Gejala IMS pada Pria dan Wanita, Kapan Harus Curiga dan Periksa?

2026/10/01

Jakarta, CNN Indonesia --

Infeksi menular seksual (IMS) tidak selalu datang dengan tanda yang mudah dikenali. Seseorang bisa saja merasa sehat, tidak mengalami keluhan apa pun, tetapi tetap memiliki infeksi dan berpotensi menularkannya kepada pasangan.

Karena itu, mengenali gejala IMS tetap penting, terutama jika seseorang memiliki faktor risiko tertentu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Keluhan pada pria dan wanita pun bisa berbeda, salah satunya karena perbedaan anatomi organ reproduksi.

Dokter spesialis dermatologi, venereologi, dan estetika, Yudo Irawan mengatakan langkah pertama yang perlu dilakukan adalah mengenali risiko diri sebelum melihat ada atau tidaknya gejala.

"Jadi kita harus paham dulu, kita meng-asses diri kita, apakah kita berisiko atau tidak," ujar Yudo saat dihubungi CNNIndonesia.com, Kamis (25/9).

Menurutnya, IMS tidak hanya dapat menular melalui hubungan seksual. Beberapa infeksi juga dapat menyebar melalui darah, jarum, atau sumber paparan lain.

Faktor risiko terkena IMS

Yudo mengatakan risiko IMS dapat meningkat ketika seseorang aktif secara seksual dan memiliki sejumlah kondisi tertentu. Beberapa di antaranya:

"Misalnya, kita sudah aktif secara seksual, melakukan kontak seksual dengan multi-partner. Jadi misalnya pasangan seksualnya berganti-ganti, itu berarti sudah berisiko," ujar Yudo.

Gejala IMS pada pria dan wanita

Pilihan Redaksi

"Gejalanya ini sebenarnya sangat luas sekali ya, karena IMS itu sendiri ada banyak juga," ujar Yudo.

Pada pria, salah satu keluhan yang perlu diwaspadai adalah keluarnya cairan dari penis yang bukan urine ataupun sperma.

Yudo menyebut kondisi tersebut sebagai salah satu gambaran yang kerap dikenal sebagai "kencing nanah", terutama pada infeksi tertentu seperti gonore.

Selain itu, pria juga dapat mengalami rasa panas atau nyeri ketika buang air kecil, luka pada penis atau area genital, serta benjolan di sekitar alat kelamin, skrotum, atau selangkangan.

Keluhan di anus juga perlu diperhatikan jika seseorang pernah melakukan hubungan seksual melalui anus.

Sementara pada wanita, salah satu keluhan yang sering dikaitkan dengan IMS adalah keputihan. Masalahnya, keputihan tidak selalu berarti infeksi atau IMS.

Yudo menjelaskan wanita memang dapat mengalami keputihan normal, misalnya berkaitan dengan siklus menstruasi.

"Nah perempuan itu sendiri kan punya keputihan yang normal, bahkan kalau mau menstruasi keputihan ada, atau baru selesai menstruasi bisa keputihan juga," ujarnya.

Yang perlu diperhatikan adalah ketika keputihan mengalami perubahan yang tidak biasa. "Ini adalah keputihan yang abnormal, ya jadi biasanya warnanya sudah aneh-aneh, baunya juga sudah aneh-aneh," kata Yudo.

Perubahan warna, bau, jumlah, maupun karakter cairan vagina dapat menjadi tanda yang perlu diperiksakan, terutama jika disertai keluhan lain seperti gatal, nyeri, rasa panas ketika buang air kecil, atau nyeri panggul.


Kenapa gejala pria dan wanita bisa berbeda?

Menurut Yudo, perbedaan utama gejala IMS pada pria dan wanita berkaitan dengan anatomi tubuh. "Perbedaan signifikannya itu ya lokasi, karena kan ada perbedaan anatomis, organ-organnya berbeda, sehingga gejala-gejalanya juga bisa berbeda," katanya.

Pada pria, cairan akibat infeksi tertentu dapat lebih mudah terlihat karena keluar melalui lubang kencing. Sementara pada wanita, cairan dapat berasal dari vagina sehingga keluhannya lebih sering dikenali sebagai keputihan.

Yudo juga menjelaskan bahwa pada beberapa infeksi, waktu munculnya keluhan dapat berbeda. Ia menyebut gejala pada pria dapat muncul lebih cepat, sedangkan pada wanita cairan atau infeksi tertentu dapat berada lebih lama di dalam saluran reproduksi sebelum menimbulkan keluhan.

Meski demikian, perbedaan tersebut tidak berarti IMS hanya menyerang organ reproduksi. Infeksi juga dapat menimbulkan keluhan di area lain, termasuk anus atau tenggorokan, bergantung pada jenis infeksi dan lokasi paparan.

[Gambas:Video CNN]

Ini bagian yang sering terlewat, tidak adanya gejala bukan berarti seseorang pasti bebas IMS. Yudo secara khusus mencontohkan HIV dan sifilis sebagai infeksi yang dapat berjalan tanpa gejala yang jelas.

"Contohnya HIV dan sifilis, itu adalah infeksi yang bisa berjalan dalam diam," ujarnya.

Karena itu, orang yang aktif secara seksual dan memiliki faktor risiko sebaiknya tidak hanya mengandalkan muncul atau tidaknya keluhan "Jadi bagaimana kita tahu kita kena IMS atau tidak? Ya tentunya kita harus memeriksakan diri," kata Yudo.

Pemeriksaan merupakan bagian dari menjaga kesehatan seksual, terutama bagi orang yang sudah aktif secara seksual.

"Untuk orang yang sudah aktif secara seksual itu jangan takut, jangan ragu, jangan segan, jangan malu untuk periksa IMS, ada yang namanya pemeriksaan screening," katanya.

"Kalau sudah aktif secara seksual, rutinlah periksa untuk IMS ini. Paling tidak setahun sekali atau dua kali," ajaknya.

(anm/fef)