkinkan pengguna bertransaksi lebih sering dibandingkan layanan transportasi, sehingga membuka peluang pendapatan yang lebih stabil dalam jangka panjang.
Apakah GoTo kini berubah menjadi perusahaan fintech?
Belum sepenuhnya. GoTo tetap merupakan perusahaan teknologi dengan ekosistem yang mencakup transportasi, pengantaran, dan layanan keuangan. Namun, laporan keuangan terbaru menunjukkan bahwa fintech kini menjadi kontributor profitabilitas terbesar, sehingga arah pengembangan perusahaan semakin bertumpu pada layanan keuangan digital.