Gejala burnout, penyebab, dan cara mengatasinya

2026/08/05

Jakarta (ANTARA) - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memasukkan burnout dalam International Classification of Diseases (ICD-11) sebagai fenomena yang berkaitan dengan pekerjaan, bukan sebagai penyakit medis. WHO menjelaskan burnout ditandai dengan kelelahan energi, meningkatnya jarak mental terhadap pekerjaan, serta menurunnya efektivitas dalam bekerja.

Kondisi burnout tidak hanya membuat seseorang merasa lelah secara fisik, tetapi juga dapat memengaruhi emosi, hubungan sosial, dan kemampuan menyelesaikan aktivitas sehari-hari.

Burnout dapat muncul secara bertahap sehingga sering kali tidak disadari. Beberapa tanda yang umum terjadi antara lain:

Baca juga: Kiat mencegah stres pada anak dengan bermain-istirahat-belajar

Baca juga: Perbedaan "burnout" dengan "post holiday blues"

1. Kelelahan fisik dan emosional

Seseorang yang mengalami burnout biasanya merasa kehilangan energi, mudah lelah, serta sulit merasa segar meskipun sudah beristirahat.

Rasa lelah tersebut tidak hanya berkaitan dengan aktivitas fisik, tetapi juga tekanan pikiran akibat beban yang terus menumpuk.

2. Kehilangan motivasi

Burnout dapat membuat seseorang kehilangan semangat dalam menjalankan pekerjaan atau aktivitas yang sebelumnya disukai.

Penderita dapat merasa tidak tertarik, sulit memulai pekerjaan, dan merasa bahwa usaha yang dilakukan tidak memberikan kepuasan.

3. Menurunnya produktivitas

Kesulitan berkonsentrasi, sering menunda pekerjaan, dan merasa kemampuan diri menurun menjadi beberapa tanda burnout.

Kondisi ini dapat membuat seseorang merasa tidak mampu mencapai target yang sebelumnya mudah dilakukan.

4. Perubahan emosi

Burnout dapat menyebabkan seseorang menjadi lebih mudah marah, sensitif, merasa frustrasi, atau menarik diri dari lingkungan sekitar.

5. Gangguan fisik

Selain berdampak pada kondisi psikologis, burnout juga dapat disertai keluhan fisik seperti gangguan tidur, sakit kepala, serta masalah pencernaan.

Baca juga: Psikolog: “Burnout” dan kelelahan fisik beda secara psikologis

Baca juga: Tekanan media sosial hingga karir picu “burnout” pekerja muda

Burnout biasanya terjadi karena kombinasi berbagai faktor, terutama tekanan yang berlangsung dalam waktu lama.

Beberapa penyebab yang sering dikaitkan dengan burnout antara lain:

1. Beban kerja berlebihan

Tuntutan pekerjaan yang tinggi, jam kerja panjang, serta target yang terus meningkat dapat menyebabkan seseorang mengalami kelelahan berkepanjangan.

2. Kurangnya keseimbangan hidup

Ketika seseorang terlalu fokus pada pekerjaan hingga tidak memiliki waktu cukup untuk keluarga, teman, istirahat, atau aktivitas pribadi, risiko burnout dapat meningkat.

3. Kurangnya dukungan lingkungan

Lingkungan kerja yang tidak mendukung, komunikasi yang buruk, atau merasa bekerja sendirian dapat memperbesar tekanan psikologis.

4. Tidak memiliki kendali terhadap pekerjaan

Seseorang yang merasa tidak memiliki ruang untuk mengambil keputusan atau mengatur cara bekerja dapat lebih rentan mengalami stres berkepanjangan.

Baca juga: Kenali ciri-ciri burnout akibat pekerjaan dan pemulihannya

Burnout perlu ditangani dengan perubahan kebiasaan dan pengelolaan stres yang tepat. Berikut beberapa cara yang dapat dilakukan:

1. Kenali penyebab stres

Langkah pertama adalah memahami hal apa yang menjadi sumber tekanan. Dengan mengetahui penyebabnya, seseorang dapat mencari solusi yang lebih tepat.

2. Atur waktu istirahat

Istirahat yang cukup, menjaga pola tidur, dan memberikan waktu bagi diri sendiri penting untuk membantu proses pemulihan energi.

3. Buat batasan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi

Membatasi waktu kerja serta memberikan ruang untuk aktivitas di luar pekerjaan dapat membantu menjaga keseimbangan hidup.

4. Berkomunikasi dengan orang lain

Berbicara dengan keluarga, teman, rekan kerja, atau pihak yang dipercaya dapat membantu mengurangi beban pikiran.

5. Lakukan aktivitas yang mendukung kesehatan mental

Olahraga ringan, melakukan hobi, meditasi, atau kegiatan yang menyenangkan dapat membantu mengelola stres.

6. Cari bantuan profesional jika diperlukan

Jika burnout sudah mengganggu kehidupan sehari-hari, seseorang dapat berkonsultasi dengan psikolog atau tenaga kesehatan mental untuk mendapatkan bantuan yang sesuai.

Pencegahan burnout dapat dilakukan dengan menjaga keseimbangan antara tuntutan pekerjaan dan kebutuhan pribadi. WHO menyebut pengelolaan risiko psikososial di tempat kerja, seperti perbaikan beban kerja, komunikasi, dan dukungan lingkungan, menjadi bagian penting dalam mengurangi stres kerja.

Dengan mengenali gejala sejak awal dan menerapkan pola hidup yang lebih seimbang, seseorang dapat mengurangi risiko burnout serta menjaga kesehatan fisik dan mental dalam jangka panjang.

Baca juga: Alasan sebagian pekerja mudah mengalami burnout

Baca juga: Psikiater soroti tiga gejala pertanda pekerja mulai alami "burnout"

Baca juga: Pekerja disarankan luangkan waktu hindari burnout

Pewarta: M. Hilal Eka Saputra Harahap
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.