Gebyar Melayu Pesisir perkuat warisan budaya dan UMKM

2026/09/20

Gebyar Melayu Pesisir perkuat warisan budaya dan UMKM

Minggu, 20 September 2026 09:31 WIB

Image Print

Sekdaprov Kepri Misni (dua dari kanan) menabuh gendang pada pembukaan penyelenggaraan Gebyar Melayu Pesisir 2026 digelar di K Square, Kota Batam, Kamis (17/9/2026). ANTARA/Diskominfo Kepri

Tanjungpinang (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau (Pemprov Kepri) menyebut Gebyar Melayu Pesisir (GMP) yang digelar 14-20 September 2026 di Kota Batam menjadi ajang memperkuat warisan budaya dan ekonomi UMKM lokal.

"Kami mengapresiasi Bank Indonesia (BI) atas konsistensinya membangun sinergi bersama pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan melalui penyelenggaraan Gebyar Melayu Pesisir setiap tahun," kata Sekretaris Daerah (Sekda) Kepri Misni di Batam, Sabtu.

Misni menilai GMP 2026 menjadi ruang kolaborasi strategis karena tidak hanya menghadirkan promosi produk usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM), tetapi juga mendorong peningkatan kapasitas pelaku usaha dan perluasan jejaring bisnis.

Hal itu tercermin dari rangkaian Road to GMP yang meliputi kurasi UMKM, onboarding digital, export coaching program, business matching ekspor dan pembiayaan, showcasing UMKM, hingga pelatihan tenun.

"Artinya, kegiatan ini tidak berhenti pada promosi produk, tetapi menyentuh aspek peningkatan kapasitas dan perluasan jejaring usaha," ujar Misni.

Sekda menyatakan UMKM merupakan salah satu fondasi penting dalam struktur perekonomian daerah, karena itu pengembangan UMKM tidak cukup hanya berorientasi pada peningkatan jumlah pelaku usaha, melainkan harus diarahkan pada peningkatan produktivitas, kualitas, inovasi, kapasitas manajerial, serta perluasan akses pasar.

Digitalisasi, lanjutnya, menjadi bagian penting dalam proses tersebut agar UMKM Kepri mampu beradaptasi dengan perubahan perilaku konsumen dan berkompetisi di pasar yang semakin terbuka.

Selain itu, Misni turut menyampaikan Kepri juga memiliki keunggulan tersendiri dalam pengembangan UMKM, karena kekayaan budaya dan warisan Melayu yang hidup di tengah masyarakat.

Wastra, tenun, tudung manto, kuliner, kerajinan, seni, serta berbagai produk kreatif tidak hanya menjadi ekspresi kebudayaan, tetapi juga memiliki potensi ekonomi yang besar.

"Pelestarian budaya harus ditempatkan bukan hanya sebagai upaya menjaga identitas, namun sebagai proses menciptakan nilai tambah ekonomi berbasis kekayaan intelektual dan kreativitas masyarakat," ujar Misni.

Ia turut menekankan pentingnya perluasan digitalisasi sistem pembayaran, termasuk pemanfaatan QRIS.

Menurutnya sistem pembayaran yang mudah, cepat, aman, dan inklusif akan membantu pelaku usaha memperluas jangkauan konsumen sekaligus memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam bertransaksi.

"Mari manfaatkan kanal pembayaran digital, termasuk QRIS antarnegara sebagai bagian dari kesiapan masyarakat Kepri memasuki ekosistem ekonomi regional dan global," ucapnya.

Misni berharap sinergi antara pemerintah daerah, Bank Indonesia, dunia usaha, lembaga pembiayaan, komunitas, dan seluruh pemangku kepentingan terus diperkuat.

Dengan kolaborasi tersebut, UMKM Kepri diharapkan semakin naik kelas, berdaya saing, dan mampu menembus pasar domestik maupun internasional.

"Pada saat yang sama, budaya Melayu diharapkan terus berkembang sebagai sumber inovasi, kreativitas, identitas, serta nilai tambah ekonomi bagi masyarakat Kepri," demikian Misni.

Pewarta : Ogen
Editor: Yuniati Jannatun Naim
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.